Aksi Sederhana untuk Bumi

(Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia)

World-Environment-Day-2014Hari lingkungan hidup diperingati pada tanggal 5 Juni disetiap tahunnya. Sejak digelar pada tahun 1972, hari lingkungan menjadi media bagi PBB melalui UNEP (The United Nations Environment Program) sebagai sarana mengampanyekan akan pentingnya kelestarian lingkungan, serta berupaya untuk mengubah kebiasaan hidup manusia yang bertentangan dengan konsep pembangunan berkelanjutan.

Pada tahun 2015 ini perayaan hari lingkungan hidup mengangkat tema Seven Billion Dreams. One Planet. Consume with Care. Yang memiliki arti tujuh miliar manusia dengan berbagai mimpi, tinggal dalam satu-satunya planet yang dapat dihuni, dan berupaya merubah pola konsumsi agar labih perduli lingkungan.

Pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang terjadi diberbagai belahan dunia, memberikan dampak terhadap meningkatnya limbah domestik serta maraknya pembukaan lahan untuk memperluas industri, perkebunan, perumahan dan pemanfaatan sumberdaya alam melalui proses pertambangan yang turut mengubah bentang alam dan memiliki andil besar dalam kerusakan ekosistem di bumi.

Diperkirakan pada tahun 2050 jumlah manusia mencapai 9,6 milyar, jika pola konsumsi tetap pada kondisi saat ini, dimana manusia dalam beraktivitas hanya memanfaatkan sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui dengan tidak bijaksana dan terus melakukan ekspansi lahan untuk pembangunan suatu negara, maka terang jelas kestabilan ekosistem bumi akan terganggu dan area hutan lambat laun akan semakin berkurang.

Maka dari itu sesuai dengan harapan UNEP dalam tema hari lingkungan di tahun 2015, perlu kiranya melakukan perubahan pola konsumsi dan gaya hidup manusia agar lebih ramah lingkungan. Dimana segala bentuk perubahan tersebut akan lebih efektif dan efesien jika bermula dari rumah, dengan merubah kebiasaan hidup yang selama ini secara tidak disadari telah mencemari lingkugan. Bukankah sesuatu yang kecil tetapi dilakukan oleh banyak orang maka akan berakumulasi menjadi sesuatu yang besar.

Adapun berbagai kebiasaan yang dapat diubah dimulai dari rumah sendiri adalah:

Pertama, Mengurangi penggunaan plastik. Berbagai aktivitas manusia kini tak dapat dipisahkan dengan hadirnya plastik. Diperkirakan ada 500 juta sampai 1 milyar kantong plastik yang digunakan manusia selama satu tahun. Dalam produksinya membutuhkan 12 juta barel minyak per tahun, dan 14 juta pohon ditebang. Dimana dari proses produksinya ini, plastik telah menghasilkan jutaan ton gas rumah kaca yang mempengaruhi perubahan iklim.

 Penggunaan plastik juga menghadirkan permasalahan setelah pemakaian, diperkirakan sebanyak 100.000 hewan laut dan satu juta burung mati karena menelan dan tersedak sampah plastik. Plastik juga memiliki sifat sulit terdegradasi dan membutuhkan waktu hingga 100 tahun agar dapat terurai sempurna, sehingga hal ini berpotensi dalam mencemari tanah, air, bahkan udara.

Adapun langkah preventif dapat dilakukan untuk mengurangi dampak penggunaan plastik diantaranya dengan menolak kantong plastik belanjaan selagi masih bisa ditenteng atau disatukan dengan kantong belanjaan yang ada. Membawa kantong belanja sendiri dari rumah ataupun jika memiliki waktu dan kreatifitas dapat melakukan daur ulang limbah plastik menjadi berbagai kerajinan sederhana.

Kedua, Penghematan energi. Sumber energi dunia masih bergantung pada energi fosil yang tidak dapat diperbaharui dan menghasilkan emisi gas rumah kaca. Langkah penghematan energi dapat membantu mengurangi beban produksi, disamping juga dapat menghemat biaya pengeluaran rumah tangga.

Langkah penghematan tersebut diantaranya dengan menggunakan lampu hemat energi, karena lebih hemat energi hingga delapan kali dibandingkan lampu pijar. Diusahakan untuk tidak menggunakan peralatan listrik berdaya listrik besar saat beban puncak 17-22. Disamping itu, memanfaatkan sinar matahari sebagai penerang utama rumah pada siang hari. Serta jangan meninggalkan peralatan elektronik dalam keadaan stand by karena listrik tetap mengalir sebesar 5%.

Ketiga, Membiasakan membeli produk lokal. Dengan membeli produk lokal kita telah berpartisipasi dalam membangun ekonomi nasional, ditambah lagi dengan tidak membeli produk impor kita telah mencegah terciptanya emisi gas rumah kaca dan penggunaan bahan bakar minyak akibat dari distribusi produk tersebut.

Pembelian buah dan sayuran impor membutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses distribusi hingga dapat dikonsumsi. Hal ini akan menurunkan nutrisi yang terkandung dalam buah dan sayur tersebut, belum lagi kemungkinan buah dan sayur tersebut telah diberi bahan pengawet yang berdampak buruk bagi kesehatan manusia.

Keempat, Penghematan energi bahan bakar ketika berada di perjalanan dengan berbagai cara yaitu dengan menggunakan moda transportasi umum jika memungkinkan. Selalu mencek tekanan ban kendaraan, karena apabila tekanan kurang 0,5 bar dari kondisi normal akan meningkatkan penggunaan bahan bakar sebesar 5%. Matikan mobil apabila menunggu lebih dari 30 detik di traffic light. Menghindari menggunakan rem secara mendadak karena mengonsumsi bahan bakar dengan cepat. Mengurangi bawaan dalam mobil yang tidak perlu, mengurangi 30 kg barang dapat mengefesiensi 2% pemakaian bahan bakar.

Kelima, Berkebun dan melakukan penghijauan. Kebiasaan berkebun mulai ditinggalkan oleh masyarakat saat ini, padahal kegiatan ini bermanfaat disamping untuk memperindah halaman rumah, bisa mendapatkan keuntungan ketika memanen buah dan sayur segar tanpa membeli, disamping itu usaha dalam menanam tanaman dan pohon akan bermanfaat dalam menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen, Pohon juga mampu menyerap dan menyimpan air hujan untuk menghidari banjir dan menjadikannya sebagai air tanah, cadangan air pada musim kemarau.

Banyak sekali hal-hal sederhana yang dapat dilakukan dalam usaha untuk melestarikan lingkungan. Berbagai usaha penghematan yang dilakukan juga bermanfaat untuk mengurangi biaya pengeluaran. Berawal dari rumah, dari hal yang sederhana, dan dilakukan secara terus menerus, maka kiranya lingkungan akan menjadi lebih baik di masa mendatang.

Saatnya mengintrsopeksi diri dan berhenti mencari kambing hitam atas pencemaran lingkungan yang marak terjadi sekarang ini, karena sedikit atau banyak kita pribadi juga memiliki andil atas kerusakan lingkungan yang terjadi. Diakhir tulisan ini penulis mengutip pepatah Indian Kuno yang menyentil kita bersama.

“Jika pohon terakhir telah ditebang, jika sungai terakhir telah tercemar, jika ikan terakhir telah ditangkap. Baru manusia akan sadar bahwa mereka tidak akan bisa makan uang”

Sumber Gambar: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s