Mewaspadai Alih Fungsi Lahan Gambut  

small_93-ilus-opinil-010615-Mewaspadai000Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Media kalimantan edisi Senin, 1 Juni 2015. MErupakan pandangan saya atas maraknya alih funsgi lahan gambut di wilayah Kalimantan Selatan menjadi lahan permukiman, pergudangan dan perkebunan. 

***

Kalimantan Selatan memiliki luas lahan gambut sebesar 331.629 Ha, hal ini tak bisa disandingkan dengan provinsi tetangga, Kalimantan Tengah yang mencapai 3.010.640 Ha. Lahan gambut sendiri merupakan lahan marjinal yang memang sulit untuk dimanfaatkan. Akan tetapi, karena keterbatasan lahan produktif yang sering kali terpencar-pencar dan memiliki luas area yang mulai menipis, lahan gambut kini mulai dilirik sebagai lahan pertanian dan perkebunan besar. Hal ini juga dilandasi karena area lahan gambut lebih jarang penduduk yang bermukim, sehingga dapat meminimalisir konflik tata guna lahan.

Bahkan karena keterbatasan lahan di Kalimantan Selatan, lahan gambut kini berubah wajah menjadi komplek permukiman dan kawasan pergudangan. Truk-truk besar membawa tanah hilir mudik menguruk lahan basah ini hingga menjadi padat dan siap untuk didirikan bangunan.

Penulis menyambut gembira gejolak pembangunan masa sekarang ini. Bagaimana kita sudah mulai memanfaatkan lahan marjinal yang selama ini dibiarkan tidur. Akan tetapi, perlu juga kiranya untuk mewaspadai dampak alih fungsi lahan ini, terutama dari segi lingkungan. Karena telah diketahui bersama bahwa lahan gambut merupakan ekosistem yang memiliki biodiversitas yang tinggi. 

Gambut pada awal pembentukannya berasal dari sisa-sisa tanaman yang telah mati. Pembentukan gamut diduga terjadi antara 6.800-4.200 tahun yang lalu. Dari gambaran tersebut dalam pembentukannya gambut membutuhkan waktu yang panjang, dengan kecepatan pertumbuhan hanya 0-3 mm per tahun.

Secara kimia lahan gambut memiliki tingkat kemasaman yang relatif tinggi dengan kisaran pH 3-5. Hal ini mengakibatkan lahan gambut memiliki tingkat kesuburan rendah karena kandungan unsur haranya rendah dan mengandung beragam asam-asam organik yang sebagian bersifat racun bagi tanaman.

Secara struktur gambut mirip seperti spon yang memiliki berjuta ruang tipis dan mampu menyerap banyak air. Kadar air pada tanah gambut berkisar antara 100 – 1.300% dari berat keringnya. Artinya bahwa gambut mampu menyerap air sampai 13 kali bobotnya.  Dengan demikian, sampai batas tertentu, kubah gambut mampu menjadi penyangga ketersediaan air di musim kemarau.

Satu hal yang menjadi masalah ketika pemanfaatan lahan gambut yang tidak sesuai dengan kaidah dan perencanaan yang matang adalah terjadinya dampak negatif yang cenderung mengganggu kestabilan lingkungan.

Sebagai contoh pembuatan drainase yang lazim untuk lahan pertanian dan perkebunan di lahan gambut jika tak dikelola secara baik malah akan menimbulkan masalah penurunan permukaan lahan (amblas). Pada musim kemarau, tanah gambut yang tidak mengandung air akan menjadi padat. Gambut yang kering akan menjadi hidrofobik
(menolak air).

Apabila kubah gambut sudah mengalami amblas dan penciutan setebal satu meter, maka lahan gambut tersebut akan kehilangan kemampuannya dalam menyangga air sampai 9.000 m3 per ha. Dengan kata lain pada musim penghujan maka area terdekat dari lahan gambut akan menerima banyak air yang masuk. Hal inilah cenderung berpotensi terjadinya banjir.

Sebaliknya, ketika terjadinya musim kemarau, maka cadangan air yang dapat diterima oleh daerah sekelilingnya menjadi lebih sedikit dan daerah sekitarnya akan rentan kekeringan. Disamping itu akibat pengeringan lahan gambut ini menjadikan gambut menjadi granular dengan kondisi ini kembali akan menurunkan produktivitas tanah dan rentan terhadap erosi.

Lahan gambut juga memiliki kemampuan untuk menyerap karbon yang tinggi, sehingga berkontribusi dalam mengurangi gas rumah kaca. Setiap ketebalan satu meter dapat menyimpan karbon hingga 500 ton/ha. Apabila lahan gambut dibuka dan didrainase, maka karbon tersimpan pada gambut akan mudah teroksidasi menjadi gas CO2.

 Kebiasaan warga atau perusahaan yang membuka lahan gambut dengan cara dibakar juga sangat berpotensi dalam mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer berupa CO2, CH4 dan N2O. Untuk tahun normal Hatano (2004) memperkirakan kedalaman gambut yang terbakar sewaktu pembukaan hutan sedalam 15 cm. Apabila kandungan karbon gambut ratarata adalah 50 kg per m3 maka dengan terbakarnya 15 cm lapisan gambut akan teremisi 275 ton CO2/ha

Pemanfaatan lahan gambut sebenarnya mengalami dilema. Dimana Indonesia dalam protokol Kyoto diminta untuk mengurangi laju emisi dengan tidak membuka lahan gambut agar tidak melepas gas ruma kaca. Tetapi kebijakan pemanfaatan lahan gambut perlu dilakukan akibat ketersediaan lahan potensial yang terbatas untuk pembangunan di Indonsisa seperti pertanian dan perkebunan.

Maka dari itu ada baiknya kita bersama mulai berupaya untuk mencegah kerusakan lahan gambut akibat salah pengelolaan lahan gambut yang notabenenya sangat sensitif dan rentan mengalami perubahan sifat fisik dan kimia. Usaha konservasi sederhana dapat dilakukan untuk mencegah hal tersebut, diantaranya adalah:

Mencegah kebakaran lahan gambut dengan memperhatikan kemampuan  daya  dukung  lahan  gambut  yang berhubungan  erat  dengan  karakteristik Gambut itu sendiri. Pada kondisi jenuh air gambut  lebih  stabil  dibandingkan  dengan  kondisi  kering  dan  bahkan  apabila kondisi  lahannya  terlalu  kering gambutnya  menjadi  mudah  terbakar.  Dengan demikian, pengelolaan air yang baik menjadi dasar dalam pemanfaatan lahan gambut ke depan. Disamping itu perlu juga kiranya dilakukan pengawasan oleh pihat terkait agar tidak terjadi pihak yang tidak bertanggung jawab melakukan pembakaran lahan secara sengaja.

Pemilihan tanaman pertanian dan perkebunan juga harus sesuai dengan karakteristik lahan gambut. Dimana ketebalan gambut lebih dari tiga meter diharapkan tidak dilakukan pembukaan lahan. Hal ini karena memiliki kesuburan yang rendah, karena dekomposisi yang terjadi bersifat anaerob (tanpa oksigen), ditambah lagi lapisan tersebut mengikat cadangan karobon yang sangat tinggi. Sehingga apabila lahan tersebut dimanfaatkan maka akan mengemisikan karbon yang tinggi ke atmosfer.

Peran pemerintah daerah juga menjadi penting dalam pemberian ijin beroperasinya pertanian dan perkebunan besar di lahan gambut, dengan regulasi yang ketat diharapkan para pengusaha dan masyarakat dapat dengan bijak memanfaatkan lahan gambut agar dapat terus dimanfaatkan dan tidak menjadi lahan bongkor. Secara umum agar dapat tercipta pembangunan yang berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan.

Sumber Gambar: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s