Berat, Memang Berat

Beban beratBerat, sangat berat rasanya untuk memulai, mengubah kebiasaan yang telah lama selalu terulang. Berat memang melawan kemalasan itu. Entah dari mana aku memungutnya dan lalu memeliharanya. Kata orang bijak di sana, jika kita menanam padi maka yang tumbuh adalah padi plus rumput-rumput liar yang mengganggu. Berbeda jika kita tak menanam apa-apa, maka lahan itu tetap akan ditumbuhi oleh rumput liar, tak perduli kita menginginkannya atau tidak.

Berat, sangat berat sebuah awal untuk membentuk kebiasaan yang baik. Ternyata berat sebuah ketekunan itu, seperti mengasah pisau yang sudah berkarat, membutuhkan waktu dan tenaga untuk mengembalikannya menjadi tajam. Tak Cuma hanya sekedar sekali dua kali mengasahnya dengan batu sungai.

Berat, memanglah berat. Perjuangan orang-orang yang telah besar pastinya berdarah-darah, tak terbendung lagi keringat yang mengalir. Tak terhitung lagi waktu yang dihabiskan. Dan diri ini hanya melihat ia yang telah berada di angkasa, memang seseorang yang berada di tempat yang tinggi akan mudah terlihat. Tapi usahanya untuk sampai di tempat tersebut, itu yang tak pernah aku lihat.

Berat, kenyataan memanglah berat. Waktu yang selama ini aku sia-siakan. Untuk mengamati sesuatu yang tak berarti. Selalu terbujuk oleh para pengganggu yang selalu saja memberikan wacana kebaikan tapi ternyata hanya kehampaan.

Bandung, 28 Mei 2015

Sumber Gambar: Klik

Iklan

2 thoughts on “Berat, Memang Berat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s