[Cerpen] Munafik

munafikAku memiliki sebuah pertanyaan yang masih saja belum terjawab. Sebuah pertanyaan sederhana dan semua orang akan menjawab hal yang sama. Tapi kenyataannya, hampir semua melanggarnya. Sebuah pertanyaan tentang kejujuran. Semua orang dengan bersemangatnya, dengan keteduhan wajahnya menjawab. Dalam segala sesuatu kita harus berbuat jujur, tak perduli jika kejujuran itu menyakitkan, karena hasil akhirnya akan berbuah manis.

Ahh, aku sama sekali tak pernah percaya akan jawaban mereka. Jika kejujuran wajib hukumnya dijalankan. Lantas mengapa negara kita masih miskin, pejabat di pemerintahan makin kaya saja, dan Mak Minah harus di penjara karena enggan menjual tanah warisan orang tuanya kepada pengusaha pertambangan. 

Lantas aku pribadi bertanya dalam diri, kejujuran seperti apa yang dimaksudkan oleh semua orang di negara ini. Apakah kejujuran yang hanya manis di bibir lalu dilupakan seiring lidah dibasahi air minum ataukah kejujuran yang benar-benar mengakar dan tak tergoyahkan pada rayuan jenis apapun? Aku hanya mampu menyenderkan tubuhku pada dinding mushola, tak kuasa benar diri ini untuk menjawab pertanyaan yang penuh dengan jawaban retoris ini.

“Denis, ayo kerja, ruang rapat belum dibereskan.”

Rekan kerjaku membangunkan aku pada kenyataan. Aku lantas bangkit, membersihkan ruang rapat yang dipenuhi sisa coffe break. Berada di tempat ini aku hanya bisa menelan air liur. Makanan yang beraneka rupa dan warna sungguh menarik hati untuk memakannya, tapi itu bukanlah yang utama. Karena yang mengganggu konsentrasiku adalah melihat masing-masing orang berdasi dan stelan jas yang rapi itu ditemani oleh sekertaris cantik, berpakaian seksi.

Aku heran, wanita itu sedang menulis notulen atau membangkitkan libido lelaki disebelahnya. Sering sekali ia memainkan rambut, sambil melempar senyum manja, sedangkan belahan dada dan paha seperti berlomba keluar dari sarangnya. Betapa enak sekali laki-laki yang berada di ruangan ini. Atas nama rapat besar yang prestesius ia bergelimangan makanan, ditemani wanita, dan diakhir acara ia akan mendapatkan transfer dana yang tidak sedikit. Hanya duduk lima jam di ruangan yang megah ini, ia mendapatkan puluhan bulan gaji yang kudapat.

Betapa tidak adilnya dunia ini kurasa. Yah, aku mengakui bahwa tingkat pendidikanku tak setara dengan mereka yang lulusan dari universitas, sedangkan aku hanya lulusan kejar paket A. tapi masih ada satu hal yang kusangsikan, apa mereka mendapatkan gelar keserjanaan itu dengan kejujuran? Jangan-jangan setiap ujian ia menyontek, tugas akhir dikerjakan oleh orang lain, atau bahkan ia hanya membeli ijazah pada kampus yang hanya mementingkan uang semata. Bukan menjadi rahasia di negeri ini, pendidikan tinggi hanya dicerminkan pada selembar kertas ijazah. Sedangkan keilmuan yang dimiliki di otak mereka, aku tak yakin ada isinya.

Aku pulang kerja di pukul lima. Jalanan mulai merayap pada kemacetan. Sekarang ini sepertinya semua orang bisa membeli motor, sebagian besar mampu mengkredit mobil dan sayangnya pemerintah bersembunyi dibalik meja ketika ditanya kapan waktunya memperlebar dan menambah ruas jalan, atau solusi konkrit menghilangkan kemacetan. Sepertinya pemerintah hanya pandai berjualan motor dan mobil, tanpa bisa menumbuhkan prasarana. Mungkin saja besok-besok kita hanya mampu membeli kendaraan tanpa bisa digunakan.

Dan semua orang memilih berjalan kaki di bawah tanah, ketika melihat di jalanan motor dan mobil tak mampu bergerak mundur apalagi maju. Dan semua orang mencari polisi, lalu polisi akan mati dihukumi masyarakat, karena tak mampu mengurai kemacetan. Lalu keamanan tak terkendali. Penjarahan akan banyak terjadi, kerusuhan kembali lagi, ekonomi negara bangkrut, nilai tukar rupiah tak berharga apa-apa.

Bayangkan betapa bahayanya negara ini hanya karena satu masalah saja. Padahal akar segala-galanya adalah pada satu pertanyaan yang tak mampu aku jawab. Seberapa berperankah kejujuran itu?

 Ketika lama pikiranku mengahayalkan apa yang terjadi di dunia ini, tiba-tiba motorku tak bisa bergerak cepat. Sial, ban motorku ternyata kempes.. Aku mencari tukang tambal ban, kutemukan ia sedang sibuk melayani banyak pelanggan. Aku mendapatkan antrian ke empat.

“Pak, sepertinya ban dalamnya harus diganti. Ini pentil banya lepas?”

“Apa? Kok bisa pak, saya tadi merasa bocornya kecil saja. Masih bisa dijalankan.”

“Tapi kenyataannya seperti ini, pak.” Tukang tambal itu memperlihatkan pentil dan ban dalam yang sudah terlepas dengan nada yang tinggi.

Ahh, aku hanya menunduk sedih, melihat masa depan bangsa ini. Sepertinya akan menjadi pekerjaan berat bagi orang-orang baik negeri ini untuk mengubah nasib bangsa. Karena kejujuran sudah mulai hilang di negeri ini. Bukan saja pejabat, pengusaha, atau menteri-menteri di negeri ini, bahkan tukang tambal ban yang berpenghasilan pas-pasan berani menggadaikan hati nuraninya untuk keuntungan kecil dari harga ban dalam.

Aku sangsi apakah kejujuran masih ada tepatri pada setiap diri manusia di negeri ini. Atau jangan-jangan kejujuran itu hanyalah cerita dongeng pengantar tidur untuk anak-anak. Dan setelah dewasa kita akan mengetahui, seperti apa wujud dunia ini sebenarnya. Bukan tentang kebaikan dan kejahatan, tapi tentang nurani dan kemunafikan nurani. Hanya sesederhana itu dan siapa yang memilih untuk menjadi munafik dan mendustakan diri sendiri.

Bandung, 20 April 2015

Sumber Gambar: Klik

Iklan

7 thoughts on “[Cerpen] Munafik

  1. 🙂 saya jadi ingat ketika pertama kali menginjakan kaki di Jakarta. Saya terbawa alur ceritanya hingga merasakan nyata. Gimana bisa buat cerpen sebagus ini??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s