Menjadikan Kota Banjarmasin sebagai Waterfront City

Alhamdulillah, tulisan ini telah dimuat di harian Media kalimantan edisi 2 Mei 2015. Mengenai sebuah harapan saya agar Banjarmasin yang mendapat julukan Kota Seribu Sungai dapat memaksimalkan potensinya untuk menjadi kota waterfront city pertama di Indonesia. 

***

Banjarmasin waterfrontcityKota Banjarmasin yang mendapatkan julukan sebagai kota seribu sungai terus berbenah untuk menghidupkan kembali sungai sebagai denyut nadi kota seperti pada zaman kejayaannya dulu. Di masa Kolonial Belanda, Banjarmasin menjadi bandar pelabuhan penting untuk kapal-kapal dari jawa, arab dan singapura yang berlabuh di Pulau Kalimantan. Pada masa itu keberadaan sungai merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan masyarakat dari berbagai wilayah. Di samping itu aktifitas perdagangan sehari-hari juga diselengarakan di sungai, hingga saat ini masyarakat luas mengenalnya sebagai pasar terapung.

Pandangan Kota Banjarmasin sebagai kota sungai terlihat jelas dengan banyaknya masyarakat membangun rumah panggung yang dibangun berdampingan menghadap sungai dan juga rumah-rumah lanting (rumah terapung) yang berada di atas tepian sungai. Sungai pada masa itu juga berfungsi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan konsumsi air minum. Sehingga wajar saja, sungai bagi Masyarakat Banjar tempo dulu ibarat sebuah rumah dan jiwa yang harus selalu bersih dan lestari.

Pengaruh Kolonialisasi Belanda yang dimulai tahun 1860 secara tidak langsung mengubah orientasi masyarakat akan sungai. Ditandai dengan pembuatan jalan darat yang menghubungkan berbagai wilayah, berangsur-angsur masyarakat mulai membangun rumah dekat dengan akses jalan darat. Ditambah lagi perkembangan zaman yang memproduksi kendaraan bermotor sebagai alat transportasi darat membuat masyarakat perlahan meninggalkan jukung mereka sebagai alat transportasi.

Sehingga saat ini lahan permukiman di Banjarmasin semakin meluas dan padat, mengikuti akses jalan darat yang terus dikembangkan. Wilayah tepian sungai yang dulu menjadi pusat Kota Banjarmasin, berubah menjadi kawasan permukiman liar, hal ini dikarenakan masyarakat yang mengandalkan akses transportasi darat mengubah pandangan mereka dengan membangun rumah ‘membelakangi’ sungai.

Hal ini jelas menimbulkan permasalahan lebih besar seperti penyempitan alur sungai, penggerusan tebing sungai, hilangnya sungai—tertutup oleh bangunan maupun permukiman, serta menurunnya kualitas air sungai sebagai akibat dari kebiasaan warga yang membuang limbah domestik langsung ke sungai.

Banyaknya permasalahan yang muncul seiring ditinggalkannya sungai sebagai jiwa Masyarakat Banjar sangat disayangkan, pertama karena Banjarmasin merupakan salah satu kota besar yang dialiri banyak sungai, seharusnya hal ini bisa menjadi potensi menjadikan Banjarmasin sebagai waterfront city modern pertama di Indonesia. Keunikan ini dapat pula menjadi daya tarik untuk para wisatawan untuk datang dan berpotensi menarik minat para investor untuk menanamkan modalnya di kota ini. Kita tentunya ingin melihat Banjarmasin berubah wujud menjadi kota-kota sungai di Eropa seperti Venice di Italia dengan hunian bersih di tepian sungai ataupun London Docklands di Inggris yang menjadi pusat bisnis yang indah.

Pemerintah Banjarmasin memang tidak tinggal diam melihat potensi ini. Terlihat upaya pemerintah dengan membangun ruang terbuka publik dengan konsep riverwalk di tepian Sungai Martapura. Penanganan drainase, normalisasi sungai mati, serta revitalisasi sungai dari permukiman kumuh telah dilakukan pemerintah untuk menghidupkan kembali kejayaan Banjarmasin sebagai kota sungai.

Langkah salanjutnya, perlu mengubah kembali pandangan masyarakat modern di Banjarmasin yang menganggap sungai hanya sebagai ‘halaman belakang’ rumah. Hal inilah yang sebenarnya menjadi hambatan utama pemerintah untuk mengembalikan sungai sebagai ‘halaman depan’ rumah masyarakat banjar. Perubahan kebiasaan dan pola pikir ini diharapkan mengembalikan fungsi sungai kembali normal dan bersih, karena masyarakat mana yang mau melihat halaman depan rumahnya kotor, kumuh dan berbau?

Perubahan pola pikir masyarakat akan pentingnya fungsi sungai tentunya akan berdampak pada perbaikan kondisi sungai di lapangan serta meningkatkan citra Kota Banjarmasin sebagai pionir waterfront city modern di Indonesia. Walaupun, menurut penulis untuk kembali menghidupkan sungai sebagai jalur transportasi utama dirasa cukup berat, karena masyarakat telah dimudahkan dengan akses jalan darat yang nyaman, murah dan efektif. Setidaknya kembali normal fungsi sungai di Kota Banjarmasin nantinya akan membuat bangga Masyarakat Banjar untuk terus membangun banua menjadi kota metropolitan berkonsep waterfront city.

 Sumber Gambar: Klik

Iklan

2 thoughts on “Menjadikan Kota Banjarmasin sebagai Waterfront City

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s