Biarkan Sang Calon Pemimpin Berpromosi

Setelah sekian lama, akhirnya tulisanku bisa kembali dimuat pada surat kabar Banjarmasin Post edisi 28 April 2015. Semoga dimuatnya tulisan ini menjadi pemantik semangat buat diriku pribadi untuk terus menulis. Yang jelas aku masih meyakini, bukanlah bakat yang menjadikan manusia menjadi besar, melainkan ketekunan dan kesabaran untuk tetap terus berusaha.

***

(Tanggapan Atas Tulisan Sainul Hermawan)

 Pemimpin berpromosiMasyarakat mungkin telah jengah dan bosan ketika musim pemilu tiba. Ini, lantaran area pinggir jalan dipenuhi oleh baliho atau reklame yang menampilkan foto calon anggota dewan atau kepala daerah yang akan bersaing di pemilihan umum. Atau berbagai stiker yang menempel pada kaca belakang atau bodi mobil dan angkutan umum, serta ketika foto-foto mereka tampil setiap hari di suratkabar dan televisi lokal.

Sebagian masyarakat mungkin tak mempedulikan hal ini. Sebagian lagi mungkin saja berpikir, untuk apa membuang-buang uang sekian banyak hanya untuk mempromosikan sebuah nama dan foto pada sebingkai baliho yang tak akan dilihat secara seksama oleh pengguna jalan. Hal ini sama seperti yang dituliskan Sainul Hermawan pada opini yang berjudul ‘Diri dan Representasi’ (Banjarmasin Post, 28 April 2015).

Bagaimana ia menegaskan bahwa foto dan sedikit kata-kata harapan tak mampu menggambarkan citra diri seutuhnya, seperti kelebihan, kelemahan atau sifat-sifat yang melekat pada diri seseorang.

Mungkin benar bahwa foto bersifat statis, rancu, dan tak bisa menumbuhkan informasi yang lebih mengenai kualifikasi atau kemampuan calon pemimpin. Bahkan, gambaran diri dari sebuah foto akan menumbuhkan kesan yang formal, elite atau malah menimbulkan ‘jarak’ terhadap rakyat kecil.

Pandangan-pandangan tersebut memang benar adanya. Tapi ketika berbicara tentang pemilihan umum, terkadang masyarakat pada kalangan tertentu dihadapkan pada sosok calon pemimpin yang acap kali masih asing di benak mereka. Ketika mereka tak mengenal nama dan rupa calon pemimpin yang bersaing di pemilihan umum, bisa dipastikan mereka juga tak mengetahui track record para calon pemimpin yang akan mereka pilih.

Maka baliho, reklame dan media sejenisnya adalah sebuah media promosi untuk memberikan sedikit informasi kepada pemilih. Adapun dalam berpromosi, juga harus memiliki strategi dalam pemasaran. Di antaranya adalah dengan menciptakan tagline yang menarik, sehingga menarik minat seseorang untuk membaca. Langkah kedua adalah dengan menghadirkan sosok pada sebuah foto. Ini jelas tujuannya agar promosi tepat pada calon yang dimaksud. Yang ketiga, dicantumkannya ajakan untuk memilih sang calon, agar maksud dibuatnya media promosi dapat terwujud.

Adapun mengenai rangkaian kata politis yang biasanya disertai bersamaan dengan foto sang calon merupakan hal yang wajar. Pada suatu strategi pemasaran, terutama yang bersifat publikasi di jalan, maka hal yang harus dilakukan adalah dengan menampilkan inti gagasan yang ingin disampaikan sang calon. Kita tak bisa menuliskan seluruh bentuk track record, kelebihan, implementasi atau tindakan yang akan dilakukan sang calon terpilih ke dalam suatu media seperti baliho, reklame, atau stiker di mobil atau angkutan umum.

Hal ini dikarenakan ketika berada di jalan, kita tak memiliki waktu yang banyak untuk membaca. Di samping itu kita tak bisa fokus, karena pada dasarnya fokus pikiran kita berada pada kendali kemudi kendaraan yang sedang dikendarai. Walaupun pemasangan iklan melalui media ini, memiliki keuntungan karena dapat bertahan cukup lama dalam memberikan informasi kepada masyarakat.

Pemasangan iklan pada media cetak, suratkabar harian, tabloid ataupun majalah, juga menjadi pilihan sang calon dalam berpromosi. Akan tetapi juga memiliki kekurangan seperti jangkauan media cetak baik surat kabar harian, tabloid maupun majalah yang terbatas pada kalangan pembaca tertentu saja dan biaya iklan yang dinilai cukup mahal untuk satu kali pemasangan, tergantung pada besar kecil kolom dan warna.

Begitupula ketika sang calon berpromosi di televisi. Di samping memiliki keuntungan dapat menampilkan gambar bergerak yang memungkinkan sang calon bisa menghidupkan pencitraan dirinya dengan interaksinya dengan masyarakat kecil ataupun memberikan citra lebih dengan suara yang mungkin saja menghadirkan sebuah kewibawaan. Tetapi promosi melalui televisi juga memiliki kekurangan yaitu biaya yang cukup mahal, dimana tayangan iklan berdurasi sepuluh detik pada jam tayang utama bisa mencapai angka jutaan rupiah. Dan, juga waktu penayangan yang cukup singkat, sehingga pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat tentang suatu informasi juga cukup terbatas.

Apa yang dilakukan oleh calon pemimpin yang bersaing pada pemilihan umum dengan menggunakan berbagai media promosi ini adalah suatu yang lumrah di negara demokrasi di dunia. Karena sang calon memiliki keterbatasan waktu dan fisik dalam bersosialisasi dengan masyarakat di berbagai daerah. Karena itu, ketidakmerataan sosialisasi yang dilakukan calon pemimpin setidaknya bisa tertutupi melalui media promosi yang mereka lakukan.

Dilakukannya promosi atau iklan yang jor-joran di berbagai tempat dan media sedikit banyak juga akan mempengaruhi pilihan dari pemilih yang masih ragu atau yang masih belum memiliki pilihan pada seorang calon. Hadirnya promosi dan iklan yang kerap pemilih temui akan tersimpan dalam memori bawah sadar, sosok yang mereka lihat, yang mereka baca secara sepintas gagasan kepemimpinannya mungkin saja nantinya menjadi bahan pertimbangan pemilih ketika berada di bilik suara.

Permasalahan mungkin timbul ketika jalan-jalan dipenuhi oleh baliho dan reklame yang terkadang mengganggu keindahan dan keteraturan di jalan raya. Sebenarnya menghadapi hal ini pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam pemberian izin pemasangan baliho dan reklame. Di samping itu juga pemerintah berhak menetapkan daerah steril dari pemasangan media promosi di jalan atau fasilitas umum. Sehingga terciptanya keharmonisan antaramasyarakat dan calon pemimpin yang berpromosi.

Hal yang terpenting dari semua ini bagaimana masyarakat bisa memilih calon pemimpin yang terbaik untuk daerah kita. Benar kiranya maksud tulisan dari Sainul Hermawan bahwa media promosi yang dilancarkan calon pemimpin tidak bisa merepresentasikan diri mereka seutuhnya kepada calon pemilih. Tapi sayangnya, seberapa banyak masyarakat yang peduli untuk mencari tahu kelebihan dan kelemahan dari masing-masing calon.

Berikan ruang bagi calon pemimpin untuk mempromosikan dirinya melalui media-media yang menurut mereka strategis, selagi mereka mematuhi aturan yang berlaku. Dan, tugas kita sebagai masyarakat yang sadar berpolitik tentunya merangkul dan menumbuhkan kesadaran berpolitik kepada masyarakat luas. Dengan demikian, masyarakat bersemangat mencari tahu sendiri kelebihan dan kelemahan masing-masing calon, bagaimana track record mereka dalam panggung politik dan kepemimpinan.Pada akhirnya kita mampu memilih pemimpin yang benar-benar bersih, jujur dan terbaik untuk daerah dan banua kita.

Sumber Gambar: klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s