[Cerpen] Lahir Kembali

ReinkarnasiSuasana sunset di Jimbaran sore itu tak begitu ramai dari biasanya. Mungkin karena hujan yang turun setengah jam yang lalu membuat manusia enggan menghabiskan waktu di ruang terbuka.  Udara dingin yang disisakan hujan masih belum beranjak pergi, sedangkan matahari yang tadinya bersembunyi di balik awan muncul kembali dan bersiap untuk bersembunyi lagi di balik tabir bumi.

Tak ada yang mengalahkan ketenangan saat ini, semua manusia yang ada di tempat ini dibuat syahdu, oleh ombak yang berkejaran, oleh pasir yang lembut dijejakkan, oleh semburat jingga yang meneduhkan.

Ada sepasang manusia yang duduk berdampingan, diiringi pendar cahaya lilin yang baru saja dinyalakan. Setiap kalimat yang berhasil mereka katakan ditutup dengan senyum yang menawan. Segala kebahagiaan sedang meluap di dada mereka.

“Capek, ya, jalan-jalan terus hari ini?” tanya Tirta kepada kekasihnya, Mina.

“Capek, sih. Tapi, kalau jalan-jalan ke tempat yang baru, apalagi berdua dengan kamu. Rasanya aku selalu punya tenaga baru untuk terus berjalan.”

“Ahh, kamu ini pintar sekali merayu,” jawab Tirta sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas kaca.

“Ngomong-ngomong, besok kita jalan kemana lagi, Tir? Kita harus jelajahi seluruh Bali sebelum kembali lagi ke Kalimantan,” tanya Mina dengan penuh semangat.

Tirta menengok ke arah Mina dengan tatapan lembut, “Perlu waktu sebulan untuk menjelajahi seluruh keindahan Bali, Min. Kita sudah ke Lovina, Ubud, Kuta, Kintamani, Sanur dan lain-lain. Pagi Lusa kita harus pulang. Besok hari terakhir kita jalan-jalan” jelas Tirta sambil tertawa kecil.

 “Yah,” Mina memasang wajah cemberut, padahal dia sudah tahu tentang rencana kepulangan mereka sejak awal.

“Nanti kalau kita sudah menikah kita atur jalan-jalan lagi. Mau kemana kamu? Aceh, Lombok, atau Sulawesi..”

“Papua,” sodor Mina dengan antusias sebelum Tirta selesai menyebutkan pilihannya, tapi setelah itu dia cemberut lagi, “Tapi kamu pasti ngga punya waktu lagi kalau sudah sampai Kalimantan. Proyek inilah, tender itulah. Macam-macam deh nanti alasannya.”

“Ke Papua mahal, aksesnya masih belum nyaman untuk backpacker seperti kita ini, he..” Tirta mencubit hidung Mina,” Yah, itukan resiko punya calon suami kontraktor. Tapi, aku pasti nabung sedikit demi sedikit buat modal kita jalan-jalan. Janji, destinasi selanjutnya kita jelajahi seluruh tempat indah yang ada di sana.”

Mina sumringah mendengarnya, “Sebulan, ya. Awas kalau seminggu doang.”

“Iya, kalau diberi kesempatan.”

Tirta kini memeluk Mina dari samping dan mengecup keningnya dengan lembut. Tiga perempat tubuh matahari telah tenggelam. Cahaya jingga mewarnai seluruh laut dan lukisan indah alam kini tergambar dengan eloknya. Ombak masih saling kejar mengejar dan Jimbaran dipenuhi dengan nyala lilin di setiap meja makan. Tak ada yang tahu, Tirta dan Mina yang duduk berdampingan menyimpan segala kebahagiaan yang diinginkan semua manusia.

***

Seminggu setelah kepulangan Tirta dan Mina dari bali, mereka kini larut dengan kegiatan masing-masing. Tirta kini sibuk dengan proyek pengerasan jalan di kawasan Kapuas, sedangkan Mina menjalani rutinitasnya menjadi apoteker di salah satu apotek di Banjarmasin. Mereka kini jarang bertemu, rindu-rindu yang bertumpuk hanya diobati melalui telepon.

Sebulan setelah kepulangan mereka dari Bali. Tirta bekerja keras untuk memenuhi target waktu penyelesaian proyek. Selepas itu dia akan cuti beberapa minggu untuk melangsungkan pernikahan dengan Mina. Sebaliknya di sela bekerja, Mina menyempatkan diri mengurus segala keperluannnya untuk menikah. Baju pengantin, tempat resepsi, catering, hingga hal-hal kecil yang acapkali memusingkan kepala.

“Akhirnya selesai juga, nih proyek. Tinggal mengurus laporan-laporan,” Tirta menghembuskan napas panjang, matanya yang sembap karena terlalu banyak begadang,  asyik melihat langit-langit rumah kontrakan, “Sebentar lagi kita bertemu, sayang. Setelah ini aku janji untuk mencari pekerjaan yang tak membuat kita selalu terpisah. Tak apa gaji sedikit, terpenting kita selalu bertemu.”

 Bunyi dering telepon membuyarkan lamunan Tirta, “Jam empat pagi dan sudah ada telepon yang masuk, oh, betapa tak ber-keprimanusiaannya pekerjaan ini!”

Bergegas dia mengangkat gagang telepon.

“Haloo, Tirta, kamu kah itu..?” belum sempat mengucapkan salam pembuka, sang penelpon telah mendahului dengan tergesa.

“Iya, benar. Ini siapa, ya?”

“Ini Randy, Tir. Kakaknya Mina..” masih dengan napas memburu sang kakak berbicara tanpa jeda.

“Ada apa dengan Mina, Kak?” kini Tirta yang tak sabar akan maksud Randy.

“Mina, Tir, Mina..” ada isak tangis di ujung telepon sana, yang menahan segala maksud tersampaikan.

“Ada apa dengan Mina, Kak!” Kini Tirta yang kehilangan ketenangannya, muncul raut kekhawatiran yang mendalam dari wajahnya.

“Minaa.. Minaa meninggal, Tir!”

Mendengar itu segala organ tubuh Tirta layaknya terkunci, jantung terasa berhenti berdetak, paru-paru sekejap berhenti bernapas, matanya hanya melihat bayang-bayang.

“Aa.. Apaa yang terjadi, Kak?” air mata Tirta yang kini mengalir deras.

“Terjadi perampokan di apotek Mina malam tadi. Polisi juga heran mengapa tujuan perampokannya bukan Bank ataupun toko emas,” Randy berhenti untuk menahan isak tangisnya, agar bisa berbicara dengan jelas, “Tapi, mungkin karena pengamanan di apotek 24 jam Mina yang tak terjaga ketat. Karena kepanikan salah satu perampok yang mendapat perlawanan dari rekan kerja Mina, salah satu perampok menembakan tembakan ke berbagai arah dan mengenai tepat jantung Mina, Tir.”

“Tidak mungkin..!”

“Itu keterangan yang diberikan polisi setelah menanayakan saksi mata dan pelaku perampokan sedang dalam pengejaran.”

“Tidak mungkin…!” Tirta berteriak keras dan menghempaskan gagang telepon ke dinding.

***

Dua puluh dua tahun setelah peristiwa kematian Mina, Tirta kini berubah total. Dia tak pernah memikirkan lagi urusan asmaranya, yang dipikirannya hanyalah bekerja dan bekerja. Hingga akhirnya dia kini menempati posisi direktur di salah satu perusahan kontraktor terbesar di Kalimantan. Sayang, kesuksesannya hanya dia nikmati sendiri, tak ada anak maupun istri tempat dia berbagi.

“Selamat pagi Bapak Tirta. Sekertaris bapak yang baru sekarang sudah mulai masuk bekerja, kini dia sudah berada di ruangan bapak,” jelas resepsionist di lobi ketika Tirta baru tiba di kantornya.

“Oh ya, terima kasih,” jawab Tirta dingin, dan langsung pergi tanpa senyum.

Banyak perubahan yang dialami Tirta, senyumannya telah hilang sejak dua puluh dua tahun yang lalu, kini sikapnya dingin kepada siapa saja. Ada sesuatu dalam diri Tirta yang menghilang ketika Mina telah tiada, dan itu jelas tak terganti.

“Selamat Pagi, saya mau melihat CV anda. Tolong berikan ke meja saya,” kata Tirta tanpa basa basi setelah membuka pintu ruangannya, tanpa melihat dulu siapa yang menjadi lawan bicaranya.

Sang sekertaris baru terlihat sangat panik atas permintaan Tirta. Langsung saja dengan tergesa dan gemetar dia memberikan berkas yang diminta oleh pimpinannya.

“Inii, Pak.”

Tirta langsung menyambar berkas di dalam map, lagi-lagi tanpa melihat lawan bicaranya. Memeriksa dengan sekilas dan langsung berujar. “Fresh graduate, ya. Nama Mirna Anjani…”

Sejenak Tirta terdiam kaku, seperti ada sesuatu yang salah dengan nama itu, lalu dia mencoba melihat sekertaris baru yang berada di depan mejanya. Setelah melihat sekertaris barunya, Tirta makin terkejut, mulutnya terbuka dengan lebar, tak menyangka. Tirta seperti membatu karena tatapan Medusa. Sang sekertaris yang bernama Mirna, jelas salah tingkah. Apakah ada yang salah dengan penampilannya? Atau ada yang salah dengan dirinya?

Setelah sempat beberapa saat hening, Mirna mencoba membuka percakapan, “Bapak, apa ada yang salah dengan CV yang saya buat?” buka Mirna dengan terbata.

Tirta masih terdiam, tatapannya masih menusuk tajam ke arah Mirna.

“Bapak..” kali ini Mirna mengucapkan lantang mencoba membangunkan lamunan pimpinannya.

Tirta gelagapan ketika ditegur sekertarisnya, berkas yang ada ditangannya jatuh limbung ke bawah. Berusaha menguasai keadaan dia langsung berdeham tak tentu.

“Ehm, ehm. Iya, Mirna. Selamat untuk kamu, semoga betah di perusahaan ini,” Tirta langsung membuang muka menutupi rasa malunya, “Oh iya, minggu depan kita akan berangkat ke Papua. Ada urusan yang perlu diselesaikan di sana.”

“Baik, Pak,” jawab Mirna dengan heran. Dia tak mempunyai pengalaman dalam perjalanan dinas keluar kota. Dia hanya mengiyakan, tanpa mengetahui apa tugas seorang sekertaris kelak di sana.

***

“Mohon maaf, Pak. Apakah saya boleh bertanya?”

Tanya Mirna sambil duduk di pagar teras bungalow, di suatu pagi ketika Tirta sedang menikmati kopi luwak. Keindahan pagi yang tertandingi dengan deburan ombak serta sepinya pantai dari aktivitas manusia.

“Iya, ada apa, Mir?”

“Mohon maaf sebelumnya, sudah dua minggu kita berada di Papua. Kenapa kita habiskan dengan liburan, tanpa ada jadwal untuk pertemuan bisnis atau semacamnya, Pak.”

“Kamu tidak senang?” tanya balik Tirta dengan dingin.

Mirna kembali gugup, “Ee, senang sekali, Pak. Pemandangan di tempat ini sangat indah. Hanya saja saya bingung, bukankah kemarin bapak bilang kita akan menyelesaikan urusan di Papua?”

Tirta tersenyum lebar, lalu dia memeluk pinggul Mirna dari belakang. “Yah benar, inilah urusan yang saya maksud.”

Mirna berubah ketakutan sekali, dia langsung menghindar dari tangan nakal pimpinannya, “Bapak, mohon jangan kurang ajar dengan saya,” kata Mirna Tegas. Kini Mirna dan Tirta saling berhadapan.

  “Saya tidak kurang ajar dengan kamu, saya hanya menempati permintaan yang pernah kamu ucapkan dulu.”

Mirna makin kebingungan dengan pimpinannya, “Saya tak pernah meminta apa-apa dari Bapak.”

“Dulu, di kehidupan kamu yang dulu, kamu pernah memintaku untuk pergi ke Papua. Dulu memang aku tak bisa mewujudkannya, tapi sekarang aku bisa, Min. Aku menepati keinginanmu, Mina.”

“Cukup, Pak, saya tak mengerti maksud pembicaraan ini. Saya tak pernah meminta apapun dari Bapak. Dan saya juga bukan Mina. Saya Mirna.”

“Kamu memang bukan Mina, tapi kamu adalah reinkarnasi Mirna…” ada kata tertahan yang tak bisa dikeluarkan oleh Tirta. “Aku telah menunggu kehadiranmu sejak dulu, Mir. Aku bersabar untuk menunggumu kembali hadir di sisiku,” kini Tirta menangis tersedan.

“Saya bukan Mina, Pak. Dan saya belum pernah bertemu Bapak sebelumnya,” tegas Mirna dan air matanya keluar karena ketakutan.

“Wajahmu, Mir, Wajahmu mirip sekali dengan Mina. Namamu menyerupai namanya. Tanggal lahirmu, tepat sehari setelah kematian Mina. Hobimu sama persis dengannya. Dan ada satu yang tak bisa kamu tipu dariku. Hatiku, Mir, hatiku berdesir hebat ketika aku menatapmu untuk pertama kali. Kamu lah jawaban atas penantianku selama ini, kamu adalah sosok Mina yang lahir kembali ke dunia.”

“Cukup, Pak, saya sama sekali tak mengerti. Saya bukanlah Mina, saya adalah Mirna. Saya bukanlah sosok yang bapak kenal sewaktu muda dulu, saya tetaplah menjadi Mirna di kehidupan saat ini. Tolong jangan membuat saya takut atas pikiran aneh yang Bapak miliki,” tutup Mirna tegas, lalu dia berbalik masuk ke kamar dengan isak tangis yang keluar tak henti.

Tirta terduduk lemas di lantai bungalow. Dia sangat terpukul atas kenyataan ini, dia tak pernah mengerti, penantiannya selama ini adalah kesia-siaan. Mina telah tiada, dan tidak ada yang mengganti sosoknya. Mina tak pernah terlahir kembali dan Tirta membeku atas kesedihannya. Dan detik ini dia baru berusaha untuk melupakan Mina beserta bayang-bayangnya. Mina telah tiada dan hal inilah yang baru diyakini Tirta, setelah dua puluh dua tahun dia menunggu.

Pelaihari, 4 Maret 2014

 Sumber Gambar: klik

Iklan

2 thoughts on “[Cerpen] Lahir Kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s