[Cerpen] Ketika Mak Minah menjadi Batu  

malin_kundang (1)Sudah menjadi tabiat Damarawang di saat matahari akan terbenam mematut diri dalam lamunan panjang. Menghayal untuk bisa menjadi saudagar yang memiliki istri cantik jelita. Akan tetapi apalah daya, Damarawang hanyalah seorang anak dari janda miskin yang menggantungkan hidup pada ladang berpindah yang mereka urus di setiap harinya. Tinggal pada sebuah gubuk di pedalaman hutan, impian-impian besarnya hanyalah laksana daun kering pada lantai bumi ini, berserakan.

“Mengapa dirimu selalu termenung dikala Kariwaya menjadi bayangan raksasa di waktu senja seperti ini?” Mak Minah langsung duduk berdampingan dengan anaknya. Mengelus pundak dengan penuh kasih. 

Sebelum pertanyaan itu terjawab Mak Minah memerintah, “Lekaslah mandi, hari hampir gelap. Jangan lah dirimu membuang minyak tanah hanya untuk berjalan pulang ke rumah.”

“Apalah arti mandi, berharum-harum badan jika diri ini tak ada pendamping untuk memeluk di dinginnya malam, Mak. Emak juga pasti sadar, umur ananda ini telah cukup untuk berumah tangga.”

“Oh, ohh, jadi ini yang membuat anak emak yang gagah selalu termenung. Sudah benar siapkah dirimu untuk memiliki pendamping, karena istri bukanlah sekedar teman di dinginnya malam. Ia adalah amanah yang akan terus kamu bawa.”

“Ananda telah memiliki keyakinan, Mak. Tapi yang membuat hati ini meragu, takutnya diri ini tak bisa membiyayai hidup istri dan anak kelak. Tak tega rasanya jika setiap hari kuberi makan ia singkong beserta daunnya saja. Ananda ingin memperbaiki hidup ini, Mak. Pergi ke kota, merantau dan bekerja segala rupa untuk mendapatkan modal meminang istri.”

Mak Minah terkejut mendengar keinginan sang anak. “Mengapa dirimu berpikir jauh seperti itu. Sudah hilangkah kecintaanmu akan tanah kelahiran ini. Sudah tak adakah lagi yang harus dikerjakan di tanah yang subur ini, atau sudah bosan benar dirimu hidup bersama Emak yang tua ini?”

“Bukan, Mak. Ananda mencintai tanah ini, walaupun nyamuknya selalu kelaparan. Tak perduli sunyi dan lembabnya malam di Hutan Meratus ini. Diri ini juga tak berniat untuk mencampakan Emak, satu-satunya hal yang paling berharga. Ananda hanya ingin mencoba memperbaiki hidup ini, Mak. Tak ada kemajuan rasanya jika tubuh yang muda ini hanya berletih-letih di hamparan ladang. Ananda ingin melihat dunia luar, yang katanya kejam tapi memberikan banyak peluang. Ananda berjanji segera kembali pulang, jika sukses telah di tangan, Emak akan kubawa meninggalkan tempat yang sunyi ini. Menuju kota yang sungainya dihilir-mudiki perahu berisi aneka rupa barang.”

Mak Minah menghela napas panjang, “baiklah jika itu keinginanmu. Jangan lupa untuk kembali, Burung Enggang saja tahu jalan pulang setelah lama terbang. Jangan biarkan Emakmu ini mati menahan rindu kepada anak satu-satunya.”

“Baiklah, Mak. Ananda tak akan lupa untuk pulang.”

***

Berbulan-bulan sudah Damarawang merantau ke kota, berganti-ganti pekerjaan dari kuli bangunan, penjual makanan sampai supir perahu. Segala kerja ia lakukan hingga badannya benar-benar letih. Tak perduli siang atau pun malam, ia terus mencari peluang. Kesibukannya telah membuat lupa dengan sang ibu.

Tahun bertemu tahun, dengan perjuangan penuh semangat kini Damarawang telah menjadi saudagar kecil, penjual bambu, kayu dan rotan yang datang dari hulu sungai. Ia menjadi pemasok sebagian besar kebutuhan kota. Jadilah ia sekarang orang terpandang. Berbaris-baris wanita melirik manja ingin dipinang, datang dan pergi manusia menawarkan anak perawannya diperistri Damarawang, hingga ia memilih sebuah kembang yang sedang mekar penuh kewangian di kota ini. Berita cepat menjalar, mengalahkan laju burung untuk terbang. Sampailah hal ini terdengar di telinga Mak Minah yang jauh berada di pedalaman hutan.

Betapa bangganya Mak Minah ketika mendengar kabar anaknya, Damarawang menjadi saudagar hasil hutan di kota. Tak percaya ia akan kabar Damarawang akan memperistri putri saudagar kaya yang mashur sejak dahulu. Bersemangatlah Mak Minah untuk pergi ke kota. Beratus-ratus pal jauhnya menghiliri sungai untuk bisa bertemu dengan sang anak. Dikenakannya pakaian terbaik yang senantiasa ia pakai ketika menjual hasil ladang di hari senin.

Sampailah Mak Minah di depan pintu masuk. Melihat dengan jelas betapa tampannya sang anak berdamping pada wanita yang berparas jelita. Lekas ia menghambur mendekati Damarawang, tak perduli akan antrian tamu yang ingin bersalaman. Ia berlari dengan perut kosong hasil mual yang ia dapat ketika berada di perahu. Ia menghapus air mata kebahagiaannya semakin mendekat kepada sang anak yang kini telah menjadi orang terhormat.

“Damarawang, betapa gagahnya dirimu kini, berpakaian kuning menyialukan mata. Berparas putih bersih, seperti tak pernah terterpa matahari siang,” Mak Minah berlekas memeluk Damarawang.

Ditepisnya dengan halus tubuh kurus Mak Minah

“Ibu siapa dan darimana asalnya. Berbudilah dalam bertamu, ikuti barisan agar teratur,” kilah Damarawang, tertunduk malu tak mengaku pada sang ibu.

Bagai petir yang menyambar tiba-tiba, Mak Minah terkejut tak terkira, “tak salah dengarkah aku atas ucapannmu. Lupakah kamu akan Emakmu yang membesarkan, mendidik dan senantiasa menasehatimu ini?”

“Maaf, Ibu,” mata Damarawang berpaling pada sang pengawal yang sedari tadi ragu mengambil tindakan.

Tak perlu lama pengawal itu beraksi dengan membawa Mak Minah keluar dari ruangan. Tangis meraung-raung dari mulut Mak Minah, seakan tak percaya sang anak tak mengaku keberadaan ibunya. Berubahkah wajah Mak Minah atau sudah hilang ingatan Damarawang akan sosok ibunya yang menghabiskan hidup di pedalaman Hutan Meratus.

Hujan dan petir tiba-tiba melanda kota. Membasahi tubuh Mak Minah yang telah terusir, jatuh dipinggir jalan. Remuk redam hati Mak Minah. Tak menyangka waktu telah merubah perangai anaknya. Di saat hujan lebat itulah Mak Minah berdoa khusuk pada sang Tuhan. Dan tak lama petir menyambar.

***

Para tamu undangan pernikahan Damarawang keluar melihat keanehan yang terjadi setelah petir menyambar tempat itu. Terlihat sebongkah batu yang menyerupai seorang wanita tertelungkup. Ialah Mak Minah, seorang ibu yang menjadi batu. Karena kasih sayangnya yang sangat dalam pada sang anak ia berdoa agar dirinya menjadi batu. Agar sakit hati yang ia rasakan tak menjadi azab untuk keburukan sang anak. Agar tubuh tua ini, tak menjadi beban pikiran sang anak yang telah menjadi orang terhormat. Biarlah Mak Minah menjadi batu, agar tak mengganggu kebahagiaan anaknya, Damarawang, yang telah lupa akan ibu dan tanah kelahiran. Mungkin kesalahan Damarawang hanyalah lupa. Lupa yang menjadikan cinta tulus sang ibu membatu.

Sumber Gambar: klik

Iklan

2 thoughts on “[Cerpen] Ketika Mak Minah menjadi Batu  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s