Pendapatan Per Kapita sebagai Indikator Kemakmuran Rakyat suatu Negara

Setelah lebih satu tahun lamanya setelah tulisan ini diposting di blog ini. Akhirnya aku mencoba untuk mengirimkan tulisan ini di surat kabar harian. Dan akhirnya, alhamdulillah tulisan ini berhasil dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Kamis, 2 Juni 2016. Tulisan ini merupakan tugas kuliah Ekonomi dan Valuasi Lingkungan yang mana berisi perbandingan pendapatan per kapita negara-negara di asia yang mana start pembangunannya bersamaan dengan Indonesia dan sekarang negara tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang diperhitungkan di Asia.

***

Pendapatan per Kapita dan Rasio GiniBangsa yang besar selalu ingin memberikan kemakmuran dan pemerataan pembangunan untuk rakyatnya. Sebagai tolak ukurnya dapat dilihat dari besaran pendapatan per kapita negara tersebut. Pendapatan per kapita itu sendiri merupakan besaran pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara, yang diperoleh dari hasil pembagian pendapatan nasional dibagi dengan jumlah penduduk negara tersebut.

Indonesia jelas memiliki semua potensi untuk meningkatkan pendapatan per kapita. Ditunjang dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki dan jumlah penduduk pada  usia produktif yang sangat besar, merupakan sebuah berkah untuk membangun dan mensejahterakan rakyatnya sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan per kapita negara tersebut. Akan tetapi, semua logika yang tergambar di atas tak selamanya benar, karena negara yang kaya akan sumber daya alam ini kini kalah telak dalam lesatan angka pendapatan per kapita dengan Malaysia dan Korea Selatan.

Lantas mengapa Indonesia harus dibandingkan dengan kedua negara tersebut? Jawabannya sederhana, Indonesia memulai start pembangunan secara bersamaan sekitar tahun 1960. Negara-negara tersebut merupakan negara yang memiliki banyak penduduk miskin ketika memulai pembangunan ekonomi. Bedanya, Indonesia kaya akan sumber daya alam, sedangkan Korea Selatan memiliki sumber daya alam yang sangat minim.

Pada sekitar tahun 1960 Korea Selatan hanya memiliki pendapatan per kapita sebesar USD 79, namun melalui penerapan strategi industrialisasi berorientasi ekspor dan peningkatan fokus pembangunan melalui sumber daya manusia. Akhirnya secara drastis Korea Selatan berhasil meningkatan pendapatan per kapita sebesar USD 22.590 pada tahun 2012, naik hingga 286 kali selama kurun waktu 52 tahun. Sedangkan Indonesia hanya memiliki pendapatan per kapita sebesar USD 4.700. Belum lagi jika dibandingkan pergerakan ekonomi negara tetangga, seperti Malaysia, sama-sama memulai pembangunan ekonomi kini Malaysia menjelma sebagai negara berpendapatan menengah atas dengan pendapatan per kapita hingga USD 13.000. 

Usaha pengentasan kemiskinan yang diusahakan oleh negara masih belum memiliki titik terang. Menggunakan data BPS Indonesia bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia per Maret 2013 adalah 11,37%. Jika dilihat angka tersebut menandakan persentasi angka kemiskinan yang rendah, akan tetapi jika menggunakan standar angka Bank Dunia yang mendefenisikan penduduk miskin dengan pendapatan sebesar USD 10/hari maka masih ada 98,4 % penduduk miskin—sekitar 243 juta penduduk—di Indonesia. Jauh dibandingkan Korea Selatan yang memiliki persentase penduduk miskin hingga nol persen.

Mendapati fakta ini seharusnya menjadikan Indonesia sadar akan sebuah keadaan yang membingungkan tarhadap masa depan  kemakmuran rakyat negara ini. Penulis kembali menegaskan bahwa kekayaan yang melimpah akan sumber daya alam ternyata tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemakmuran rakyatnya. Mengambil contoh kasus Korea Selatan, sebuah negara yang miskin akan sumber daya alam mampu menjadi raksasa ekonomi Asia. Penulis mencoba menarik analisa bahwa keadaan ini menunjukkan bahwa faktor yang membawa kesejahteraan rakyat suatu negara tergantung pada peningkatan produktivitas sumber daya manusia, bukan kepemilikan sumber daya alam.

Penulis mencoba membandingkan, Data Bank Dunia (2014) persentase penduduk yang memperoleh pendidikan tinggi di Indonesia hanya 1,17 % berbanding jauh dengan Korea Selatan yang sebesar 17,9%. Persentase penduduk berpendidikan menengah di Korea Selatan 36,8% sedangkan di Indonesia hanya 11,1%. Hal ini jelas tergambar bahwa jumlah penduduk Indonesia yang besar ternyata tidak mampu mendongkrak kemajuan ekonomi secara signifikan. Langkah utama yang dilakukan adalah dengan meningkatkan taraf pendidikan rakyat Indonesia.

Menurut penulis, faktor selanjunya yang mempengaruhi tingkat kemakmuran rakyat di Indonesia adalah salahnya tata kelola sumber daya alam yang negara ini miliki. Tanpa mempertimbangkan peningkatan kemandirian yang berfokus pada industrialisasi, Indonesia hanya berpuas diri dengan menjual sumber daya alam yang bersifat barang mentah kepada negara lain. Setelahnya Indonesia mengimpor barang-barang jadi dan dengan bangga memanfaatkannya dan terus saja mengeruk sumber daya alam tanpa memikirkan secara matang keberlangsungan di masa depan.

Faktor ketiga adalah ketidakmerataan pembangunan di Indonesia. Negara kepuluan terbesar ini seringkali pilih kasih dengan pembangunan yang bersifat sentralis di beberapa kota besar saja. Ketidakmeraatn pembangunan ini tidak hanya menimbulkan kecemburuan sosial tetapi jelas akan menghambat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah terpencil di Indonesia. Hal ini kembali diperparah dengan korupsi yang dilakukan oleh para oknum di pemerintahan, baik itu di pusat maupun di daerah. Ketidak-percayaan rakyat akan kinerja pemerintah lagi-lagi ikut memberikan andil terhadap stagnansi pertumbuhan ekonomi negara ini.

Pekerjaan rumah pemerintahan baru bahwa indikator sebuah kemakmuran suatu negara dengan meningkatnya pendapatan per kapita rakyat Indonesia. Indonesia yang selama ini bermimpi untuk menjadi macan asia, sekarang ini masih tetap berada di belakang negara tetangga yang sebagian besar miskin sumber daya alamnya. Malaysia, Singapura dan Korea Selatan adalah sebuah bukti bahwa pembangunan industrialisasi dan kemandirian dalam pemenuhan barang dan jasa merupakan kunci peningkatan kemakmuran suatu negara.

Sumber Gambar:Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s