Review: Filosofi Kopi

Filosofi KopiHari Jumat lalu aku memutuskan untuk menonton film Filosofi Kopi. Sebenarnya ada beberapa pertimbangan mengapa aku memilih film ini, dibandingkan Fast & Furious 7. Pertama, Fast & Furious adalah film luar yang menurut kebiasaan, versi bajakannya akan keluar beberapa minggu lagi. Sedangkan Film Indonesia cenderung lebih lama keluar versi bajakannya, dan itu pun dengan kualitas yang tak begitu baik.

Alasan kedua karena aku ingin memajukan Film Indonesia, betapa mulianya, bukan? Jadi ngga apalah nonton bajakan film luar, yang patut diapresiasi kan film-film dalam negeri, biar lebih baik lagi kualitasnya, lebih kreatif, lebih berani ngeluarin modal yang besar. Jadi tidak hanya ngebuat film horror atau komedi berbau seks, atau gabungan ketiganya, horror komedi seks. Agar masyarakat Indonesia bisa bangga terhadap hasil karya Indonesia sendiri, toh, mulai banyak film-film kita yang berkualitas baik, bahkan mampu memenangi banyak penghargaan di luar negeri.

Alasan terakhir dan merupakan alasan utama aku memilih film ini adalah karena film ini merupakan adaptasi buku Dewi Lestari. Salah satu penulis favoritku setelah Pramoedya Ananta Toer. Menonton film yang berasal dari adaptasi cerita pendek yang telah aku baca  jelas jauh membuatku penasaran. Dewi Lestari bagiku tak pernah menghasilkan karya yang mengecewakan, walaupun untuk film ini ia tak banyak mengambil peran penting. Tapi ketika aku menonton film ini penilaianku tetap sama dengan cerita yang ada buku, masih tetap keren, bagus dan berbagai pujian patut aku sematkan untuk film ini. Walaupun sebagian besar cerita jauh berbeda dengan cerita asli di buku, tapi improvisasi jalan ceritanya tetap mampu menghidupkan film ini jauh lebih baik lagi, bahkan telah melampaui ekspektasiku.

Aku benar-benar menikmati jalannya cerita di film ini, begitu sederhana, natural dan kadang kala dibumbui humor segar yang begitu mengena. Sama seperti kopi, film ini terasa manis dengan ujungnya yang pahit (sedih) tapi secara keseluruhan membuat siapa saja yang menontonnya sedikitpun tak merasa ngantuk. Film ini memiliki kafeinnya tersendiri. Bagiku Filosofi Kopi merupakan film adaptasi karya Dewi lestari yang terbaik yang pernah ada. Walaupun aku hanya sempat menonton Rectoverso dan Madre.

Ada satu hal yang patut disayangkan ketika aku menonton film ini. Penonton di bioskop BTC Bandung pada saat itu benar-benar sepi, jika dihitung kurang dari 20 penonton yang ada. Pada awalnya aku sempat merasa heran, kok bisa sesepi ini. Lalu timbullah pemikiran, jangan-jangan filmnya mengecewakan. Sampai akhirnya film usai dan penilaianku itu salah. Film ini adalah salah satu film terbaik Indonesia. Sayangnya, mungkin secara kebetulan film ini harus bersaing dengan Fast & Furious dalam menarik minat penonton. Atau mungkin para masyarakat masih belum begitu mengenal dengan film ini.

Saatnya untuk mencintai dan menghargai film Indonesia dengan menontonnya, agar kedepannya film-film Indonesia menjadi lebih baik lagi, lebih berkualitas. Agar para sineas semakin bersemangat dalam menghasilkan karya. Hidup Film Indonesia

Bandung, 12 April 2015

Sumber Gambar: klik

Iklan

One thought on “Review: Filosofi Kopi

  1. Haram emang nonton bajakan film Indonesia, tapi kalau film impor mah boleh apalagi yg box office.
    Suka cerpen filkop dari Dee ini, tapi kalau buat nonton langsung ke bioskop mah males, kecuali kalau ada yg ngajak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s