Tujuan

PengembaraAku berjalan meniti pada sebuah titian tunggal di tengah hutan. Sungai mengalir di bawahnya, tak deras, dan juga tak dalam. Mungkin hanya sebatas mata kaki, tapi airnya jernih, tapi juga tak ada ikan yang terlihat. Hanya ada udang yang hampir tak tertangkap oleh mata, tubuhnya bening dan hanya gerakan kakinya yang membuatnya menjadi ada, terlihat.

Suasana hening, langit masih saja cerah. Matahari bersinar terang dan hawa panas melengkapinya. Di tempat baru seperti ini aku merasa asing, walaupun tak ada tatapan aneh dari manusia lainnya, karena aku memang sendiri. Aku merasa ketakutan, seperti ada yang mengawasi, gerak-gerikku seakan terpantau dari lensa teropong pada suatu tempat tersembunyi. Maka dari itu aku terus berjalan dan aku tak tahu aku harus kemana, apalagi memutuskan untuk pulang.

Pulang? Aku kembali kebingungan. Apa arti kata pulang ketika aku tak punya rumah untuk kembali, atau minimal sebuah rengkuhan dari lengan-lengan kecil yang mengusap punggungku lembut. Pulang sepertinya bukanlah menjadi sebuah tujuan dan tujuan yang ingin kuraih pun tak ada. Mungkinkah berada di hutan ini, di sebuah titian, di heningnya siang adalah tujuan diriku? Aku tak tahu, hanya saja aku melihat hari-hari terus saja berganti dan aku terus merubah persepsiku akan sebuah tujuan. Kemarin aku mantap memutuskan akhir dari perjalanan hidup ketika aku bertemu pada sebuah pohon beringin besar, yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Batangnya mampu menjadi sebuah kamar jika di bagian tengahnya dilubangi. Akar gantungnya laksana tirai yang mengunci datangnya sinar untuk para semut serdadu menghangatkan diri dari lembabnya tanah,

Tapi ternyata hari berganti, dan hari ini aku berada jauh dari pohon beringin besar dengan daun-daunn yang berjatuhan menciptakan kasur yang empuk. Kenyataan berubah kembali, dan tujuanku lagi-lagi berganti. Hari masih panjang, masih menjadi penerang. Kulanjutkan perjalananku pada tempat yang tak kuketahui wujudnya, pada makhluk yang tak kuketahui akan kutemui nantinya. Bagiku rumah yang nyaman adalah perjalanan itu sendiri, selimut yang paling hangat adalah bernaung dari dinginnya angin malam di balik akar pohon.

Adakah yang salah, ketika semua orang berkeinginan untuk menjadi orang yang besar, punya nama, dipuja khalayak ramai, diperbincangkan di warung kopi. Atau menjadi seperti kebanyakan orang dengan seragam yang sama, pulang kerja di waktu yang sama, dan mendapat gaji yang hampir sama pula. Atau berkinginan untuk menjadi seorang kaya raya, memiliki rumah yang mampu menaungi diri dari hujan ketika ingin bermain sepak bola, mobil berganti-ganti warna sesuai stelan kemeja, istri yang dipoles serupa badut untuk tampil cantik, tapi tetap saja melirik sekertaris pribadi yang telah mempunyai dua orang anak.

Keinginan semua orang sangatlah beragam, seperti diriku yang dipikiran orang kebanyakam menjadi sebauh keanehan yang tak terjawab. Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku dengan berjalan, bukan berwisata di tempat terkenal lalu mengabadikannya pada sebuah media sosial agar status sosial menjadi meningkat. Aku hanya ingin berjalan sendirian, tak tahu arah, dan tak memperdulikan keindahan. Aku hanya ingin berjalan, tak perduli pada gersangnya lahan, atau pada bukit berbatu yang melepuhkan telapak kaki. Aku tak mencari keindahan pada bumi, karena aku sadar, tak pantas diri ini menikmati keindahan ketika diri ini telah lama menyia-nyiakannya. 

Biarlah perjalananku di hari ini menjadi tujuan hidupku untuk hari ini pula. Agar aku merasa puas, dan tak diiringi hasrat yang penuh hawa nafsu. Sehingga aku bisa tidur dengan nyenyak pada malam hari, pada perut yang tak pernah terisi dengan baik, pada dinginnya pagi yang memaksaku untuk bangun.

Mungkin saja ini adalah sebuah kebaikan untuk hidupku sendiri, melihat dunia yang berbeda, dan tak pula aku membedakannya dengan indah atau tidak wujudnya. Aku terus berjalan membuang segala penyesalan, berharap akan sebuah pengampunan. Dan mungkin ketika aku telah mendapati hari akhir untuk hidupku, disaat itulah aku akan bahagia, untuk tidak lagi melihat wujud manusia, bahkan wujud diriku sendiri.

Jika bisa aku meminta, aku tak ingin dilahirkan menjadi apa-apa. Tumbuhan, batu, hewan bahkan api sekalipun. Karena aku tak mampu menjadi seragam dan tak mampu untuk saling bersama. Mungkin ini yang menjadi tujuan hidupku yang tak mungkin aku wujudkan.

Bandung, 25 Maret 2015

Sebuah tulisan absurd, hanya untuk memancing keluarnya imajinasiku. Dimana dirimu kini? Aku sedang mencari.

 Sumber Gambar : Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s