Refleksi Diri

refleksiUmur ini semakin hari semakin bertambah. Tubuh ini menjadi tua nantinya. Badan ini membungkuk, wajah menjadi keriput, dan pandangan mata menjadi lebih kabur. Mungkin juga pikiranku menjadi pikun, tak ingat lagi kerabat, keluarga, anak bahkan cucu. Atau mungkin juga aku tidak pernah menjadi tua. Mengikuti impian besar Gie, ‘berbahagialah yang mati muda’.

Tulisan ini bagiku adalah refleksi akan umurku yang semakin dewasa. 24 tahun bukanlah lagi remaja yang dalam pikirannya hanya ingin mendapatkan wanita sebanyak-banyaknya, secantik-cantiknya. Pikiran yang katanya telah matang ini kembali dipenuhi oleh ketakutan akan masa depan yang masih belum tergambar jelas. Mau jadi apa aku selepas pendidikan S2 ini? Masih menjadi misteri. Sama misterinya ketika baru lulus SMA. Mau jadi apa aku nanti.

Umurku mungkin semakin tua dan dewasa. Tapi entah mengapa, jujur pola pikirku masih seperti anak kecil. Masih takut mengemban tanggung jawab. Hanya ingin enaknya saja, ingin senang-senang saja. Aku cenderung iri terhadap para tokoh Indonesia masa lalu, baik itu seorang penulis, tokoh organisasi, cendikiawan, maupun para terpelajar. Dimana, di usia mudanya, bahkan mungkin belum genap umur 20 tahun ia telah memiliki peran penting untuk masyarakat, lembaga dan negaranya. Ia telah menghasilkan karya. Ia telah berdiri sendiri, menghidupi dirinya sendiri. Ia telah mengurangi waktu tidurnya karena waktu beraktifitas di luar sana masih dirasa kurang.

Aku iri terhadap mereka. Padahal, fasilitas, kondisi dan peluang diriku mungkin tak jauh berbeda dengan mereka. Aku yang berkuliah di ITB, salah satu kampus terpandang di negeri ini. Tempat yang sama ketika Soekarno dan Habibie berkuliah di masa mudanya dulu. Tapi aku sangsi, ketika keluar nanti aku bisa seperti mereka atau bahkan sepuluh persennya saja dari pencapaian mereka.

Apakah ini menjadi permasalahanku pribadi? Ataukah ini telah menjadi kebimbangan yang dirasakan seluruh generasi muda di negeri ini. Seakan tak mempunyai karakter dalam diri, hanya pasrah terhadap aliran air yang membawa ke hilir. Menggantungkan hidup pada Tuhan, padahal Tuhan menginginkan hambanya bermimpi dan mewujudkan.

Aku merasa kehilangan arah. Ingin rasanya aku mengumpat pada sistem pendidikan yang begitu rumit, membelit dan tak mempunyai gigi—dibenakku. Tapi belum tentu yang salah itu sistem pendidikan, kementrian, gubernur atau camat sekalipun. Mungkin saja kesalahan itu hadir di dalam diriku sendiri, selama ini aku hanya mencari kambing hitam agar bisa mencuci tangan lalu mengeluh terhadap kondisi negeri ini. 

Pantaskah aku menjadi generasi penerus negeri ini. Penggerak sistem pemerintahan. Merubah keterpurukan negeri ini. Ketika untuk membenarkan jalan hidupku saja aku masih tak mampu. Betapa malunya aku, hanya menjadi penonton lalu bersorak menjatuhkan mental para pemain di lapangan.

Masih pantaskan diriku ini menjadi penggerak roda negeri ini, ketika di media sosial aku hanya menuliskan keluhan, rengekan manja dan beranekaragam hedonisme agar mengikuti zaman. Malu rasanya diri ini mencoba tampil di depan. Malu rasanya diri ini jika nanti menjadi pemimpin. Tak tega rasanya menjadi penuntun jalan banyak orang ketika diri ini masih tak mampu membedakan jalan yang benar.

Di usiaku yang 24 ini, aku hanya menuliskan keluhan, kebimbangan, ketakutan. Sedangkan penulis-penulis besar masa lampau telah menuliskan karya besar di masanya. Pramoedya, Hamka, Moechtar Lubis, AA Navis, Rendra. Ahh, malu rasanya aku menuliskan nama besar mereka di tulisan yang tak patut dibaca oleh orang yang bersemangat dalam hidupnya.

Cukup sekian refleksi hidup yang masih berkabut ini. Mohon maaf jika selama ini aku hanya menuliskan ‘sampah’. Ini adalah proses pembelajaranku.

Iklan

2 thoughts on “Refleksi Diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s