Menanti Kedatangan Pembangkit Listrik Terbarukan

Pembangkit listrik ramah lingkunganAlhamdulillah, dengan sedikit penyuntingan, akhirnya tulisan ini diterbitkan dalam surat kabar harian Media Kalimantan edisi Sabtu, 23 Mei 2015.

***

Akhir-akhir ini di wilayah Kalimantan santer terdengar protes dari masyarakat akan pelayanan listrik yang dianggap kurang memuaskan. Protes dan kritik diperparah karena di wilayah Kalimantan nyatanya diketahui sebagai lumbung energi batubara yang menjadi bahan baku untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap.

Masyarakat kita mulai membandingkan dengan kondisi di Wilayah Jawa-Bali yang tak mengalami gangguan kelistrikan seperti yang kita alami selama ini. Padahal bahan baku PLTU Jawa-Bali didatangkan langsung dari Pulau Kalimantan.

Akan tetapi, penulis kali ini tidak akan menyoroti terlalu dalam akan fakta yang terjadi sekarang. Melakukan perbaikan kelistrikan di wilayah ini memang penting, tetapi mencari alternatif pembangkit listrik terbarukan yang ramah lingkungan mungkin jauh lebih penting untuk masa kedepan.

Dapat kita bayangkan jika puluhan tahun kedepan cadangan batubara di wilayah ini mulai menipis. Lalu langkah preventif apa kedepannya yang kita lakukan jika sekarang ini kita hanya berfokus pada pemanfaatan sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui.

Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) akhir-akhir ini meningkatkan ekspolitasi sumber daya alam dengan besar-besaran. Akan tetapi pengembangan Iptek juga dapat mengurangi kerusakan lingkungan. Bahkan, dengan Iptek kita dapat menemukan alternatif pembangkit listrik untuk masa depan yang jauh lebih ramah lingkungan. Diantaranya adalah:

Pertama, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) memang sudah lama dikembangkan di Kalimantan Selatan. Akan tetapi karena adanya kerusakan dan penurunan daerah aliran sungai atau bendungan dan efek dari kemarau yang kadang kala berkepanjangan, hal ini membuat aliran air yang sebelumnya dipergunakan untuk menggerakan turbin PLTA kapasitasnya menurun sehingga berdampak pula pada penyediaan listrik yang ikut menurun pula.

Tren PLTA tidak sepenuhnya ditinggalkan. Di daerah yang tidak mendapatkan pelayanan listrik dari PLN seperti di Desa Haratai, Loksado warga sekitar membuat pembangkit tenaga air skala mikro yang lebih dikenal dengan sebutan pembangkit tenaga Mikrohidro. Cara kerjanya pun tak jauh berbeda dengan PLTA, memanfaatkan aliran sungai-sungai di sekitar yang melimpah sehingga dapat menerangi rumah-rumah dalam lingkup desa kecil.  Pembangkit Mikrohidro ini menjawab kemandirian masyarakat kecil akan listrik yang selama ini masih dimonopoli oleh PLN.

Kedua, Pembangkit Listrik Tenaga Matahari, ini sangat potensial diterapkan di negara tropis—yang mendapatkan penyinaran kurang lebih 12 jam—seperti negara kita. Pemanfaatan matahari sebagai pembangkit listrik dirasa memungkinkan karena adanya penelitian mengenai sel surya yang merupakan alat semi konduktor dimana ketika cahaya matahari masuk dapat dirubah menjadi listrik. Pengubahan ini disebut efek photovoltaic.

Memang pada kenyataannya pembuatan panel surya photovoltaic masih terbilang mahal. Biaya yang dikeluarkan untuk melakukan riset tentang pembangkit ini bukanlah disebut sebuah biaya melainkan modal investasi besar. Hal ini dikarenakan pembangkit tanaga matahari disamping tidak merusak lingkungan dengan menambang bahan bakunya di alam, juga minim biaya produksi karena bahan bakunya tersedia secara cuma-cuma.

Ketiga, Pembangkit Listrik Tenaga Angin merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Karena bahan bakunya berupa angin tersedia bebas, gratis di alam. Prinsip kerjanya pun tidaklah jauh berbeda dengan PLTA dimana angin digunakan untuk memutarkan turbin lalu dimanfaatkan untuk memutar generator yang hasil akhirnya menjadi listrik.

Kendala di lapangan yang terjadi mungkin tingkat kecepatan angin yang berbeda dan tak tersedianya angin secara kontinu. Hal ini bisa ditanggulangi dengan penggunaan alat penyimpan energi sebagai back up energi. Terbukti negara-negara maju di Eropa semakin melirik angin sebagai pembangkit listrik. Sebagai contoh Jerman pada tahun 2006 mampu menghidupi 31 juta rumah.

Keempat, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan pembangkit listrik yang sekarang ini mulai dikembangkan secara serius di Negara lain. Hal ini dikarenakan PLTN tidak mencemari udara dan tidak menghasilkan gas rumah kaca, sedikit menghasilkan limbah padat, dan ketersediaan bahan bakar yang masih melimpah—ditambah bahan baku yang diperlukan hanya sedikit.

Akan tetapi dibalik kelebihannya banyak sekali pihak yang kontra dengan berdirinya PLTN. Hal ini dikarenakan resiko kecelakaan nuklir yang menghantui penduduk sekitar PLTN—salah satu yang pernah terjadi di Chernobyl, dan ditambah limbah nuklir yang radioaktif mampu bertahan hingga ribuan tahun, sangat berbahaya bagi makhluk hidup.

Ada juga pembangkit Listrik Tenaga Ombak, Panas Bumi, hingga Sampah yang baru-baru ini dikembangkan di China. Banyak pilihan alternatif bagi kita untuk mengembangkan Pembangkit Listrik yang jauh lebih ramah lingkungan.

Sudah saatnya kita mencoba melepas diri dari ketergantungan Pembangkit Listrik Tenaga Uap maupun Diesel yang kita ketahui bersama dapat mencemari lingkungan. Dari proses penambangan ribuan hektar untuk mendapatkan bahan baku batubara maupun solar. Hingga limbah gas yang dihasilkan berbahaya bagi lingkungan dan mengakibatkan hujan asam.

Kita telah diberi banyak piliham, tinggal upaya kita sendirilah untuk melakukan riset mendalam akan pengembangan pembangkit listrik terbarukan untuk masa depan. Ingat, biaya yang kita keluarkan untuk melakukan riset dan pengadaan pembangkit listrik terbarukan ini bukanlah biaya yang memberatkan, akan tetapi ini adalah sebuah modal investasi besar jangka panjang yang menjanjikan keuntungan.

Sudah saatnya kita hidup berdampingan dengan alam tanpa saling mencemari. Memanfaatkan energi yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma dan melimpah di alam. Bukankah di kitab suci, kita diminta Tuhan untuk berfikir?

Ferry Irawan Kartasasmita

Alumni Teknik Lingkungan Unlam

Sumber Foto : Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s