Tahun Keenam

MenulisTahun ini menginjak tahun ke enam aku menekuni hobi menulis. Setidaknya hobi yang paling lama dan sepertinya akan terus berlanjut untuk kedepannya. Beberapa waktu lalu aku merasa menulis bukan lagi menjadi sebuah hobi, melainkan menjadi sebuah kebutuhan. Dimana waktu itu aku keranjingan menulis, waktu berjam-jam tak terasa kuhabiskan di depan laptop.

Di tahun keenam ini, aku merasa tak ada pencapaian yang cukup membanggakan dalam kegiatan menulisku. Walaupun, aku bersyukur beberapa tulisanku berupa opini, surat pembaca, maupun cerpen berhasil dimuat dalam surat kabar lokal. Dan juga dengan tekad yang menggebu aku juga berhasil menghasilkan novel pertamaku. Namun, cukup disayangkan karena di tahun 2014 ini aku mengalami penurunan kualitas tulisan, sedikit sekali tulisan yang mampu termuat di surat kabar, hasil dari novel pertama yang selalu di tolak berbagai penerbit. Hal ini setidaknya membuatku kehilangan semangat untuk terus menulis. Diharapkan atau tidak, apresiasi terhadap tulisanku berpengaruh besar terhadap semangat untuk terus menulis dan berimajinasi.

Tahun keenam sudah aku menulis dan tahun kelima aku menulis di blog ini. Tak ada perubahan signifikan terhadap kuantitas tulisan di blog ini. jumlahnya hampir sama di setiap bulannya. Bahkan, semakin menurun dari bulan ke bulan. Aku masih mengandalkan mood untuk menulis, bukan menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi layaknya makan dan tidur.Β 

Jujur, aku merindukan saat-saat di awal aku mulai menyukai menulis. Semangat itu, imajinasi liar itu, nafsu yang menggebu itu, itulah yang aku rindukan. Tak perduli saat itu banyak ejaan yang kacau balau, tak ada kaidah Bahasa Indonesia yang benar di setiap kalimat. Bahkan aku senang sekali tak mengacuhkan titik atau koma dimana aku meletakkannya. Saat itu aku tak memperdulikan keindahan dan kerapian tulisan, yang kulakukan hanya menulis, menuangkan segala keluh kesah, hasrat dan berbagai imajinasi. Aku benar-benar merindukan, saat-saat tahun pertama hingga kedua aku mulai menekuni hobi menulis.

Karena seiring berjalannya waktu, aku merasa telah menjadi orang yang sangat pandai dalam menulis. Ejaan telah baku sesuai tata bahasa yang benar. Aku begitu khidmat meletakkan tanda baca sesuai kaidah yang ditentukan. Aku mulai bermain dengan majas, pengandaian, untuk memaniskan tulisan. Aku mensisipkan kata-kata tinggi yang mungkin hanya aku saja yang mengerti dan aku mulai membandinkan tulisan-tulisanku dengan para penulis besar negeri ini. Sesekali aku merasa tulisanku lebih bagus dari mereka, dengan sombongnya aku menghayalkan suatu hari nanti aku akan melampaui pencapaian mereka. Tapi, sering kali aku merasa minder melihat kemampuan bercerita mereka, merasa kerdil ketika takjub dengan tulisan yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya, tak dapat dipresidksi kemana rimba alur ceritanya.

Akhirnya timbulah ketakutan itu. Seiring bertambahnya bacaan novel-novel terbaik. Aku mulai membandingkan, berangsur-angsur aku mulai mencobai menyamai mereka. Ter-influence kata orang, dan itu wajar saja. Bagiku malah tidak, aku mulai merasa untuk menyamai sepenuhnya, meninggalkan diriku yang sebenarnya.

Aku merindukan tahun pertama dan kedua ketika mulai menyukai menulis. Ketika aku dengan percaya dirinya menulis, tanpa memperdulikan bagus tidaknya tulisan. Tanpa memperdulikan gaya tulisan penulis besar. Saat dimana imajinasi kubiarkan berlari bebas di padang rumput dan saat ini aku meringkuk ketakutan, tak berani untuk mulai menulis karena merasa kerdil tak punya kuasa, sedangkan imajinasi liarku telah lama kupenjara,

Ini tahun keenamku menulis, aku ingin membebaskan lagi iamjinasi liarku dan mencoba tak memperdulikan penilaian terhadap tulisanku yang dilontarkan oleh diriku sendiri, karena aku merindukan menulis sebagai suatu yang kunanti bukan suatu yang terpaksa aku lakukan.

Pelaihari, 4 Januari 2015

Sumber Foto: Klik

Iklan

10 thoughts on “Tahun Keenam

  1. Waah kakak, tulisannya menginspirasi :’) mau sedikit berbagi nih kak, kaka tingkat ulun pernah bilang “dalam melangkah kita harus selalu ingat dengan tujuan awal kita, agar kita mampu untuk meluruskan langkah yang mulai berbelok”.. Ngga usah kecewa kak dengan kualitas maupun kuantitas yang kaka rasa mulai menurun, setidaknya kaka sudah sadar dan mencoba memperbaiknya. Tulisan pian bagus2 kok kakk, bujurannn πŸ˜€

  2. Saya kadang juga seperti itu, namun disaat keadaan seperti datang, saya hanya memberanikan diri dan memandangi beberapa artikel lama yg telah saya buat, setelah beberapa saat kemudian, saya sadar, saya harus kembali keawal lagi hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s