Hilangnya Taji Pers Mahasasiswa

Pers mahasiswaTulisan ini merupakan tuulisan lama yang gagal dimuat di media cetak. Semoga memberikan manfaat bagi yang membacanya.

***

Pada kurun awal pembentukanannya, pers mahasiswa menjadi salah satu alat propaganda ampuh untuk menyebarkan ide-ide akan pentingnya kemerdekaan untuk Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut tercatat berdirinya Soera Indonesia Moeda, Oesaha Pemoeda dan Jong Java.

Pasca kemerdekaan pun geliat pers mahasiswa semakin bertambah. Setidaknya pada kurun ini kematangan pers mahasiswa tidak kalah dengan pers umum. Pada Orde Lama pers umum mendapatkan tekanan dan banyak beralih sisi menjadi corong kebijakan partai politik. Tak berbeda dengan pers mahasiswa. Akan tetapi tekanan yang diberikan pemerintah tak membuat pers mahasiswa tunduk. Pers mahasiswa kala itu menjadi pers alternatif dalam menyuarakan kebenaran kepada masyarakat.

Memasuki periode Orde Baru tekanan pemerintah terhadap pers mahasiswa semakin kuat. Bahkan kali ini pemerintah melakukan pembredelan terhadap pers mahasiswa. Hampir semua kegiatan pers mahasiswa pada saat itu dihentikan. Bukan itu saja pers umum yang memiliki nama besar seperti Tempo, Detik dan Editor juga tak luput dari pemberedelan pemerintah pada masa Orde Baru.

Walaupun pers mahasiswa kala itu ‘dibunuh’ oleh  pemerintah. Tetapi idialisme dan semangat mereka masih terus hidup. Walaupun rumah tempat mereka berwadah sudah diberangus oleh kepentingan pemerintah, gerakan akar rumputnya masih terus berjalan. Mereka masih berdiskusi, menyampaikan kebenaran lewat lisan maupun tulisan.

Pada periode 98, pers mahasiswa mengambil andil yang cukup besar dalam proses reformasi di negari ini. Kita lihat pers mahasiswa kala itu menjadi pemantik awal untuk menyadarkan dan menghimpun kekuatan mahasiswa sehingga mereka menjadi satu padu menjatuhkkan rezim Orde Baru yang telah lama berkuasa.

Cukup flashback kita terhadap manisnya perjuangan pers mahasiswa masa lampau. Setelah lebih enam belas tahun era reformasi berjalan, perkembangan pers mahasiswa di Indonesia seperti jamur di musim penghujan. Hampir disetiap universitas di negeri ini memiliki lembaga pers mahasiswa (LPM) bahkan untuk tingkat fakultas saja kerap ditemukan.

Perkembangan yang cukup positif dari segi kuantitas tentunya. Akan tetapi dari segi kualitas yang ada, peran pers mahasiswa mengalami kemunduran dari masa lalu.

Cukup disayangkan terjadi perubahan arah gerak dari pers mahasiswa sekarang ini. Jika dahulu para pegiat pers mahasiswa menulis berita untuk mengarahkan opini publik ke arah yang benar, menyuarakan kritik sosial yang tegas kepada pemerintah. Sedikit berbeda dengan sekarang, pegiat pers mahasiswa seakan hanya berorientasi kepada pengasahan skill jurnalistik dan kewartawanan.

Mereka sibuk membuat diklat-diklat jurnalistik, berdiskusi banyak tentang teknik mencari sampai mendistribusikan berita. Sehingga melupakan esensi utama dari pers mahasiswa. Mereka lupa terhadap gagasan yang perlu diangkat kepermukaan guna kritik sosial kepada pemerintah, menyadarkan kepada rakyat akan sebuah kebenaran dan menjadi awal dari gerakan besar mahasiswa.

Penulis menyadari kemajuan teknologi sekarang ini membuat kiprah pers mahasiswa semakin kalah pamor dengan pers umum baik lingkup lokal maupun nasional. Pers mahasiswa seakan kalah telak dari segala aspek. Dari segi modal, SDM, sasaran pembaca, keprofesionalan hingga output yang dihasilkan.

Mendapati kenyataan ini apakah pers mahasiswa harus tinggal diam. Lalu merubah haluan gerak, berfokus kepada ilmu jurnalistik saja. Mempelajari semua teori yang ada, mempraktekannya dengan membuat berita yang berhubungan dengan kampus mereka saja? Apakah ini tujuan awal pembentukan pers mahasiswa di masa lampau?

Tidak, pers mahasiswa masih belum menemukan jalan buntu untuk eksistensinya. Lembaga pers mahasiswa di setiap kampus memiliki induk organisasi yang menghimpun mereka semua. Di sinilah peran sentral Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dibutuhkan. Diharapkan PPMI bisa menyebarkan gagasan atau gebrakan ampuh guna mengangkat tema-tema global yang sedang hangat di negeri ini sebagai kritik terhadap jalannya pemerintahan di Indonesia.

Bisa kita bayangkan jika seluruh lembaga pers mahasiswa di seluruh universitas di Indonesia mengangkat dan memberitakan gagasan yang serupa. Coba kita lihat hasilnya, penulis rasa ini akan menjadi ledakan yang sangat luar biasa,

Bukan itu saja, pemberitaan akan kritik pemerintah ini bisa menjadi pemantik terhadap gerakan mahasiswa di Indonesia. Efek domino akan tercipta. Jika pergerakan mahasiswa yang berpusat di Jakarta saja mampu menjatuhkan kekuasaan Orde Baru, apalagi gerakan mahasiswa tersebut terjadi menyeluruh di sepenjuru Indonesia. Sebuah reformasi mungkin saja terjadi kembali.

Pers mahasiswa masih memiliki kekuatan besar, Pers mahasiswa masih belum mati.

Ferry Irawan Kartasasmita

Mantan Wakil Pemimpin Umum LPM Kinday Unlam

Sumber Foto: klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s