Monoloyalitas

monoloyalitasSebelum rasa lelah ini menidurkan raga yang tak bertenaga. Sebelum kasur yang dinantikan, menghimpit erat. Disaat itulah aku muulai berpikir akan kejadian yang memiliki pola yang berulang, sama dan seragam pada sebuah makna. Betapa berat membawa tubuh ini untuk kembali menulis, keinginan masih sama besarnya, tapi usaha tak pernah bertambah, bahkan berkurang hari demi hari.

Aku merasa dirikulah yang salah. Salah dalam mengartikan semua hal. Khilaf dalam membingkiskan keinginan. Betapa mudahnya manusia terombang-ambing pada suatu kejadian. Merubah suatu haluan hanya dengan satu kedipan. Betapa gampangnya manusia keliru terhadap jalan hidup, lalu ia mencari kembali, menemukan, dan tersesat kembali.

Apakah sejatinya hidup tentang bagaimana kita berjalan lalu tersesat? Atau tentang bagaimana kita menghentakkan pasak dan memutuskan untuk bermukim pada suatu daerah yang kita anggap itu indah? Aku tak tahu dimana sejatinya hidup. Tentang bagaimana keinginan harus diwujuudkan dan seberapa besar usaha harus dilakukan sebelum memutuskan untuk menyerah dan terpekur sedih.

Ataukah hidup dinilai dengan seberapa jauh pencapaian? Seberapa sukar tantangan yang harus dijalanai. Atau tentang bagaimana keringat telah mengering dan kita hanya mendapatkan hampa? Semua pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan dan hanya satu dua yang menemukan peraduannya pada suatu jawaban. Entah dari siapa dan dimana nantinya kita menemukan jawaban atas dari berbagai pertanyaan. Patut kiranya diucapkan terima kasih dahulu terhdap mereka maupun waktu yang membantu baik sengaja maupun tidak, baik langsung maupun tidak pula.

Bahwa aku percaya bahwa semesta adalah satu dan pasti ada satu alasan mengapa setiap kepingan dihadirkan dalam hidup ini. baik itu nyata atau hanya sebuah pecahana kaca yang tak memiliki makna. Terima kasih bahwa jika nantinya, tulisan dimalam ini tak menjadi apa-apa, atau aku pun di sepanjang hayat tak berbekas dalam ingatan siapa-siapa. Biarlah-biarlah semua kegelisahan ini nantinya tak terjawab, terpenting aku sudah memaksakannya untuk hadir, untuk berwujud nyata.

Iklan

6 thoughts on “Monoloyalitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s