[Cerpen] Hantu Api

hantu api

Setelah hampir satu tahun cerpen ini dibuat dan dipublish di blogm ini, akhirnya cerpen ini di muat di surat kabar harian Mata Banua edisi Minggu, 2 Oktober 2015. Sudah setahun lamanya cerpenku tidak dimuat di surat kabar harian. Semoga saja ini menjadi penyemangat dan pembuka jalan untuk cerpen-cerpen selanjutnya.

***

Di suatu senja yang menghamburkan warna jingga pada tubuh langit. Duduk seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun di bawah pohon kelapa yang membungkuk hormat kepada sang alam. Di sebuah desa yang hanya berpenghuni puluhan kepala keluarga.

Senja adalah batas usaha manusia, di tempat ini, ketika malam datang hanya sepi yang dapat dilihat di gubuk-gubuk kecil yang tak sanggup menopang kemajuan zaman. Daun jerami yang semakin kering tak tertahan jika didekati api, dinding gubuk yang semakin rapuh begitu nikmat jika dilihat rayap. Anak itu masih saja melamun berhadapan dengan senja yang ingin melahap bulat-bulat matahari.

“Nak, cepat masuk. Hari sudah hampir malam. Pamali kalau magrib masih ada di luar rumah,” teriak abah dari pintu depan gubuk.

“Tanggung, Bah. Sebentar lagi ulun masuk ai.”

Sang anak melanjutkan lamunannnya, angin berhembus kencang, ada layang-layang yang terbang rendah bersiap diturunkan.

“Kenapa ikam melamun aja, Nak,” Tanya sang abah mendekati anaknya.

Sang anak mengambil napas panjang, tak menolehkan wajah pada tubuh abahnya. “Ulun lagi merenung, Bah. Kemarin ulun berjalan ke kota setelah menjual gabah dari ladang kita, membelanjakannya untuk kebutuhan sehari-hari.”

“Terus apa yang membuat ikam bingung, bukannya sudah menjadi kebiasaan, setiap dua minggu ikam belanja kebutuhan di pasar.”

“Nah itu, Bah. Setiap kali ulun ke pasar, ulun membawa duit seadanya. Rasa ingin selalu ada untuk membeli ini-itu. Sudah barang dua tahun ulun tidak membeli baju, rasa iri jua melihat kawan seumuran sudah punya sepeda, dan hidup kita seakan tidak ada perkembangan, Bah. Seharian pergi ke ladang, menyiangi rumput liar, menyirami sayuran. Berangkat pagi, pulang menjelang ashar. Seperti ini aja kah, Bah, hidup kita?”

“Pertama kita harus bersyukur terlebih dahulu, Nak. Kita masih bisa makan sesuai bilangan orang kebanyakan. Walaupun lauk dan pauk tak beraneka rupa seperti orang kota. Kita masih bisa hidup dengan tenang di desa ini, biarpun tak ada hiburan yang menemani kelelahan diwaktu malam. Kita sepatutnya bersyukur, karena syukur itu sendiri yang menjadi kunci ketenangan hidup, Nak. Selebihnya kita cuma perlu sabar.”

“Sudah ulun lakukan semuanya, Bah. Tidak adakah usaha lebih untuk hidup yang sekian singkat ini menjadi lebih baik. Lebih bermartabat, menjadi makmur, dan dipandang takzim oleh orang banyak.”

“Sudah barang tentu usaha itu telah kita lakukan. Ikhtiar telah kita jalani dengan sungguh-sungguh. Adakah kita bermalas-malasan dalam berladang?”

Ulun rasa usaha kita belum maksimal, Bah. Awak ulun masih muda, masih kuat jika porsi kerja diperbanyak, Ulun masih bisa mengerjakan ladang barang dua-tiga hektar lagi di bagian utara ladang lama.”

Abah menempatkan wajah terkejut akan usul anaknya, “dengan apa ikam menyiangi semak yang mengering itu, Nak? Perlu tiga empat orang membantu untuk membersihkan lahan kosong itu.”

“Tenang, Bah. Kemarau sedang berkuasa, semak itu menjadi ringkih, tak ada kekuatan baginya melawan jika bertemu dengan api.”

“Jangan, Nak. Jangan sekali-sekali kamu mencoba membakar lahan di tempat ini, Kata orang bahari tanah disini dijaga oleh hantu api. Siapa yang barang sengaja atau tidak menyalakan api, maka penunggu itu akan marah besar. Kebakaran hebat akan terjadi, berhari-hari api tak hilang bersembunyi dalam tanah, hutan disebrang ikut menjadi gosong tersisa arang.”

“Itu hanya mitos saja, Bah. Hantu sudah pergi di dunia modern ini. Ulun pasti dengan sigap menjaga api agar tak menjangkau tempat yang tak perlu.”

“Sekali lagi jangan, Nak. Orang bahari berkata-kata berlandaskan bukti yang telah nyata.”

Sang anak hanya diam, lalu beranjak dari duduknya tanpa bicara. Menuju gubuk, mengunci kamar dan melanjutkan kembali lamunannya. Mimpi akan hari esok yang bisa menjadi lebih baik dengan usaha yang lebih keras dari sebelumnya.

***

Subuh tiba, alam masih gelap dengan semburat kemerahan di ufuk timur. Sang anak keluar dari gubuknya dengan membawa sekotak korek api. Niatnya sudah bulat, mitos itu selamanya hanya dongeng untuk menakuti anak-anak. Dia berjalan menerabas semak dengan parang di tangan, menyalakan korek api tepat di tengah lahan yang ingin ia tanam.

Senyum mengembang dari bibir sang anak. Api dengan cepat meluruhkan semak yang ada. Lahan telah hampir rata. Tapi entah dengan sekejap mata, tiba-tiba api itu membumbung tinggi membakar apa saja. Anak itu panik dan berteriak meminta tolong kepada penghuni desa. Seisi desa riuh dengan kepanikan pula, membawa parang dan ember yang tak tahu dimana didapati air untuk memadamkannya.

“Kenapa kamu bakar semak ini, Nak?” tanya salah satu warga desa yang pernah bersekolah di kota.

Anak itu menjawab terbata, tubuhnya gemetar, “ulun mau membersihkan lahan ini, Man, supaya bisa ditanami.”

“Salah sekali pemikiranmu, Nak. Tanah di tempat ini adalah tanah gambut, di dalamnya mengandung gas metan yang mudah terbakar jika bertemu sedikit api.”

Tak banyak warga tersebut menjelaskan panjang lebar terhadap sang anak. Ia langsung berlari membawa cangkul dan membuat parit pada lahan yang belum terbakar. Sang anak hanya terduduk dengan mata berkaca dan tubuh masih gemetar. Tak disangka hantu api itu kini berwujud menjadi gas metan yang kini menciptakan api besar, yang dengan mudahnya membakar apa saja sesuai arah angin berhembus.

NB : Abah = Ayah

          Ulun = Saya (halus)

          Pian = Kamu (halus)

          Ikam = Kamu

Sumber foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s