[Cerpen] Angkernya Hutan Bambu

hutan bambuAda perasaan yang ganjil ketika melewati hutan bambu yang menghubungkan desaku dengan jalan besar menuju pusat kota. Banyak warga yang cenderung memilih jalan memutar untuk menghindari daerah ini. Tiga kilometer jauhnya memutar dengan jembatan gantung yang bergoyang hebat ketika dilewati. Kita hanyar bisa menuntun sepeda motor tanpa kuasa untuk menaikinya. Itu pun harus bergantian dengan pengguna lain di ujung jembatan yang berbeda.

Entah mengapa aku dibuat bingung, sama sekali tak ada warga yang berani melewati hutan bambu ini. Baik siang apalagi pada malam hari. Konon tempat ini menjadi kerajaan alam sebelah, jadi tempat bergantungnya kuyang, tempat bermukimnya kuntilanak. Bahkan yang baru-baru ini, ditemukan potongan mayat yang dimutilasi, tangannya dan kakinya terjepit di antara rumpun bambu, dan kepalanya tergantung di sela-sela pucuk pohon. Diketemukan setelah mayat membusuk dan mengganggu penciuman warga yang rumahnya paling dekat dengan hutan bambu ini.

Tempat ini seolah menjadi zona terlarang bagi penduduk desa kami. Desa Sumber Rezeki. Anak-anak dikisahkan dengan cerita mistis tentang hutan bambu, para hantu-hantu itu akan keluar mencari anak kecil untuk dihisap darahnya pada pukul enam sore. Jadilah anak-anak desa yang tengah asyik bermain bola bergegas pulang ketika pukul setengah enam, tanpa perlu dijemput ibu mereka.

  Aku sama sekali tak percaya dengan cerita itu semua. Mungkin dari ratusan warga desa, hanya aku saja yang berani melewati daerah ini. Setiap pukul setengah enam pagi, ketika matahari belum keluar, aku berangkat bekerja dan pulang ketika malam telah menusukan dingin ke tulang. Melewati hutan bambu ini dan aku masih saja hidup sampai sekarang.

Seperti malam ini, aku melewati daerah ini pukul sembilan malam. Bersama dengan pacar yang baru aku kenal dua minggu yang lalu, melalui facebook. Pacarku ini seorang maniak dengan sosial media. Setiap menit dia meng-update status di facebook-nya, dengan status-status manja dan puitis. Dia sering kali memintaku untuk berfoto bersama agar bisa di pajang di profil picture-nya. Aku selalu menolak dengan alasan umurku sudah tua, dan merasa malu jika dilihat teman-temannya.

“Bang, kok, kita lewat tempat ini terus. Rumah Putri kan jauh lebih dekat jika lewat jembatan gantung,” rengek pacarku manja. Setiap malam ia hanya aku antarkan dekat dengan perbatasan desanya. Dia pulang berjalan kaki dan aku berbalik arah menuju rumah. Hampir tak ada satu pun warga yang tahu akan hubungan kami.

“Kan enak lewat tempat ini sepi,” jawabku sambil memberhentikan motor.

“Ahh, abang kan bisa di rumah abang.”

Aku tak menjawab pertanyaannya, langsung saja aku turunkan dan menggelar alas dari koran di bawah pohon bambu. Di tempat inilah setiap malam kami bercumbu di balik lembabnya hutan bambu. Sensasi yang sungguh berbeda dari biasanya. Melakukan hal yang sama-sama kami inginkan. Dia selalu berkilah menolak, padahal di dalam hatinya melonjak kesenangan. Dasar remaja labil!

“Bang sudah, yuk, antar Putri pulang. Sudah jam sepuluh. Nanti Putri di marahin mama pulang malam terus,” rengek dia sambil merapikan bajunya. “Tapi antarkan Putri sampai depan rumah, ya.”

“Okee, Putri. Tapi, kamu pasang penutup mata ini dulu. Abang mau kasih kamu surprise.”

“Ahh, yang benar, bang?” dia langsung menyambar penutup mata yang aku berikan, memasang dengan kuat-kuat sampai di hutan bambu yang gelap ini tak ada yang bisa dilihatnya lagi selain hitam.

“Tunggu sebentar, ya. Abang mau mengambil hadiahnya,” kubisiki dia tepat di daun telinganya.

Aku mengambil sesuatu yang panjang di balik rumpun bambu. Sudah kurencanakan ini pagi sebelumnya. Kuayunkan sesuatu itu berkali-kali dengan cepat seperti ingin menebas udara.

“Abang, kok, lama. Abang dimana?” rengek manjanya menggangguku bermain dengan benda panjang ini.

“Iya, ini abang datang,” aku mentap wajahnya yang tertutup penutup mata dan dia masih terlihat cantik. “Ini hadiah untukmu..!”

Aku ayunkan benda panjang ini, mengenai lehernya, dan dia hanya tercekak dan melonjak-lonjak tak karuan arah. Tak lama dia terdiam kaku. dan hutan bambu ini menjadi hening kembali, lebih hening dan dingin. Membangunkan bulu kudukku.

“Aku lakukan ini karena aku bosan denganmu,” aku tertawa lirih dengan senyum mengembang.

Aku selalu tak habis pikir ketika moderenitas dan teknologi menghampiri warga desa. Dan mereka dengan bangga menggunakannya, tapi mereka tetap saja bodoh. Mereka masih saja mempercayai hal-hal yang mistis, sambil menggunakan teknologi hanya untuk memamerkan kehidupan mereka.

Ahh untuk apa aku memikirkan mereka. Selama tempat ini menjadi sesuatu yang mereka takuti dan sosial media membebaskanku untuk memilih siapa yang menjadi ‘pasangan’ku berikutnya. Untuk apa aku memikirkan kebodohan mereka? Lebih baik aku memanfaatkannya saja.

Bandung, 21 Agustus 2014

Sumber foto: Klik

Iklan

One thought on “[Cerpen] Angkernya Hutan Bambu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s