[Puisi] Ampas

Menatap secangkir bekas kopi yang tersisa ampas
Terlihat sepintas butiran halus yang terendap
Bertumpuk-tumpuk membentuk koloni
Untuk terbuang dilarutkan air cucian
 
Butiran kopi yang telah berjasa menghitamkan air
Membuka mata manusia yang terkantuk
Memompa detak jantung lebih cepat
Dan membangkitkan kembali semangat
Kini hanya berakhir menjadi endapan
Dan tak ada yang mau menjilatnya
 
Mungkin ini sudah nasib menjadi ampas
Menjadi orang terbuang yang telah memberikan jasa
Dilupakan
Seperti manis yang habis menyisahkan sepah
Dianggap hidup yang tak punya guna
 
Berterima kasihlah kepada ampas
Karena tanpanya
Kita tak pernah merasakan nikmatnya kopi
Manisnya teh
Dan ampas itu cukup bahagia telah memberikan rasa dan warna
Untuk terbuang dan dilupakan
 
Bandung, 13 September 2014
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s