Get Lost in Tahura Ir. H. Djuanda

Jalan di goa jepangSudah ditetapkan secara tersirat tanpat perjanjian tertulis, bahwa hari sabtu adalah waktunya untuk refreshing, menghilangkan penat dipikiran dan mengembalikan mental untuk kembali berjuang. Hari sabtu berubah menjadi hari libur menggantikan minggu yang selama sekolah hingga kuliah selalu dinanti-nantikan. Dan hari minggu sendiri menjadi waktu untuk mengerjakan segala tugas, aku sendiri heran mengapa harus meluangkan waktu khusus untuk mengerjakan tugas, karena selama berkuliah S1 betapa menyedihkannya hanya melihat punya teman atau copas dengan santun di internet.

Mungkin zaman sudah berbeda, mungkin juga ‘negara api’ telah benar-benar menyerang. Atau juga memang seharusnya diriku menjadi seperti ini, berusaha dengan usaha sendiri, dengan kerja sendiri, dengan pikiran sendiri. Aku yakin yang bangsa ini butuhkan bukanlah para generasi muda yang pintar, tetapi generasi muda yang rajin, yang bangun dan berusaha dengan usaha sendiri. Semoga kalimat ini tak menjadi kalimat ‘sok bijak’ yang aku tuliskan agar aku terlihat baik.

Hari Sabtu telah aku ikrarkan sebagai hari libur nasional. Tak ada yang namanya mengingat tugas—selama tidak terdesak, tak perlu memikirkan yang namanya kuliah. Semua hal itu, aku buang jauh-jauh, cukup di satu hari itu saja. Hari sabtu kemarin aku memutuskan untuk pergi ke Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ir. H. Djuanda.

Setiap provinsi rasanya memiliki Tahura yang merangkap sebagai hutan lindung, di Kaliamntan Selatan ada yang namanya Tahura Sultan Adam, memiliki luas 112.000 Ha juga diporsikan sebagai wilayah tangkapan air dan konservasi. Di Tahura Sultan Adam banyak terdapat objek wisata, secara garis besar ada waduk PLTA Ir. P.M. Noor atau yang lebih terkenal Waduk Riam Kanan, beberapa air terjun, Pulau Pinus, bumi perkemahan, suaka margasatwa hingga hutan pendidikan, banyak sekali fungsi dan peruntukan yang dimiliki Tahura Sultan Adam membuat aku berfikir, bahwa Tahura yang dimiliki Bandung juga memiliki banyak fungsi dan pilihan objek wisata. Semacam kumpulan wahana ‘dunia fantasi’ yang diberikan oleh alam.

Goa Jepang dari luar
Goa Jepang dari luar

Berangkat dari Bandung jam 12 kami berangkat. Tak sampai 30 menit kita sampai di pintu pos 1 Tahura. Sebagai informasi, ada empat pintu masuk Tahura Ir. H. Djuanda. Ada tiga yang terletak di Dago Pakar dan satu di wilayah Maribaya. Untuk pertama kalinya kami masuk lewat pintu Pos I dan di tempat ini kita harus memarkirkan kendaraan baik sepeda motor maupun mobil di halaman pintu pos. Tiket masuknya sendiri sebesar Rp. 10.000,- per orang dan Rp. 5.000,- untuk sepeda motor, tapi ketika kemarin kami masuk berdua, kami diminta membayar Rp. 27.000,-. Entah kemana rimbanya Rp. 2000,- yang kami bayarkan.

Ketika telah masuk di pintu Pos I, kami baru tahu bahwa untuk mengelilingi Tahura Ir. H. Djuanda bisa menggunakan sepeda motor. Untuk itu kita harus masuk menggunakan pintu Pos II. Berjarak sekitar 200 m dari Pos I. Karena ini kunjungan pertama dan sama sekali buta dengan tempat ini, ya tak apalah mengelilingi Tahura dengan berjalan kaki. Hitung-hitung menikmati alam dengan seksama.

Pintu Masuk Goa Jepang
Pintu Masuk Goa Jepang

Ternyata Tahura Ir. H. Djuanda memiliki luas 590 Ha, membentang dari Dago Pakar sampai Maribaya (Lembang). Memiliki ketinggian 770 mdpl – 1330 mdpl. Ada beberapa objek wisata di tempat ini, diantaranya; Goa Jepang, Goa Belanda, Curug (Air Terjun) Dago, dan Curug Omas di Maribaya. Jelas di tempat ini kita akan merasakan kesejukan alami, berjalan di tempat ini kita benar-benar dimanjakan oleh nyanyian alam. Lengkingan suara serangga pohon bersahut-sahutan layaknya berkelahi.

Objek wisata yang pertama kali ditemukan dari Pos I adalah Goa Jepang. Goa setinggi empat meter ini memiliki empat pintu yang saling berhubungan. Jika berkunjung di tempat ini tak membawa sentar, kita akan ditawarkan penyewaan sentar sebesar Rp. 5.000,-  atau jika perlu didampingi dengan guide yang langsung akan mendatangi pengunjung ketika tiba di lokasi.

Bagus juga buat Prawed
Bagus juga buat Prawed
Goa Jepang tampak dari dalam
Goa Jepang tampak dari dalam

Memang layaknya sebuah Goa, memasukinya kita langsung diterpa oleh udara dingin yang lembab. Hampir seluruh bagian goa gelap sempurna. Dinding goa adalah batuan yang tak kutahu namanya, yang jelas berasal dari letusan gunung api purba sunda. Sangat keras, dan aku turut sedih mendapati kenyataan bahwa bangsa kita dipaksa membuat goa ini di masa lampaunya, dengan peralatan sederhana, dan dengan ancaman yang tak sederhana pula ketika tengah bekerja.

Monyet Ekor Panjang yang akan kita temui di sepanjang jalan
Monyet Ekor Panjang yang akan kita temui di sepanjang jalan

Selepas mengunjungi Goa Jepang, kami meneruskan perjalan kembali menuju Goa Belanda. Kata penduduk lokal jaraknya sekitar satu km dari Goa Jepang. Tapi kita tak akan dibuat letih oleh alam, di tengah perjalanan kita akan menemui monyet ekor panjang yang sama sekali tak jinak dengan manusia. Mungkin memang seharusnya demikian, agar mereka tak bergantung dengan makanan yang diberikan manusia.

Di kanan kiri jalan hanyalah pepohonan yang membentang, hijau menyejukan mata. Kami sering sekali terpengarah oleh keajaiban yang diberikan oleh alam. Jarak satu kilometer menjadi tak terasa dan kami akhirnya tiba di Goa Belanda. Goa ini tak berbeda jauh dengan Goa Jepang. Kesan pertama yang kami lihat, goa ini jauh lebih modern, di dinding goa diplester dan terdapat jalan rel kereta kecil. Lebarnya memang tak selebar Goa Jepang.

Goa ini konon diperuntukkan pertama kali untuk pembuatan fasilitas PLTA Bengkok tapi peruntukan selanjutnya sebagai sel tahanan narapidana Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, goa ini tetap dipakai dan ditambah dengan pembuatan goa lagi yang sekarang diberi nama Goa Jepang. 

Jalanan menuju goa belanda, sejuk.
Jalanan menuju goa belanda, sejuk.
Goa Belanda tampak dari depan
Goa Belanda tampak dari depan

Berkunjung ke Tahura selain bisa menenangkan pikiran, sekalian juga berwisata sejarah. Di tanah ini kita telah terjajah ratusan tahun. Menjadi budak di tanah sendiri, mendapatkan perintah dan cambukan setiap hari, dan berjalan membungkuk terhadap orang asing. Berada di Tahura, kita bisa melihat maha karya penduduk pribumi yang dipaksa untuk membuat megahnya goa. Membuat aku miris membayangkan tangan-tangan kasar pribumi yang membelah batu dan saat ini para anak mudanya—seperti aku ini—sedang dimabukkan dengan teknologi yang dibuat oleh penjajahnya. Apakah kita akan selalu tertinggal dengan penjajah kita dulu? Tak bisakah kita melesat untuk bangkit? Membuktikan bahwa kita bangsa yang besar.

Ahh, aku terlalu banyak bermimpi. Tanpa sadar, aku hanyalah rakyat jelata yang gemar bermalas-malas dan tak memperdulikan nasib bangsa ini nantinya.

Nb: Berkunjung di Tahura sebaiknya kita menjaga alam yang telah memberikan banyak keajaiban ketika kita berada di sana. Jangan membuang sampah sembarangan, jangan mencabut tanaman, ataupun mencoret-coret situs sejarah. Kita tak akan dikenal dengan cara ini, kita akan dikenal jika memberikan karya.

Goa Belanda tampak dari dalam
Goa Belanda tampak dari dalam
Suasana asri di bagian luar Goa Belanda
Suasana asri di bagian luar Goa Belanda
Please, menjadi dewasa. Ini situs sejarah, bukan buku gambar
Please, menjadi dewasa. Ini situs sejarah, bukan buku gambar

Bandung, 8 September 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s