Ketika Pemuda Lulusan SMK Membuat Bangga Indonesia

Pemuda salatiga pembuat pesawatAnak bangsa menorehkan prestasi gemilang di dunia Internasional. Dialah Arfian Fuadi (28) dan Arie Kurniawan, kakak beradik asal Salatiga ini berhasil meraih juara pertama dalam “3D Printing Challenge” yang diadakan General Electric (GE) dan GrabCAD. Hasil karyanya mendesain “Jet Engine Bracket” yang merupakan salah satu komponen untuk mengangkat mesin pesawat ini berhasil merancang desain yang jauh lebih ringan 84% dari komponen aslinya, yang memiliki berat dua kilogram menjadi hanya 327 gram.

Mereka berhasil menyisihkan 700 desain kompetitornya yang berasal dari 56 negara. Bukan itu saja, mereka berhasil mengalahkan peserta dengan gelar Ph.D dari Swedia yang menyabet juara kedua dan peraih juara tiga yang merupakan insinyur lulusan University of Oxford yang kini bekerja di Airbus.

Sebuah prestasi yang sangat membanggakan yang telah ditorehkan anak bangsa kita. Terlebih kedua kakak beradik ini hanyalah lulusan SMK. Ya, SMK, mereka bahkan tak melanjutkan pendidikan pada jenjang perguruan tinggi. Mungkin hal ini terasa mustahil. Seorang yang hanya tamat sekolah kejuruan berhasil menjuarai kontes bergengsi internasional mengalahkan peserta yang bergelar Ph.D dan peserta yang telah bekerja di perusahaan pembuatan pesawat.

Akan tetapi semua hasil yang didapat Arfian dan Arie ini bukanlah perkara yang instan. Mereka berusaha keras belajar ilmu desgin engineering secara otodidak, tanpa bimbingan seorang guru mereka belajar sendiri aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (Finite Element Analysis) dan lain-lain melalui literatur yang terhampar luas di dunia maya.

Bukan itu saja, sebelum menjuarai kontes desain ini. Di bawah naungan Dtech Engineering perusahaan kecil yang mereka dirikan dengan modal pas-pasan ini telah berhasil mengerjakan lebih dari 150 proyek. Sayangnya, hanya satu proyek desain saja yang ia terima dari pemesan dalam negeri.

Meski telah malang melintang pada proyek di luar negeri, Arfian dan Arie tak mampu bekiprah di desain teknik Indonesia, hal ini dikarenakan stigma miring yang memandang mereka sebelah mata karena hanya lulusan sekolah kejuruan. Tak memiliki ijazah dari perguruan tinggi membuat mereka dianggap tidak memiliki kompetensi untuk bersaing.

Cukup disayangkan memang. Mental masyarakat kita terlalu kaku dalam memandang potensi orang lain, dengan mengukur latar belakang yang dimiliki, seperti kedudukan, gelar dan nama besar. Ada beberapa alasan yang membuat masyarakat di Indonesia memiliki pola pikir yang seragam dan malah membuat kita tak bisa maju, diantaranya adalah:

Pertama, Kita masih memegang teguh paradigma bahwa pendidikan yang baik berasal dari institusi formal. Terlebih yang telah memiliki nama besar. Rakyat Indonesia berbondong-bondong menyekolahkan anak mereka di universitas ternama dan jurusan bergengsi dengan dalih mereka akan mendapatkan ilmu pengetahuan dan bekal yang terbaik di kehidupan mendatang.

Banyak dari kita terkadang lupa, bahwa zaman telah berubah sedemikian pesat, yang mana ilmu pengetahuan telah tersebar luas dan gratis di dunia maya. Akses buku-buku ilmu pengetahuan pun semakin lengkap di perpustakaan. Dan pandangan kaku, bahwa ilmu pengetahuan hanya ada di perguruan tinggi membuat kita lupa, orang lain di luar sana belajar melalui media yang berbeda dengan hasil yang mungkin saja melampaui keilmuan kita.

Kedua, Pendidikan di pergurun tinggi terlalu banyak menitik beratkan pada teori-teori yang berkambang saat ini, sedangkan praktek dan implementasinya masih dirasa sangat minim. Berbeda dengan apa yang dialami Arfian dan Arie dalam mengerjakan proyek-proyek desain, mereka langsung terjun ke lapangan sambil mempelajari teori-teori yang berhubungan.

Ketiga, kita seringkali membanding-bandingkan seseorang dengan latar belakang yang kita miliki. Kita cenderung lebih segan terhadap orang yang memiliki gelar pendidikan yang tinggi, seolah mereka telah memahami banyak hal dan dipastikan telah menjadi ahli di bidang tertentu.

Mungkin saja kita luput dalam memahami, bahwa di luar sana banyak orang yang memiliki pendidikan yang tak tinggi, tapi memiliki pengalaman dan prestasi yang besar. Kemampuan mereka telah teruji, tanpa perlu ada embel-embel gelar di belakang nama mereka.

Sekarang ada baiknya kita bercermin mematut diri. Melihat prestasi yang ditorehkan pemuda desa asal Salatiga ini seharusnya membuka mata kita lebar-lebar. Ketika perusahaan asing mempercayakan desain produk mereka pada pemuda yang hanya lulusan sekolah kejuruan, kita yang telah memiliki gelar pendidikan telah mampu berbuat apa di bidang keilmuan kita?

Atau jangan-jangan selama ini kita tak memiliki keilmuan memadai setelah bertahun-tahun kuliah, karena fokus tujuan kita hanya mencari gelar kesarjanaan. Sedangkan di luar sana ada orang yang dengan keterbatasannya, belajar dengan sungguh-sungguh tanpa bimbingan dosen atau professor mampu menghasilkan karya nyata jauh di atas kita.

Kembali penulis teringat kata-kata John F Kennedy “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negara.” Sudahkah kita yang memiliki pendidikan tinggi ini, membuat bangga untuk ibu pertiwi?

Bandung, 22 Agustus 2014

Sumber foto: Klik

 

Iklan

One thought on “Ketika Pemuda Lulusan SMK Membuat Bangga Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s