17 Agustus di Bukit Moko

Bukit mokoTepat tanggal 17 Agustus yang lalu aku memutuskan pergi ke Bukit Moko. Bermodalkan rute dan gambaran yang ada di internet, akhirnya dengan mantap aku pergi untuk pertama kalinya dengan pacar. Bukit Moko tak begitu jauh dari pusat Kota Bandung, memasuki Jalan Padasuka, tempat Saung Angklung Udjo berada, kita tinggal terus saja memacu kendaraan, berjarak sekitar delapan kilometer.

Kondisi jalan menuju tempat itu terbilang cukup sempit jika menggunakan mobil, jauh lebih baik memang menggunakan sepeda motor. Jalanan awalnya masih beraspal bagus, walaupun banyak tanjakan dan kelokan yang cukup tajam, tapi untuk motor matic yang kugunakan masih dalam batas kewajaran untuk bertahan.

Mendekati Bukit Moko, jalanan sedikit rusak, patut berhati-hati karena terkadang di kanan atau kiri terdapat jurang yang tak dibatasi oleh halangan pengaman jalan. Tetapi di sisi inilah terdapat pemandangan yang indah, karena di bawahnya terdapat ladang pertanian atau tanaman warga sekitar yang disusun rapi berpola. Jadi berhati-hati jika mengendarai motor, jangan sampai terhopnotis keindahan alam tapi kita malah keluar jalur dan terjun bebas ke bawah.

Tak berlangsung lama kita akan menemui Puncak Endah, di sana banyak warung-warung makan seperti di daerah Punclut. View kota Bandung tergambar jelas jika dilihat dari tempat ini, sebelumnya aku mengira tempat inilah yang dinamakan Bukit Moko. Tetapi karena beberapa blogger menuliskan Bukit Moko berada di Warung Daewung dan aku tak menemukan warung tersebut, maka aku memutuskan untuk terus naik ke atas.

Cukup jauh dari Puncak Endah yang berisi warung, akhir dari jalan beraspal kami temui. Tepatnya di pertigaan, untuk yang mau pergi ke Bukit Moko kita harus memilih jalur kiri, sedangkan untuk jalur kanan yang track-nya cukup landai dan beralas tanah aku tak tahu menuju kemana.

View Bandung yang tertutupi kabut di siang hari

Bukit Moko sudah tak jauh dari pertigaan ini. Sejauh mata memandang kita bisa melihat tempat tersebut, tapi jalur menuju kesana cukup berat, motor matic rasanya tak sanggup untuk dibawa berboncengan, terpaksa pacarku harus berjalan dan kondisi jalan yang berbatu cukup menyulitkan untuk menyeimbangkan motor. Hanya sekitar 250 meter kita akhirnya sampai di bukit Moko. Sebagai informasi, yang dinamakan Bukit Moko itu adalah halaman belakang Warung Daewung. Jadi Warung Daewung adalah pintu masuk ke bukit Moko.

Kondisi Warung Daewung dari dalam
Kondisi Warung Daewung dari dalam

Sebenarnya masuk ke Warueng Daewung—Bukit Moko—itu gratis, tapi kita diharuskan untuk membeli makanan atau minuman di warung tersebut, jika tidak, kita akan di kenakan pajak tempat sebesar 10.000/orang. Kalau aku sih, cenderung memilih untuk membeli makanaan di sana. Ya, walaupun harga makanan/minuman di sana terbilang cukup mahal, tapi masih bersahabatlah untuk kantong mahasiswa. Kemarin aku memesan Internet (Indomie, Telur, Kornet) seharga 10.000 dan minum teh es sekitar 5000.

Kembali ke bukit Moko. Sayang, aku pergi ke Bukit Moko pada siang hari, sehingga aku tak bisa melihat view kota Bandung yang bercahaya pada malam hari, tempat yang telah tersohor di dunia maya ini. Terlebih Jalan-Jalan Men juga mengeksposenya pada perjalanan mereka di Bandung. Tetapi, jangan berkecil hati di samping kita bisa melihat view kota Bandung yang terkadang ditutupi kabut, kita juga dapat melihat hamparan ladang pertanian warga di sisi kanan dan belakang bukit Moko. Pokoknya mengunjungi tempat ini pada siang hari kita tak akan dibuat kecewa.

View ladang dan perumahan warga di sisi kanan Bukit Moko

Setelah makan di Warung Daewung kita memutuskan untuk beranjak pulang. Tetapi, setelah berada di parkiran kita melihat ada sebuah bangunan pos yang membuat kita penasaran. Maka dari itu kita memutuskan untuk melihat-lihat dulu ke pos tersebut. Tak jauh, hanya sekitar 150 meter dari Warung Daewung.

Sesampainya di sana ada penjaga, dan setelah bertanya-tanya sedikit ternyata ini adalah pintu masuk untuk ke Puncak Bintang. Jujur, baru ini aku sadar bahwa Puncak bintang yang juga terkenal di dunia maya itu ternyata berada tepat di belakang Bukit Moko. Tak perlu pikir panjang, kami memutuskan masuk, cukup membayar Rp. 5.000/ orang. Jika kalian ingin melakukan shooting video clip atau mengadakan camping outbound di kenakan biaya Rp.500.000/hari.

Foto narsis di pintu masuk Puncak Bintang
Jalur menuju Puncak Bintang yang dipenuhi pohon pinus

Di pos ini dipasang tanda arahan beberapa objek wisata, jalur setapak kanan, kita bisa menuju ‘Bandung View City’ Aku tak pergi ke sana karena view yang ada aku rasa kurang lebih dengan Bukit Moko. Tetapi, mungkin saja akan lebih jelas ke arah view Kota Bandung, karena sepertinya tak terhalang oleh ladang pertanian warga.

Di arah kiri ada tempat Patahan Lembang berjarak sekitar delapan kilometer atau 45 menit berjalan kaki. Tempat ini katanya merupakan tempat retakan tektonis dari patahan gempa di Bandung. Aku tak tahu keadaan tempat ini karena jarak yang cukup jauh dan kondisi jalan yang sangat sepi. Seandainya pergi ke tempat ini dengan orang banyak, mah, berani saja ngejalaninnya.

Maka dari itu, kami hanya memutuskan untuk pergi ke Puncak Bintang, jaraknya sangat dekat dari pintu pos masuk. Hanya sekitar 150 meter jalan ke depan dan 100 meter lagi belok ke kiri menanjaki bukit. Pokoknya berjalan menuju Puncak Bintang tak akan terasa. Karena wilayah ini di tumbuhi oleh pohon pinus yang membuat tempat ini menjadi lebih dingin dan lembab.

Dan inilah Puncak Bintang dengan view Kota Bandung yang berkabut

Pokoknya berada di tempat ini seperti berada di hutan yang tertata rapi. Sangat baik untuk merefresh pikiran dari jenuhnya kota. Sampai di Puncak Bintang rasanya suhu udara semakin sejuk saja, alih-alih bisa dibilang semakin dingin. View yang terlihat kurang lebih seperti di Bukit Moko, karena memang letak tempat ini yang berada tepat di atas Bukit Moko.

Di tempat ini memang asik dihabiskan untuk foto-foto atau beristirahat melepas lelah. Lebih baik lagi jika kita membawa alas tikar untuk rebahan atau makanan yang dibawa dari rumah. Benar-benar tempat yang nyaman untuk beristirahat.

Narsis berdua di puncak bintang

Di Pos penjagaan pada saat turun, sempat ngobrol-ngobrol dengan bapak penjaga. Katanya tempat ini akan menjadi kawasan wisata terpadu, sekitar bulan mei tempat ini akan di sambung dengan water park yang ada di Cibodas. Tak tahu akan kebenaran informasi ini, apalagi aku tak tahu dimana itu wilayah Cibodas.

Tetapi sejauh penialaianku, tempat ini sangat layak untuk dijadikan pilihan berlibur kalian ketuika berada di Bandung. Melihat view kota 180 derajat, ditemani dengan cuaca yang sejuk dan anginpegunungan yang dingin. Dan kondisi keamanan yang cukp baik. Rencananya jika ada waktu aku akan pergi ke tempat ini lagi pada malam hari. Untuk melihat view Kota Bandung yang bercahaya. Semoga bisa terwujud.

Selamat merdeka Indoensiaku, semoga kita selalu menjadi menuasia bebas untuk menikmati keindahan yang di miliki negeri ini. Bebas dari segala penjajahan untuk menjadi tuan di rumah sendiri.

Bandung, 20 Agustus 2014

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Iklan

9 thoughts on “17 Agustus di Bukit Moko

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s