Sebuah Kritik untuk Televisi

tvMungkin sebuah keanehan. Ketika kita berada taman bermain extra besar, yang setiap harinya memperkenalkan wahana terbaru dan aku sama sekali tidak berminat untuk bermain di sana, walaupun itu gratis. Tak perduli ada wahana yang bisa turun salju, roller coaster yang masuk ke bawah tanah, biang lala yang mencapai awan, ataupun tempat yang tak ada gaya gravitasi. Semua permainan yang menyenangkan, membuat hati kita penasaran, apalagi diberikan gratis—sebuah syarat untuk memikat siapa saja.

Semua yang baru pasti saja membuat diri kita ingin mencoba. Rasa penasaran selalu hadir bercampur dengan adrenalin untuk menjawab rasa ingin tahu. Waktu yang ada bisa kita habiskan tanpa pikir panjang disana, tak perduli ada ataupun tidak kesibukan yang dimiliki.

Begitulah yang aku rasakan kini. Sedikit terasa aneh. Ketika sekarang ini aku tak menyukai acara televisi. Televisi yang selalu memberikan tayangan kebaruan yang memikat diri untuk menontoninya sepanjang waktu. Acara televisi yang dibuat oleh para kaum kreatif terbaik di negeri ini. Merekrut orang berpendidikan dari kampus ternama, dari guru-guru ternama yang telah mengajarkannya.

Stasiun televisi tak mungkin memberikan acara kreatif yang tak menyenangkan. Mereka telah memutar otak kanan untuk menghadirkan acara gratis untuk menghibur rakyat Indonesia ini. Tapi mengapa, aku tak menyukai hasil jerih payah mereka. Apakah aku seorang yang terlalu serius bernalisis, sehingga otak kananku menjadi buntu dan tak menyukai lagi hiburan ‘gratis’ ini.

Hanya berita, film yang belum kutonton, atau beberapa acara tertentu yang masih kutonton di televisi. Itupun tak ada pengalokasian waktu khusus untuk menontonnya. Jika aku ingin, maka aku menonton televisi, jika tak ada acara yang memikatku aku matikan ia, sampai ke kabel arus listriknya.

Mungkin ada sebuah perubahan terhadap diri ini. Aku merasa sinetron, reality show atau acara hiburan-hiburan lainnya di televisi hanyalah sebuah acara yang dibuat seadanya untuk mengejar setoran. Mereka tak memperdulikan kualitas yang ditayangkan. Mereka tak memikirkan ke depan setelah menonton ini rakyat Indonesia mendapatkan apa? Terinspirasi dalam kebaikankah, atau tak mendapatkan apa-apa, atau malah merubah diri ini menjadi manusia yang lebih buruk dari sebelumnya. Sepertinya para orang kreatif yang berada di televisi itu tak memikirkan hal ini.

Itu hanyalah penilaianku sebagai pemirsa. Tak perlu rasanya para orang kreatif ini memperdulikan kritikku terhadap televisi. Aku bukanlah orang ternama, bukan pula pakar yang memberikan analisis yang baik. Aku hanyalah pemirsa televisi yang telah menghabiskan waktu kecil dan mudaku di depan layar televisi. Menontoni berbagai acara mereka, menunggunya kembali keesokan harinya.

Aku hanyalah satu orang dari dua ratus juta pemirsa di Indonesia yang tak menyukai lagi acara-acara televisi. Aku hanyalah seorang rayap yang mencoba meruntuhkan bangunan beton stasiun televisi. Kritik yang aku tuliskan ratusan kali inipun sama sekali tak menggoyahkan industri mereka. Aku tak memiliki kuasa apa-apa, aku hanya segelintir orang yang mematikan televisi karena merasa jenuh dengan acar yang ada.

Maka dari itu, sekarang aku mengambil bagian untuk mengambil langkah penghematan listrik, untuk tidak menonton acara televisi dalam waktu yang lama. Aku bukan mem-boycot televisi. Aku hanya memilih acara terbaik yang perlu aku tonton. Bukan seperti waktu kecil dulu, yang menghabiskan waktu dari siang hingga malam untuk menelan acara kreatif mereka.

Kita telah merdeka, bukan? Dan aku memilih apa yang ingin aku pilih.

Bandung, 17 Agustus 2014

Sumber Foto: Klik

 

Iklan

3 thoughts on “Sebuah Kritik untuk Televisi

  1. Setuju kak…
    ulun sudah semenjak mengenal internet ga begitu suka nonton TV.. Lebih suka berselancar di internet karena banyak menemukan sesuatu yang baru hehe..
    kuliah dibandung kah pian kak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s