Mengisi Kemerdekaan

Lomba kemerdekaanEnam puluh sembilan tahun yang lalu Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Enam puluh sembilan tahun yang lalu, konon katanya Indonesia terbebas dari penjajahan. Dan peryanaan demi perayaan dihadirkan untuk memperingatinya, agar anak cucu yang menikmati kemerdekaan negara ini dengan cuma-cuma bisa mengenang kembali betapa berat nenek moyangnya memperjuangkan kemerdekaan dengan darah dan tenaga.

Berada di Bandung ada sedikit suasana berbeda dalam perayaan kemerdekaan. Tak jauh berbeda memang dengan Kalimantan Selatan, kampung halamanku. Akan tetapi, euforia di tempat ini jauh terasa meriah dibandingkan di sana. Pada pagi dan siang hari diadakan berbagai lomba, di sore hari para warga turun kejalan mengenakan kostum unik untuk melakukan pawai dan di malam hari melanjutkan kembali berbagai lomba diselingi dengan bernyanyi lagu dangdut. Sungguh meriah bagiku, seperti baru merdeka saja, walaupun lomba-lomba yang ada kurang lebih dengan yang ada di Kalimantan, entah mengapa ada euforia yang lebih besar di tempat ini.

Tak ada yang salah bagiku untuk memperingati kemerdekaan negara ini. Selagi masih dalam batasan kebaikan. Lomba-lomba yang mempererat tali silahturahmi antar warga, yang membuat anak-anak meninggalkan tablet dan handphone mereka dan keluar rumah berkumpul dengan teman sebaya mereka. Mungkin sudah barang asing kita temui moment yang bisa menyatukan warga ketika sikap individualisme di kota besar terasa kental akhir-akhir ini. Biarlah momentum kemerdekaan ini menjadikan pengingat anak-anak sekarang bahwa diantara permainan digital beraneka rupa terdapat permainan rakyat yang jauh, jauh lebih menyenangkan. Mengeluarkan keringat, emosi, maupun daya adaptasi mereka.

Aku sangat mendukung adanya perlombaan dalam memperingati kemerdekaan ini. Walaupun ada beberapa pihak yang berlawanan, menganggap lomba-lomba itu membuat kita semakin terkebelakang. Generasi muda Jepang sudah bisa membuat motor, Jerman membuat mobil, Amerika sudah pergi ke bulan dan di Indonesia hanya panjat pinang, makan kerupuk, dan balap karung. Sebuah analogi yang benar memang, kita masih jauh terkebelakang oleh negara lain, tapi biarlah sehari saja mereka kembali bernostalgia akan permainan asli Indonesia. Biarlah anak-anak sekarang ikut merasakan betapa menyenangkannya berkumpul dengan teman sebaya dan memainkan permainan yang mungkin saja belum mereka mainkan.

Tak perlu rasanya untuk selalu serius mengejar ketertinggalan ini. Tak juga aku menganjurkan untuk santai dan tidur lelap. Semua perlu porsi seimbang. Ada kalanya memang perlu kembali menengok ke belakang, mengenang jerih payah pejuang di masa lampau, mengisi dengan kerja cerdas untuk pembangunan dan sesekali me-refresh kembali pikiran dari dorongan untuk selalu mengikuti arus teknologi, berkenalan dengan permainan maupun budaya asli negeri ini.

Isi kemerdekaan negara ini dengan suka cita. Sebagaimana para pejuang pada enam puluh sembilan tahun yang lalu turun ke jalan untuk merayakan kebebasan penjajahan negara ini. Asal kita jangan lantas lupa, kita memang telah merdeka secara fisik, tapi apakah yakin kita juga merdeka diberbagai bidang?

Bandung, 17 Agustus 2014

Sumber foto: Klik

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s