[Cerpen] Hanya Sadar

Selalu sadarDi mata orang lain, mungkin Yoda adalah manusia yang paling beruntung di dunia ini. Ia dianugerahi Tuhan banyak kenikmatan. Wajah yang tampan, tubuh tegap ideal, kecerdasan yang di atas rata-rata, istri yang cantik, kekayaan yang diwariskan dari orang tuanya. Kehidupan Yoda adalah kehidupan yang diimpikan oleh seluruh laki-laki, angan-angan yang selalu diandaikan oleh banyak orang.

Tapi, penilaian orang adalah penilaian tentang kulit. Perihal sisi luar yang mudah terlihat. Seperti membuka kulit durian yang mulus, menyangka isi dalamnya sama bagusnya.  Yoda memang senang akan kehidupan yang dimilikinya, tapi dalam hati kecilnya, ada kehampaan yang mengisi. Entah apa itu yang membuat hatinya selalu terusik.

Suatu hari ia mengambil wudhu untuk sholat di mushola kantornya. Di sebelahnya ada seorang bapak tua yang berpakian office boy juga ikut berwudhu. Pada awalnya Yoda tak menghiraukan, tapi setelah memanjatkan doa, Yoda menatap bapak ini dengan khidmat, ada sedikit perasaan iri ketika bapak ini berwudhu dengan penuh penghayatan. Seolah bapak ini begitu menikmati setiap tetes air yang membasahi kulit.

“Bapak Yoda, ada yang bisa saya bantu, Pak?” Sapa bapak tua ini dengan terbata karena sang boss menatap antusias kepadanya.

Yoda tergagap menjawab, ketika tadinya takjub menatap, “Eh, ngga ada apa-apa. Nama bapak siapa, ya?”

“Sukarman,” jawab bapak ini tenang, “Permisi, Pak, saya masuk duluan.” Pamit bapak ini meninggalkan Yoda yang masih berdiri.

Sepulang kerja Yoda tak langsung pulang. Atas info yang  didapat, dia menuju rumah Sukarman. Yoda begitu penasaran dengan kehidupan Sukarman. Hampir seharian ia mengikuti gerak-gerik bapak ini, dari selesai sholat, istirahat, sampai kembali lagi bekerja. Yoda menguntitnya dari belakang. Ia takjub atas kedamaian yang tergambar di raut wajah Sukarman. Melihat betapa menikmatinya Sukarman bekerja membersihkan kantornya. Yoda merasa tak habis pikir, bagaimana seorang pesuruh kantor yang berpenghasilan kecil di zaman yang serba mahal ini bisa menikmati segala apa yang ia kerjakan, memiliki raut wajah yang meneduhkan jika dilihat orang lain seolah tak ada masalah yang menghinggapinya.

Jujur. Dari lama Yoda menginginkan kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Yoda telah mendapatkannya ketika ia berada dekat dengan Tuhan, beribadah, dan berbagi dengan sesama. Tapi hanya sebatas saat itu saja, baginya Pak Sukarman beda, ia melihat kedamaian yang tak pernah terputus dari wajahnya. Seakan-akan ia terus berbahagia di sepanjang harinya.

Setelah berbasa-basi mengenai kedatangannya di rumah kecil Sukarman, ia menanyakan langsung perihal yang mengganjal di hatinya.

“Bapak Sukarman, saya ingin bertanya sesuatu yang saya amati dari diri bapak seharian ini. Entah mengapa saya melihat dari wajah dan gerak bapak begitu menikmati segala hal yang bapak lakukan. Dari berwudhu, makan dengan lauk yang sederhana, menyapu lantai yang sudah bersih, membersihkan wc, jendela, bahkan ketika sedang berbincang dengan karyawan lain. Saya melihat ada kedamaian yang terpancar dari wajah bapak, tak perduli apapun yang sedang bapak kerjakan. Apa resepnya, Pak?” Yoda bertanya dengan antusias.

Ia tak pernah menyangka, bahwa kedamaian hati akan terpancar jelas di wajah.

Sukarman merasa canggung untuk menjawab, “Saya masih bingung dengan apa yang bapak tanyakan, apa yang saya lakukan bukannya sama saja seperti yang dilakukan orang kebanyakan, Pak? Tak ada bedanya.”

“Iya saya mengerti, tapi rasanya ketika melihat bapak melakukan sesuatu. Saya merasa bapak begitu menikmati apa yang bapak lakukan, penuh penghayatan, berbeda dari orang kebanyakannya.”

Sukarman tertawa kecil, merasa kikuk dirinya diperhatikan oleh Bossnya.

“Sebenarnya segala sesuatu saya lakukan seperti kebanyakan orang, Pak. Makan, ya, makan. Menyapu lantai, ya, menyapu lantai seperti biasanya. Berbicara, ya, seperti berbicara saja. Tapi semua itu saya lakukan dengan penuh kesadaran.”

“Kesadaran?” Yoda merasa bingung dengan jawaban Sukarman. Langsung saja pertanyaan itu dijawab.

“Ya, kesadaran, Pak. Terkadang hal itu yang kita tinggalkan. Pada saat kita bekerja, kita berpikir tentang makanan yang akan kita makan nanti siang. Ketika makan siang tiba, setelah beberapa sendok makanan yang kita masukan ke dalam mulut, pikiran kita berlompatan tentang berbagai macam hal, rencana setelah pulang bekerja lah, menonton acara tv nanti malam, koran yang masih belum sempat terbaca, duit di dompet yang tinggal sedikit. Semua hal kita pikirkan, padahal sebelumnya kita begitu mengimpikan makan siang tiba. Ketika sedang kita lakukan, bukannya menikmati, pikiran kita malah memikirkan hal-hal lain lagi.”

Yoda mengangguk mulai mengerti maksud Sukarman.

“Sekecil atau sesering apa pun kegiatan yang kita lakukan di setiap harinya, kita bisa menikmati hal itu hanya dengan sadar kita melakukan hal itu. Ya, semuanya menjadi hambar ketika melakukan sesuatu tapi pikiran kita sedang tak disitu, melayang entah kemana. Pikiran dan tubuh jadi tak besinergi. Mungkin itu maksud bapak, mengapa saya begitu menikmati segala hal yang saya lakukan, yang saya lakukan hanya sadar sedang melakukan itu, Pak,” jelas Sukarman dengan kepala menunduk tak ingin merasa menggurui.

Yoda mengangguk setuju, kini ia paham akan kehampaan hati yang selama ini menghampirinya. Bukan perkara apa saja yang ia mampu dapatkan, tapi bagaimana ia selalu sadar di setiap tindakan. Menikmati di setiap detik apa-apa yang ia lakukan.

“Terima kasih Bapak Sukarman. Hari ini aku belajar tentang hidup pada seorang yang sederhana dalam memaknai hidup,” lirih Yoda meninggalkan rumah Sukarman.

Pelaihari, 11 Juli 2014

Sumber foto : Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s