Pelanggaran Hukum Kemanusiaan Internasional oleh Israel

serangan udara di gaza (1)Media-media dunia kini menyoroti tindakan agresi militer Israel ke wilayah Gaza, Palestina. Atas dasar penculikan dan pembunuhan tiga orang remaja yang diduga dilakukan oleh kelompok Hamas pertengahan juni lalu inilah yang memicu serangan udara dan pembunuhan terhadap warga sipil di Jalur Gaza. Serangan yang dilancarkan pada saat rakyat Palestina menyambut khidmat bulan suci Ramadhan.

Pihak Israel dengan membabi-buta melancarkan serangan udara hingga ratusan titik di Wilayah Gaza. Lagi-lagi sasaran yang dituju hanyalah hasil klaim sepihak Israel bahwa di wilayah tersebut merupakan sentral kegiatan militer Hamas. Rumah-rumah warga sipil, mesjid dan fasilitas umum lainnya dianggap sebagai target militer mereka. Bahkan jika seandainya rumah tersebut memang benar digunakan untuk tujuan militer, serangan juga harus sesuai dan tindakan pencegahan juga harus dilakukan untuk melindungi warga sipil yang tak berdosa.

Arogansi serangan udara Israel yang tak memperdulikan nilai kemanusiaan ini telah merenggut nyawa puluhan penduduk Palestina, tak terkecuali anak-anak dan wanita yang merupakan pihak yang tidak ambil bagian dalam permusuhan. Serangan Israel merupakan bentuk pelanggaran keras terhadap Hukum Kemanusiaan Internasional yang telah tertuang dalam Konversi Jenewa dan Den Hag.

Bahkan jauh sebelum itu, aturan bersih dalam berperang telah disepakati Di zaman India kuno, terdapat sejumlah catatan. Misalnya Hukum Manu, yang menguraikan jenis-jenis senjata yang tidak boleh dipakai. “Bila orang berperang dengan musuh dalam pertempuran, dia tidak boleh menyerang dengan senjata yang tersembunyi. Menyerang dengan senjata yang berduri atau beracun atau yang ujung-ujungnya menyala dengan api. Ada juga perintah agar tidak menyerang musuh yang kedua tangannya berada dalam posisi memohon atau orang yang sedang tidur, atau orang yang sudah kehilangan pakaian pelindungnya, atau orang yang telanjang, atau orang yang tidak bersenjata, atau orang yang menonton tanpa ambil bagian dalam peperangan.

Dalam Hukum Islam pun menyatakan bahwa “non-kombatan yang tidak ambil bagian dalam pertempuran seperti perempuan, anak-anak, rahib dan pertapa, orang lanjut usia, orang buta, dan orang gila tidak boleh dilecehkan, apalagi dibunuh. Khalifah pertama, Abu Bakar, menyatakan, “Jangan memutilasi. Jangan membunuh anak kecil atau laki-laki tua atau perempuan. Jangan memotong kepala pohon palma atau membakarnya. Jangan menebang pohon buah-buahan. Jangan membantai ternak kecuali untuk makanan.”

Lihatlah, di zaman dimana tak ada PBB ataupun hukum yang menaungi tentang Hak Asasi Manusia (HAM) saja, terdapat aturan yang disepakati agar tidak merugikan di pihak yang tak memiliki andil dalam peperanngan. Betapapun berkecamuknya peperangan di zaman dahulu, kedua belah pihak bahkan bersepakat untuk tidak menghancurkan pepohonan apalagi permukiman penduduk.

Lihatlah, di zaman dimana manusianya masih bodoh tak mengenyam pendidikan. Peperangan berlangsung secara ‘sehat’, berlangsung secara adil tanpa merugikan warga sipil yang tak tahu apa-apa.

Jauh berbeda dengan penyerangan Israel terhadap Palestina. Sangat tak bermartabat dan berprikemanusiaan. Apa yang dilakukan Bangsa Israel adalah sebuah tindakan barbar yang sangat memalukan.

Konferensi Perdamaian di Den Hag pada 1899 dan 1907 bahkan menetapkan hukum dan tata cara perang, serta deklarasi yang melarang praktek-praktek tertentu, termasuk pemboman terhadap kota yang tidak mempunyai pertahanan, penggunaan gas beracun dan peluru berhulu lunak.

Sedangkan Konferensi Diplomatik tentang penegasan kembali dan Perkembangan Hukum Humaniter Internasional yang diselenggarakan di Jenewa menetapkan dua protokol, yang pada Protokol I berisi mengenai perlindungan bagi korban akibat pertikaian internasional.

Protokol I jelas menggambarkan tentang perlindungan penduduk sipil. Pihak-pihak yang terlibat pertikaian harus selalu membedakan anatara masyarakat sipil dan pasukan perang. Perlakuan khusus harus diberikan untuk melindungi perempuan, anak-anak, petugas kesehatan dan terhadap transportasi peralatan dan persediaan obat-obatan.

Dan sekitar tahun 1967, Dewan Keamanan PBB menegaskan bahwa hak asasi manusia harus dihormati oleh semua pihak yang terlibat pertikaian; mereka harus mematuhi semua kewajiban yang telah diterima dalam Konvensi Jenewa.

Sehingga telah jelas, serangan yang dilancarkan oleh Pihak Israel telah melanggar Hukum Kemanusiaan Internasional yang telah disepakati banyak negara. Pemboman pada sebuah kota, penyerangan terhadap warga sipil tanpa pandang bulu, dan tidak ada jamianan keselamatan petugas kesehatan untuk memasuki wilayah konflik merupakan bentuk pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia.

Sayangnya, PBB yang merupakan simbol kesatuan dunia hanya diam saja, ketika Israel dengan peralatan canggihnya memborbardir wilayah Gaza tanpa ada perlawanan yang cukup berarti dari pihak lawan. PBB seharusnya menjadi penengah yang mengambil sikap responsif terhadap kejahatan kemanusiaan yang terjadi di wilayah Gaza.

Lambannya sikap PBB dalam menyikapi hal ini merupakan indikator bahwa sesungguhnya mereka tak serius dalam menegakan Hukum Kemanusiaan Internasional yang melingkupi aturan-aturan dalam perang. Bisunya suara PBB kali ini menandakan bahwa perdamaian dan hak asasi manusia yang mereka agungkan hanyalah kata-kata manis yang membohongi masyarakat dunia.

Masyarakat dunia sedang menunggu ketegasan PBB untuk menyudahi agresi militer berkepanjangan ini. Jangan sampai hak asasi manusia yang didengungkan selama ini hanya gaung kosong yang tak memiliki kekuatan.

Sumber Foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s