Monolog Diri tentang Ketenangan

ketenangan hatiAku mengambil napas dalam. Menghembuskan dengan perlahan. Berharap agar hati menjadi tenang, menjadi damai. Tapi ternyata ketenangan tak bisa dengan mudah didapat dengan mengambil napas ataupun memejamkan mata dengan perlahan.

Ketenangan hidup aku rasa tak bisa dibeli dengan uang. Banyaknya manusia kaya raya hidupnya masih terbelenggu oleh kegelisahan. Materi yang dimilikinya mungkin saja dapat membeli villa di pinggir kota, menukarnya dengan tiket liburan ke Bahama, atau membangun cottage di pulau yang tak berpenghuni. Tapi sanggupkah ketenangan hadir menyeruak bersamanya. Sebagian orang mungkin bisa membeli segalanya, tapi bisakah mereka membeli ketengangan hati, mengusir segala kesedihan, kekalutan, dan nafsu yang tak pernah puas.

Aku merasa hidupku telah berada di track yang diimpikan banyak orang. Walaupun tidak hidup dengan bergelimang harta, syukur berlimpah, aku tak pernah merasa kekurangan. Mungkin banyak orang di bawahku menginginkan hidup sepertiku. Akan tetapi, selalu saja. Ketenangan dalam hati tak mampu aku reguk setiap saat. Aku merasa, terkadang hati ini selalu gelisah, tanpa aku ketahui apa itu penyebabnya. Seolah ketenangan itu menghilang dan pergi tanpa permisi.

Aku memikirkan dalam diam. Apakah orang kaya adalah orang yang mampu membeli apa saja. Dengan menggesek atau membuka dompet, sanggup membeli sesuatu dengan mudah. Tapi sanggupkah mereka membeli ketenangan, kedamaian di dalam hati ini. Jika orang kaya mampu membeli sesuatu yang telah dibandrol dengan sebuah harga, sedangkan ketenagan tak pernah dijual dimanapun. Apakah definisi kaya itu masih bisa disematkan kepada siapa-siapa yang memliki harta? Bukankah hidup adalah bukan tentang seberapa kita memiliki banyak, tapi tentang kita yang menikmati sekecil apapun itu nikmat.

Aku mulai bersandar di dinding kamar. Merenungi segala sesuatu yang tak pernah aku temukan jawabannya. Apakah manusia harus senantiasa menjawab segala pertanyaan dalam hidup? Seberapa besar rasa ingin tahu manusia terhadap segala hal. Sejak kecil kita bertanya segala hal yang remeh temeh tentang hidup. Mengapa sepeda bisa berjalan, mengapa pohon bisa tumbuh tinggi padahal dia tak makan, mengapa burung bisa terbang, dan pesawat yang besar juga bisa terbang. Mengapa kapal yang besar tak tenggelam sedangkan batu yang jauh lebih ringan langsung tenggelam ketika menyentuh air.

Banyak sekali pertanyaan di masa kecil kita yang tak bisa dijabarkan di sini. aku hanya mengungkit ingatan saja. Betapa kita terus bertanya tanpa lelah, betapa kita selalu merengek meminta jawaban atas pertanyaan kita.

Sekarang kita telah dewasa. Pertanyaan dalam hidup semakin lebih kompleks dan kita harus menjawabnya sendiri. Haruskah disaat ini kita berhenti mencari, menyerah untuk mendapatkan jawaban yang tepat. Ya, berpuas diri dengan jawaban yang tak memuaskan hati. Kita diminta untuk menolerir sesuatu yang belum terjawab.

Jika waktu kecil terlintas pikiran tentang hal ini. Mungkinkah orang tuaku dan orang dewasa lainnya sanggup menjawab pertanyaan ini dengan lugas. Dimanakah aku dapat mencari ketenangan? Adakah jawaban yang kudapatkan jika aku bertanya tentang hal itu?

Kini aku menatap langit-langit kamar, mentap kilauan bohlam lampu yang ketika aku turunkan pandangan menyisakan silau. Mungkinkah kita tak mungkin mendapatkan ketenangan sejati. Mungkinkah ketenangan itu hanya fatamorgana. Ataukan ia hanya seperti candu yang akan selalu kita cari dan cari, lalu kita melupakan candu sebenarnya bukanlah obat, dia malah menghancurkan diri kita. Mungkinkah kita telah tertipu untuk terus mencari ketenangan dengan hirup pikuk dunia di luar sana.

Aku masih tak mampu menjawab, mengapa para penganut agama yang taat, para bikhsu buddha, atau sebagian orang lainnya seakan telah menyimpan ketenangan di hati, bahkan sakin banyaknya simpanan mereka, itu menyeruak di wajah-wajah mereka. Meneduhkan mata orang lain yang melihatnya.

Mungkinkah ketenangan itu berarti mendekatkan diri kepada Sang Tuhan?

Tapi mengapa, banyak orang—termasuk aku—yang masih melanggar keingianan Tuhan. Aku merasa, mengikuti perintah Tuhan sangat berat, seperti sesuatu yang mustahil untuk selalu dikerjakan. Apakah mendapatkan ketenangan sejati membutuhkan perjuangan yang membuat hati tertolak untuk mewujudkannya. Atau jangan-jangan hati ini telah tertutupi banyak noda, sehingga ketenangan yang selama ini tak terlihat, padahal sudah berada di depan mata.

Aku bingung, semakin aku terus mencari, menelusuri jejak, semakin aku tersesat dan kehilangan arah. Aku merasa semakin jauh dari ketenangan. Seoalah ketenangan seperti gadis perawan yang sudah terlanjur benci dengan perjaka buruk rupa.

Ataukah sesungguhnya wujud dari ketenangan tidak untuk dicari? Dia datang begitu saja, bahkan disaat kita tak memintanya datang. Mungkin saja ada benarnya. Kita selama ini tiba-tiba saja merasakan hati ini damai ketika merasakan hujan turun. Hati ini terasa tentram ketika melihat anak-anak tetangga yang lucu bermain dengan rukun. Hati ini seperti ditiup embun, ketika melihat teman kita mendapatkan kabar bahagia.

Apakah sejatinya ketenangan itu datang sendiri tanpa harus dicari?

Aku masih belum mampu untuk menyimpulkan, yang aku tahu pertanyaan ini masih belum terjawab dengan tepat. Berbeda ketika aku bertanya pada saat kecil kepada orang tuaku, mengapa burung bisa terbang?

Pelaihari, 20 Juli 2014

Sumber foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s