[Cerpen] Meja Kayu

Meja hias kayuCerpen ini sudah lama kutulis. Sempat dikirimkan ke surat kabar tapi tak pernah dimuat. Semoga kalian suka membacanya. 😀

***

Aku masih jelas teringat ketika dulu waktuku kecil. Saat dimana ayah berbincang denganku di kursi halaman belakang rumah. Ketika ibu telah menghilang entah kemana. Hanya kami berdua di sana.

Saat itu ayah bercerita tentang kisah si pemahat kayu yang sangat mencintai meja kayu hasil ciptaannya. Sehingga dia tak mau jauh darinya, sehingga dia tak ingin sekalipun menjual, berapapun harganya.

Saat itu, cerita ayah hanya kuanggap sebagai cerita rekaan. Walaupun aku masih anak-anak, tetapi aku masih mampu berfikir logis, karena manusia tak akan pernah mungkin untuk mencintai kayu—benda yang tak mampu bergerak, apalagi memeluk.

Saat itu, ayah sangat antusias untuk bercerita. Seakan dia telah menghafalnya di luar kepala. Tak pernah berfikir, apalagi lisan menghasilkan jeda. Setiap bait kalimat dilontarkan dengan penuh penghayatan, seakan cerita itu adalah mitos nenek moyang yang harus diteruskan dari satu generasi ke generasi lain.

Saat itu ayah bercerita, seperti ini:

“Nak, inginkah kamu mendengarkan kisah yang sangat mengharukan untuk kamu dengar?”

Aku mengerenyitkan dahi. Jarang sekali ayah bercerita, apalagi cerita yang mengharukan. Awalnya aku keheranan, tak berapa lama aku hanya mengangguk kesenangan.

“Siapakanlah telingamu untuk mendengar. Siapkanlah hatimu untuk menerima.”

Aku bertambah bingung. Ayah sedang ingin bercerita atau sedang bersajak. Tak mampu aku memahami kalimat ayah di awal pembukaannya saja.

“Ini kisah tentang pemahat kayu. Dia tinggal di hutan seorang diri. Tanpa istri, anak, apalagi tetangga. Hidupnya bertumpu pada hasil memahat kayu yang sudah menjadi keahliannya. Beberapa waktu yang dia kehendaki, dia pergi keperadaban untuk menjual hasil karyanya. Bertukar dengan barang-barang yang dapat dia makan sekembalinya dia ke hutan.”

Aku mendengarkan dengan penuh seksama. Ini sepertinya akan menjadi dongeng yang indah, mengalahkan kedigjayaan Pinokio atau Cinderella.

“Begitulah hidup si pemahat kayu itu. tak ada hal istimewa yang mampu dia banggakan. Dia bekerja hanya untuk bertahan hidup, dia hidup lama-pun tak ada manusia yang perduli. Dia mati hari ini dicakar beruang-pun tak ada yang mencari. Begitulah nasib pemahat kayu tersebut, hidup seorang diri. Dia mampu keluar dari mainstream, dia bukan menjadi makhluk sosial, walaupun dia masih menjabat sebagai manusia.”

Aku semakin tak paham dengan kata-kata yang ayah katakan, mungkin waktu itu hanya faktor umur yang menghalangi pola pikirku. Kata-kata ayah waktu itu penuh dengan kiasan yang menyembunyikan makna sebenarnya.

“Suatu hari, dia berjalan jauh masuk ke dalam hutan. Mencari kayu sebagai bahan untuk karyanya. Setelah jauh berjalan, menebas segala semak berduri yang menghalangi jalannya. Dia akhirnya menemukan. Sepotong kayu yang tumbang. Kelihatannya baru malam tadi roboh dihantam angin dan hujan yang menghujam. Kayunya lembut, sepertinya mudah untuk dipahat. Urat kayunya keluar dengan indahnya. Pemahat kayu itu tersenyum bahagia, di perjalanan pulang ke gubuknya dia bernyanyi riang, kayu di tangannya akan menjadi masterpiece kali ini.

“Ayah, Masterpiece itu apa?” Aku bertanya waktu itu, karena memang aku sama sekali tak tahu.

Masterpiece itu adalah karya terbaik, hasil karya yang spektakuler yang pernah dia ciptakan. Setiap seniman pasti memiliki karya masterpiece-nya,” ayah menyerumput teh hangatnya.

“Ijinkan ayah menyelesaikan cerita ini nak. Di gubuknya, pemahat kayu itu berlekas memahat kayu temuannya. Dia ingin membuat meja, meja terindah yang selama ini diidamkannya. Meja yang penuh dengan karya seni hasil imajinasi jangka panjangnya. Berhari-hari pemahat kayu itu menyelesaikan mejanya, penuh dengan kehati-hatian, kecermatan, ketelitian dan kesabaran tinggi. Dia ingin mengeluarkan keindahan urat kayu dengan penuh pesona, dia ingin memperlihatkan keahlian pahatannya untuk menghasilkan lekuk kayu yang menawan. Dan akhirnya perjuangannya berakhir, harapannya kini terwujud. Terciptalah meja kayu yang benar-benar indah mempesona. Tak pernah sekalipun pemahat kayu itu melihat meja kayu yang indah ini sebelumnya. Tak ada yang mengalahkannya, toko furniture atau meubel ternama tak pernah memiliki meja ini sebelumnya. Kebanggaan sempurna dari seorang pemahat kayu.”

“Terus yah? Apakah meja kayu itu dijual dengan harga yang mahal setelahnya?”

“Tidak nak, sebagaimana bentuk kebanggaannya. Dia tak ingin menjual karya masterpiece-nya. Dia hanya ingin menikmatinya, menggunakannya di dalam gubuk yang tak ada satupun perabotan yang memenuhi sebelumnya. Meja bisa dibuat kapan saja, karya masterpiece hanya dibuat sekali seumur hidupnya. Dia hanya ingin menikmatinya.”

“Ohh, begitu ya yah.”

“Iya, tetapi hal ini tak berselang lama. Ada sekelompok manusia yang memasuki hutan yang menjadi tempat tinggalnya. Mereka berkunjung ke gubuk pemahat itu, tak ubahnya seperti tamu yang tak diundang. Pemahat itu tak menyukai atas kedatangan mereka, tetapi segerombolan manusia itu dengan sekehendak hati memasuki gubuknya dan melihat-lihat berbagai hasil pahatan sang pemahat. Sampai akhirnya pemimpin dari kelompok itu sangat antusias melihat meja kayu yang menjadi masterpiece sang pemahat.”

“Terus apa yang dilakukan orang itu yah?”

“Orang itu sangat ingin memiliki meja itu. Dia menawar dengan harga yang sangat tinggi. Tentu saja pemahat itu menolak dengan keras. Tetapi tak ada negosisasi bagi para manusia kaya harta dan kekuasaan. Kekerasan adalah jalan yang paling mudah untuk mendapatan keinginan. Sudah barang tentu manusia miskin kalah dibuatnya. Meja kayu itu berpindah tangan ke rumah mewah manusia kaya itu, nak..”

“Mengapa bisa begitu, yah? Ini sama sekali tak adil..” aku protes keras, ini bertentangan dengan nurani yang orang dewasa sering ajarkan.

“Tak ada keadilan ketika kepentingan manusia kaya dan manusia miskin bertolak belakang. Akan ada manusia yang dirugikan, dan itu sudah jelas adalah si manusia miskin. Tangan-tangan yang tak mempunyai kekuatan, kaki-kaki yang tak sanggup menopang, dan lisan yang tak pernah didengar. Semua itu milik manusia miskin, nak..!”

“Lalu apa pemahat itu menerima meja kayunya dibawa pergi, yah?”

“Dia mencoba menerimnya dengan ikhlas. Seraya berharap, semoga manusia kaya itu tak menemukan letak cacat di meja kayu itu.”

Cerita itu berakhir. Dulu aku hanya menganggap itu sebagai cerita biasa, tak ada arti dibaliknya. Tak pernah kupercaya cerita itu nyata di kehidupan manusia. Sampai ketika ayah meninggal seminggu yang lalu. Dan kudengar jelas kata-kata terakhirnya di mobil ambulan yang membawa kami ke rumah sakit.

“Nak, Ayah yakin sudah sedari lama kamu ingin melihat wajah ibumu. Sosok yang melahirkanmu. Buang keinginan itu, nak. Buang jauh-jauh sejauh kamu bisa. Karena ibumu pergi mencari kehidupan yang lebih baik. Ya,.. Meja kayu Ayah telah pergi dan sekarang berada di tempat yang mewah.”

Tak sempat aku bertanya banyak, ayah diam membisu. Apa maksud semua ini? Ibu..? Pergi..? Meja Kayu..? Ayah..? Mewah…? Oh tidak, mengapa hal ini dibuat menjadi rumit ketika satu kalimat ringkas mampu menjelaskan semuanya.

Tak mampu aku mengerti hingga sekarang. bahkan saat jasad ayah telah luruh dengan tanah. Aku tak berani mengambil kesimpulan, tetapi cerita ayah tentang sang pemahat kayu yang telah kehilangan meja kayu kesayangannya, telah membuat aku sedikit membuka mata. Ayah bercerita dengan tersirat tentang keberadaan ibu. Dan aku mengerti maksud ayah. Dia tak ingin letak cacat dan aib dari ibu diketahui orang lain—termasuk aku. Seperti pemahat yang berharap cacat kayu di mejanya tak terlihat.

Terima kasih akan cerita yang tak pernah memberikan jawaban pasti ini, yah. Aku akan selalu mengingatnya, dan aku akan mengambil pelajaran dari itu.

Sumber foto : Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s