[Cerpen] Tamparan Kecil dari Sahabat

tamparan sahabatCerpen ini terbilang cukup panjang. sekitar 13 halaman. Sebelumnya pernah diikutkan dalam lomba menulis cerpen tentang politik. tapi, lagi-lagi gagal. hehe..

***

Sore itu aku sedang asyik bermain kelereng dengan teman-temanku. Di pekarangan rumah yang tandus, tak mampu ditanami sayuran, dan tak mau didekati rerumputan liar. Mungkin sudah takdirnya pekarangan ini menjadi lahan permainan kami dan debu-debu yang berterbangan itu adalah wujud kebanggaan tanah, tidak subur bukan berarti tak berguna.

Ada satu pohon mangga yang sudi tumbuh di pekarangan ini. Pohonnya berdiri tegak, besar, seperti raksasa. Mungkin itulah alasannya mengapa tanah pekarangan ini tak subur, pohon itu telah menghisap semuanya, memakan hara dengan rakus dan menjadikan dirinya besar menjulang tak terpanjat lagi. Pohon itu tepat berada di atas kami, menaungi semuanya, menjadikan kami nyaman untuk menghabiskan waktu bermain di luar rumah. Tak ada acara televisi yang lebih seru dibandingkan kebersamaan kami.

Tak berlangsung lama, kakek keluar rumah menatapku setelah aku berteriak karena merasa dicurangi oleh temanku. Dia pintar sekali memajukan undas ketika sedang mengunting kelerengnyadan aku merasa dirugikan, aku kesal:

“Ahh, kamu curang, Der, tadi undas kamu ngga di situ,” aku berteriak, mendakwa kecurangan Dery

 “Ngga, kok, Fi, undasku mulai tadi di sini. Kamu aja yang ngga melihat.”

“Ahh, kamu bohong, Der,” Santo ikut menghakiminya.

“Iya, Der. Jangan bohong kamu, dosa tauk,” kata Firman tak mau kalah, semua teman membelaku, Dery terpojokan. Raut wajahnya berubah hendak menangis.

“Alfi, kalau berkelahi berhenti saja mainnya,” kakek menengahi perdebatan kami. Semua menjadi senyap mendengar ancaman beliau. Dery mulai sesengukan, kami mulai melempar pandang.

Tak tega rasanya memberhentikan permainan ini hanya karena kecurangan kecil. Aku menuju Dery yang masih sesenggukan sambil tangannya mengais tanah. Terlihat penyesalan, walaupun egonya malu untuk mengakui kesalahan.

“Sudah, Der, ayo kita main lagi. Tapi, kamu jangan curang lagi, ya,” aku mengulurkan tangan mengajak Dery bangkit, tak ada permohonan dan pemberian maaf secara resmi, ketika tangan kami saling menjabat dan bangkit untuk memulai permainan kembali. Di saat itulah kami berdamai tanpa menyimpan dendam. Tak ada ego yang terpendam, semuanya hilang seketika dan tergantikan tawa lepas kami.

Kecurangan tetaplah kecurangan, di usia dini kami telah merasakan pengkhianatan kecil atas aturan permainan yang telah ditetapkan. Entah siapa yang mengajarkan. Di masa anak-anak, kami telah memprotes keras akan ketidakadilan yang terjadi. Di usia muda kami telah menetapkan hukum dan sanksi sederhana yang siap dilemparkan kepada siapa saja yang bersalah, tanpa pandang bulu—Biarpun dia lawan main, tetangga bahkan sahabat. Tapi, ketika kami sudah saling berjabat dan tersenyum, semua itu menghilang, menguap tak tersisa. Memang indah saat menjadi anak-anak, ketika hati tak pernah diisi dendam dan kekesalan yang dipendam.

Permainan kami dihentikan oleh matahari yang terbenam. Sebagian orang tua teman-temanku menjemput mereka untuk pulang, mandi. Merangkul mereka dengan mesra, menanyakan dengan ramah, menang atau tidak hari ini? Aku hanya bisa iri melihat semua itu. Hari ini aku kalah dan kekalahan hari ini tak membuatku menyerah, besok aku akan menguras habis kelereng mereka.

***

“Der, coba kamu ke sini, ke kamar kakek,” kakek memanggilku ketika aku asyik menghitung jumlah kelerengku. Aku pura-pura tak mendengar, hitunganku belum terselesaikan.

“Der..! Kamu tak dengar, ya?”

“Iya, Kek.” Terpaksa aku mendatangi kakek

“Ada apa, Kek?”

“Sini, kamu rebahan di samping kakek.”

Aku mengikuti perintahnya, mengambil bantal berulas kain, aku menatap kakek dengan lekat, setiap ucapannya adalah guru bagiku.

“Kakek mau menasihati kamu, Fi.”

“Bukannya kemarin malam kakek sudah menasihati Alfi? Tak bosan, Kek.”

“Husy, kamu jangan ngomong sembarangan. Cuma kakek seorang yang membesarkan kamu, Fi. Kamu perlu nasihat agar selalu berjalan lurus, agar kamu memiliki pedoman untuk ke depan. Kamu itu gelas kosong, Fi, kalau kakek tak mengisinya dengan nasihat kebaikan, nantinya kamu akan terisi dengan keburukan. Ingin hidupmu menjadi buruk nantinya?”

Aku terdiam, sadar, bahwa hanya kakek lah seorang yang membesarkanku. Ayah dan ibu telah meninggal dua tahun lalu, kecelakaan sepeda motor. Orang tuaku menjadi korban tabrak lari, aku tak tahu siapa yang menabrak mereka, yang kutahu hanya manusia pengecut yang tak mau bertanggung jawab. Usiaku kini dua belas tahun, sesungguhnya aku masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua. Aku masih ingin bermanja dengan mereka. Sekarang kakek memanjakanku dengan disiplin tinggi, keputusannya tegas tak terbantahkan.

“Alfi, Pramoedya pernah berujar, ‘Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.’ Tak perlu kamu memusingkan artinya apa, yang jelas makanlah dari hasil usahamu, jangan pernah mengambil punya orang lain.”

Aku hanya bisa mengangguk tanpa mengetahui maksud kakek dengan jelas. Kakek sangat menyukai dengan sastra, beliau pernah menasihatiku, orang pintar tanpa mengenal sastra hanyalah menjadi hewan yang cerdas. Beliau sangat menyukai karya-karya Pramoedya. Sampai saat ini pun aku heran, darimana letak keindahan karyanya? Membaca karyanya aku tak mengerti, bahasanya terlalu tinggi. Mungkin butuh pertambahan usia untuk bisa memahami.

“Belajarlah juga menulis, Fi. Tak apalah kamu mulai dengan menuliskan keseharianmu, tak bagus juga tak apa. Usiamu masih muda kamu bisa menjadi orang besar jika dimulai dari sekarang.”

Aku melongo atas ucapan kakek, menulis? Tulisanku saja jelek, kepala guru pening memeriksa hasil ujianku, teman-temanku mengejek tulisanku seperti kumpulan cacing, amburadul, tak bermakna.

“Kek, tulisan Alfi jelek!”

“Kakek tahu, tak usah pusingkan tulisanmu, yang terpenting isinya.”

“Tapi Kek, bagaimana bisa memahami isinya jika tulisanku memang tak bisa terbaca,” aku membela diri, tak ingin mendapat tugas tambahan untuk menulis setiap hari.

Mendengar itu kakek mencubitku, “Maka dari itu kakek menyekolahkanmu untuk bisa belajar menulis-membaca. Tak inginkah tulisan sanskertamu itu berubah?”

 “Aww, iya, Kek,” bekas cubitan kakek membekas jelas. “ Tapi, Kek, aku kan tak hobi menulis.”

“Maka dari itu, Fi, kakek mau membiasakanmu menulis—sejak dini. Seperti Pramoedya, seperti Rendra, kamu bisa mengubah nasib bangsamu melalui tulisan. Tak perlu kamu letih berteriak, cukup menulis saja suaramu akan terdengar menggema hingga seluruh Nusantara.”

“Apa benar itu, Kek?” aku mulai penasaran dengan apa yang kakek katakan. Sejak kematian orang tuaku, aku selalu menuntut keadilan. Jasad ayah ibu sudah menjadi tulang, tapi pelaku yang menabrak mereka tak jua ditemukan.

“Benar itu cucuku. Sekali lagi, Pramoedya pernah berujar, ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.’ Kakek yakin, kamu pasti mau selalu dikenang oleh banyak orang, menjadi pedoman generasi di bawahmu, bahkan di saat kamu telah tiada. Menulis adalah jalannya. Umur tulisanmu bisa lebih panjang dari umur hidupmu.”

Malam ini nasihat kakek lain dari biasanya. Kakek yang teramat cinta dengan sastra, kini telah menebar jaring agar aku mengikuti jejaknya. Hasutan kakek yang mengaggap menulis adalah jalan untuk bekerja pada keabadian telah membuatku berhasrat untuk mulai menulis. Di usia ketika teman-temanku masih hobi membaca komik.

“Iya, Kek, aku akan ingat pesan kakek.”

“Ehm, ehm..!” kakek terbatuk, lalu meneruskan, “Kakek tak butuh kamu ingat, kakek butuh usahamu. Mulai besok kakek mau kamu menyetor tulisan kepada kakek, terserah kamu mau menulis apa saja.”

Berat rasanya untuk mengiyakan keinginan kakek. Tapi, tak ada yang benar-benar instan di dunia ini. Aku mengangguk. Segala keinginan butuh usaha, usaha yang dilakukan jauh-jauh hari akan menghasilkan yang terbaik, itu salah satu nasihat kakek.

***

“Fi, nih air,” tawar Firman ketika aku baru saja melangkahkan kaki pada trotoar setelah berorasi di bundaran kota ini.

“Terima kasih, Man.”

Aku terima air mineral yang ditawarkan, membasahi kerongkongan yang sedari tadi telah mengering. Setiap kalimat telah kukeluarkan dengan lantang, tak tahu apakah yang kukatakan didengar pengguna jalan atau hanya menjadi penyejuk untuk telinga mereka, karena telah bosannya mendengar suara mesin kendaraannya sendiri.

“Gila kamu, Fi. Semangat sekali teriak-teriak, seperti digaji saja.”

“Kamu jadi aktivis kenapa harus setengah-setengah, Man. Keluarkan saja apa yang kamu punya. Toh, ini untuk kemajuan negara kita. Itu telinga-telinga pejabat perlu disentil agar tidak jadi tuli.”

“Ahh, kamu terlalu berlebihan, Fi, kamu sudah menulis segala opini, esay, cerpen, bahkan puisi di koran-koran lokal, bahkan nasional. Semua tulisanmu selalu saja bersuara kritik untuk pemerintah, selalu saja tentang sengsaranya hidup menjadi si miskin. Kini masih belum cukup juga, kamu malah berteriak hingga suaramu serak. Aku rasa para pejabat di sana sudah mengerti apa yang kamu ingin sampaikan, Fi.”

“Mereka mengerti saja tak ada tindakan, apalagi jika kita hanya diam. Pejabat sekarang layaknya kucing, Man, jika suasana sepi, perut sudah kenyang, kerjaan apalagi jika tak tidur. Maka dari itu kita harus selalu membangunkan mereka.”

Air mineral di tangan telah habis. Kebanyakan kawan aktivis telah beranjak pulang, para petugas pengaman pun telah besiap kembali ke kantor mereka. Aku masih setia duduk berdua dengan Firman, teman masa kecilku, yang kini tetap menjadi sahabat mendukung segala pemikiranku, peredam atas aksi ‘nekat’ku, menjadi pendengar atas segala kekesalanku.

“Yah, sekali lagi tak perlu berlebihan dalam mengkritik, segala sesuatu pasti ada kekurangannya, tak ada pemerintahan sempurna yang pernah dijalankan di dunia ini. Tugas utama kita sebagai mahasiswa adalah belajar, kawan. Supaya kita lekas lulus, bekerja, dan hidup mandiri. Tak menyusahkan orang tua lagi, membuat mereka bangga karena telah berhasil membawa anaknya sukses di dunia.”

Aku terdiam sejenak mendengar perkataan Firman. Aku tak bisa memaksakan segala pemikiranku padanya. Dia juga memiliki pendapat kuat, hidup adalah tentang baik dan buruk berjalan berdampingan. Itulah mengapa Tuhan menurunkan iblis bersamaan dengan diturunkannya Adam dan Hawa, karena kejahatan merupakan takdir yang telah dituliskan-Nya. Itu yang selalu dikatakan Firman kepadaku. Sahabatku masihlah menjadi manusia yang selalu berdamai akan kehidupan.

Tapi, kalimat terakhir Firman membuatku kembali bertanya. Apakah orang tuaku akan bangga di akhirat sana, ketika melihat anak satu-satunya hanya menjadi mahasiswa kebanyakan yang lulus, lalu sibuk mencari kerja. Aku yakin mereka tak akan bangga, kakek pun apalagi. Biarkan aku berjalan ke arah yang berbeda, bukan karena aku membencimu kawan, tapi karena aku meyakini kebenaran di hatiku.

Aku menjawab perkataannya sebelum bersiap untuk pulang, “Kawan, Soe Hok Gie pernah bilang, ‘saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.’ Dan kamu pasti tahu, pohon apa yang aku pilih,” kuakhiri semuanya dengan senyuman, perbedaan bukanlah tempat untuk menjadikannya musuh. Aku masih membutuhkan sudut pandang berbeda agar aku tetap yakin akan jalan yang kulalui.

 “Hmm, aku tahu tentang kamu, Kawan. Aku selalu mendukungmu, walaupun acap kali kita berbeda,” dia balas tersenyum kepadaku, kami menaiki motor kami masing-masing, sebelum berpisah Firman berujar, “Kalau ada demonstrasi lagi ajak-ajak saja aku, karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.”

 “Siap, Boss.”

Hari ini aku telah melaksanakan tugas menjadi anak bangsa, jadilah saksi wahai ibu pertiwi, bahwa hari ini aku telah menyampaikan pesan jutaan rakyat Indonesia sebagai pengawal jalannya pemerintahan bangsa. Tak gentar melawan terik, debu dan cemoohan para kaum apatis.

***

Selepas kuliah aku tak mencari kerja, aku memilih untuk mencari beasiswa. Walaupun kuliahku acap kali terganggu akan kegiatan aktivisku sewaktu muda, aku masih haus akan ilmu pengetahuan. Memutuskan untuk melanjutkan ke pascasarjana. Kegiatanku menulis di koran harian masih berlangsung, sedangkan aktifitas demonstrasi turun ke jalan sudah mulai berkurang, lebih tepatnya menghilang.

Kegemaranku akan politik dan pemerintahan membuatku gemar menuliskan semuanya. Kumpulan tulisanku kini melahirkan beberapa buku yang disukai banyak orang, bahkan menjadi bahan rujukan perkuliahan di perguruan tinggi. Jelas, aku bangga. Kakek pun tak kalah bangga, cucu kesayangannya kini telah menjadi Pramoedya baru dalam wujud yang berbeda. Impiannya sewaktu aku masih kecil setidaknya kini terwujud, aku telah menulis dan mengukir sedikit demi sedikit pemikiranku ke dalam keabadian.

Bak gayung bersambut, pemikiran-pemikiran politis yang kutuangkan ke dalam buku, telah menarik banyak pihak untuk mengajakku turun langsung ke dalam ranah politik, menjadi wakil rakyat. Para petinggi partai memberikanku harapan besar: nama besarku, tulisan-tulisanku, sepak terjangku dalam ranah politik sejak menjadi mahasiswa merupakan modal besar untuk menarik simpati masyarakat untuk memilihku. Terlebih akan iming-iming materi yang akan aku dapat jika aku terpilih.

Aku sejenak berfikir akan idealisme masa mudaku yang sangat membenci pejabat di pemerintahan, tak lupa jua akan citra buruk para pejabat yang masih belum terbersihkan hingga sekarang. Aku meminta pendapat pada kakekku akan semua ini.

“Kamu sedang kerasukan, ya, cucuku?” kakek terkejut setelah mendengar perihalku untuk maju menjadi wakil rakyat pada pemilu nanti.

“Tidak kakek, aku serius, aku ingin mengubah sistem pemerintahan yang telah kotor ini. Aku ingin terjun langsung membersihkannya, Kek.”

“Kamu tak akan bisa, Fi, tak akan bisa,” kakek masih menggelengkan kepalanya, tanda tak setuju.

“Bisa, Kek. Aku telah membuktikan banyak terhadap kakek. Dulu aku tak bisa menulis, tapi sekarang atas usaha dan dorongan kakek jua, aku telah berhasil menjadi penulis.”

Kakek membenarkan letak duduknya, tujuh puluh delapan tahun usianya kini. Tubuh kakek sudah sangat renta, tapi pikirannya masih segar, tak tergoyahkan, “Kamu tak mampu membersihkan kolam ikan lele menjadi kolam renang, Cucuku.”

“Itu perumpamaan yang terlalu besar kakek, aku hanya perlu menguras sebentar. Tak ubahnya seperti membersihkan bak mandi rumah ini. Keadaan politik saat ini mendukung untuk memberantas segala bentuk penyimpangan, korupsi bakal hilang, Kek.”

“Ketika kamu terjun ke selokan, kamu pasti akan kotor juga, Fi. Jangan percaya kamu dengan slogan pemerintah yang ingin membersihkan kantor-kantornya, sudah berapa ratus kali mereka berkata seperti itu, membohongi jutaan manusia. Bayangkan, Fi, betapa besar dosa yang didapat ketika kamu membohongi jutaan rakyat.”

“Tapi, kalau bukan kita yang bersih ini, siapa lagi yang mau membersihkan negara ini, Kek,” aku tak mampu mendebat kakek lebih banyak, kini aku tatap wajah kakek yang dipenuhi oleh keriput.

Kakek menghela napas panjang, “Kamu sekarang menjadi sepertiku, Fi, menjadi keras kepala. Sudahlah, tempuhlah apa yang menurut kamu benar. Teguhkan hatimu dan ingat, jangan pernah kamu mengecewakan harapan rakyat negara ini. Kakek tak akan sudi menganggapmu sebagai cucu, jika kamu berubah menjadi munafik.”

Ancaman kakek keras sekali. Sorot matanya tajam menatapku.

Aku berjanji, Kek.   

***

Akhirnya aku terpilih menjadi wakil rakyat. Tak ada modal materi yang keluar banyak, nama besarku dan tulisan-tulisan yang kubuat secara intens pada saat masa pemilu, ditambah dengan janji-janji manis membuatku terpilih menuju gedung dewan.

Kakek meninggal dunia lima hari sebelum pemilu. Kakek tak pernah memilihku untuk menjadi pemimpin. Segala fasilitas kini aku dapatkan: Rumah mewah, Mobil pribadi, gaji besar beserta tunjangan-tunjangan tak masuk akal, serta istri cantik yang kunikahi beberapa bulan setelah aku resmi menjadi anggota dewan. Wanita akan datang dengan sendirinya ketika kita telah sukses dan kaya raya.

Kehidupanku berjalan dengan lancar. Kegiatanku menulis sekarang mulai berkurang, tapi masyarakat masih mempercayaiku sebagai pemimpin yang bijaksana. Setiap aku berada di luar, banyak masyarakat yang hormat tunduk denganku. Ketika di kantor kerjaanku layaknya surga, santai, tidur-tiduran sambil ditemani dengan sekertaris seksi yang tak diketahui istriku. Sungguh nikmat memang jadi pejabat. Aku melupakan semuanya. Aku menertawakan kebodohanku di masa muda, yang di bawah panas terik berteriak-teriak tak jelas, atau rela begadang menahan kantuk untuk menyelesaikan tulisan-tulisan tentang kritik terhadap pemerintah. Aku tersenyum kecut ketika sewaktu menjadi mahasiswa, aku mendoktrin adik tingkatku hingga mulutku berbusa untuk menjadi aktivis kampus. Aku pun merasa geli ketika mendapati rakyat negeri ini mudah sekali ditipu dengan janji-janji manis dan pencitraan palsu ketika masa pemilu.

Aku tertawa terbahak-bahak ketika mengingat masa itu. Mengapa masa mudaku diisi dengan keluguan sebagai manusia. Mengapa aku bisa betah bertahun-tahun menjadi aktivis, sedangkan berhura-hura menikmati masa muda pastinya akan menyenangkan. Aku menyesali karena keterlambatanku menikmati dunia ini, indahnya kefanaan yang ditawarkan.

 Handphoneku berbunyi, berasal dari Firman sahabat terbaikku. Sudah lama aku tak berjumpa dengannya. Dia memutuskan menjadi pedagang setelah kuliah. Firman, Firman, sia-sia saja kamu kuliah jika ujung-ujungnya hanya menjadi pedagang.

“Halo, Sahabat. Apa kabarmu?”

“Baik, Kawan, apakah kamu sedang sibuk?” jawab firman di ujung telepon di sana.

“Kebetulan hari ini aku lagi free, ada apa?”

“Kita ketemuan, yuk, sudah lama kita tak berdiskusi tentang banyak hal.”

“Ahh, kamu ini masih tak bosan-bosannya berdiskusi. Okelah, dimana kita bertemu?”

“Tempat kita biasa mangkal waktu jadi mahasiswa. Ingat? Warung Mpo Ijum.”

“Ahh, kita sudah sebesar ini, tak bisakah di tempat yang lebih mewah sedikit, Man.”

Di ujung telepon Firman tertawa kecil, “Kamu ini, namanya juga nostalgia. Melepas rindu dengan tempat-tempat yang mengiringi kebersamaan kita.”

“Ahh, bahasamu itu sudah berubah menjadi puitis sekarang, ya. Okelah, jam Sembilan malam kita bertemu, Kawan.”

“Siap, Boss.”

***

Warung Mpo Ijum tak banyak berubah ketika terakhir kali kami kumpul di sana. Dinding yang berasal dari anyaman bambu, sedangkan lantai hanya dari tanah yang telah padat, atap dari sirap telah banyak berlubang di makan usia. Usaha yang dijalankan Mpo Ijum seperti berjalan di tempat saja. Seperti menggali lubang, lalu ditimbun kembali lubang itu, tak ada peningkatan apalagi investasi.

“Alfi..! Sudah lama tak bertemu, perutmu makin buncit saja,” Firman langsung berteriak menyambutku ketika aku melangkahkan kaki masuk. Pengunjung warung makan yang rata-rata mahasiswa hanya bisa melongo, berhenti menyuap nasi di tangannya. Sedangkan, Mpo Ijum hanya bisa berdiri kaku, mungkin tak pernah dilihatnya seorang anggota dewan singgah di warung kecilnya.

 “Beginilah hidupku, Kawan. Hidupku telah makmur, makananku kini penuh gizi,” aku tertawa kecil menanggapi ejekannya.

“Itu bukan karena kamu makan bergizi, kamu terlalu banyak makan junk food. Makananmu sudah seperti para priyayi saja. Pasti juga kamu tak banyak gerak, lemak suka menumpuk kepada manusia yang malas, Kawan”

“Ahh, kamu ini sudah pandai, ya, menasihati aku. Bagaimana kabarmu, Kawan? Dagang apa kamu sekarang?” aku mencari topik lain, malu juga rasanya jika perutku ini menjadi bahan pembicaraan.

“Baik, selalu baik. Sekarang aku dagang baju. Standar sajalah, tak ada yang patut dibanggakan. Kalau kamu bagaimana? Tak pernah aku membaca tulisanmu lagi sekarang. Dimana tulisan-tulisanmu kini dikirimkan? Koran internasional?”

“Kamu benar-benar pandai mengejek sekarang. Aku sudah lama tak menulis, rasanya hampir sia-sia saja aku menulis dulu. Tak ada yang berubah karenanya, pemerintah pun tak memperdulikan. Seperti angin lalu sajalah kalau diumpamakan apa yang kulakukan dulu.”

Raut wajah Firman berubah heran. “Mengapa kamu berbicara seperti itu? Tak mau lagi kah kamu bekerja untuk keabadian. Mana itu mimpi-mimpi untuk menjadi Pramoedya, Rendra dan Gie. Sudah terbangunkah kamu dari mimpimu itu? Ataukah kamu sudah merasa Indonesia ini terbebas dari keterpurukannya.”

Aku terdiam sejenak mencari jawaban yang tepat. Sial, jika tujuan pertemuan ini hanya untuk menelanjangiku, tak sudi aku mendatangi tempat kumuh ini.

“Sudah hampir sepuluh tahun kamu menjadi anggota dewan. Apa yang telah kamu hasilkan untuk merubah negara ini, Kawan? Apakah kamu telah mewujudkan impian masa mudamu dulu? Membangunkan para pejabat yang ada di pemerintahan, atau jangan-jangan kamu sekarang malah ikut tidur. Terlalu nyaman sepertinya gedung dewan itu.”

“Cukuplah, Kawan, tak bisakah kita bernostalgia mengenang masa muda kita dulu saja?”

“Bukankah di waktu muda kita selalu membicarakan hal ini. Sudah lupa kamu rupanya, tak ada yang kita bicarakan selain kemiskinan, pemerintah, sumber daya alam, dan intervensi asing, bahkan tak ada tempat untuk wanita dan cinta di telinga kita.”

“Tapi, kondisinya sudah berubah sekarang. Negara ini terpuruk karena rakyatnya memang bodoh dan malas,” aku berkelit dari Firman. Tapi, sebagian pengunjung di warung makan ini terlihat geram oleh kata-kataku. Mereka menatapku dengan tajam, aku hanya bisa menundukkan kepala.

Firman menggelengkan kepala, dia meminum teh hangat dan tak sempat menawari aku untuk minum apa. Amarahnya seperti tertahan untuk menonjok wajah sahabatnya ini.  “Tak ada yang berubah, Kawan, kamu lah yang telah berubah. Rakyat Indonesia masih saja terpuruk hingga saat ini, kita masih menjadi babu di rumah sendiri. Kita masih saja kelaparan di tengah-tengah timbunan sumber daya alam. Tak ada yang berubah antara rakyat pada saat kamu berdiri, berorasi di bundaran kota dengan saat ini ketika kamu telah memakai dasi dan duduk di kursi dewan.”

Aku kini terdiam, kepalaku semakin menunduk, tak kudengar lagi kunyahan para pengunjung makan, tak kudengar juga Mpo Ijum yang sedang melayani pembelinya. Tak ada suara selain suara Firman yang kudengar. Warung ini beranjak sunyi, mencekam, dan siap memakanku bulat-bulat.

“Dimana Soe Hok Gie-ku yang dulu, yang garang dengan aparat, yang selalu geram dengan para pejabat. Dimana tulisan-tulisan yang selalu kunanti setiap minggunya, yang mampu menyulut emosi jutaan rakyat untuk bergerak, yang membuat para pejabat bersembunyi di rumah siputnya. Dulu kamu menyambung lidah rakyat kecil, Kawan. Sekarang ketika kamu menjadi anggota dewan, tempat yang tepat untuk benar-benar menyampaikan aspirasi mereka, kamu malah tertidur, atau lebih tepatnya sengaja untuk tidur. Kini aku seperti tak mengenal dirimu, apa yang merubahmu, Kawan?” runtut Firman panjang lebar, nada suaranya meninggi penuh dengan emosi, dicampur dengan isakan air mata yang ingin keluar.

Kini aku mengingat kembali masa-masaku dulu. Masa ketika aku sangat marah besar ketika teman-temanku berbuat curang ketika bermain. Teringat pula tentang pohon mangga di pekarangan yang dengan serakah menghisap unsur hara hingga tak ada tanaman yang bisa tumbuh di sana, mungkin kini aku juga serakah seperti pohon mangga itu.

Teringat pula ketika kakek dengan semangat mengajari aku menulis, saat aku ikut berorasi dengan damai hingga mendekati anarkis. Dulu tak aku perdulikan luka lemparan batu, atau pukulan pentung aparat, bahkan nyawa siap ditukar demi perbaikan negara ini. Teringat jua tentang tulisan-tulisanku yang menjadi pembicaraan hangat para dosen di kampusku, pengunjung warung kopi, hingga ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya sekolah di taman kanak-kanak. Betapa bangganya aku saat itu, ketika tulisanku dan aksiku menjadi inspirasi bergeraknya demokrasi.

Kini semua itu telah kulupakan, semua yang kulakukan dulu kuanggap sebagai kebodohan. Aku salah besar, ternyata ada yang lebih nikmat di antara berbagai fasilitas mewah dan beningnya wanita cantik, ia adalah merasakan pahitnya perjuangan. Kini tangisku tak mampu terbendung, ia mengalir di sela pipiku, beranak pinak turun melalui jenggot tipisku. Aku menyesal kakek. Aku menyesal ayah, ibu. Aku menyesal kawan.

“Alfi, masih ada waktu untuk membuktikan kepada ibu pertiwi. Hartamu tak kau bawa mati, tapi kebanggaanmu membela rakyat akan membuatmu tersenyum ketika nafasmu terhenti. Semua orang akan mengingatmu ketika kamu berbuat untuk mereka, sedangkan tak ada yang akan membanggakanmu ketika kamu hanya sibuk mengisi perut besarmu itu.”

Kali ini aku berani mengangkat kepalaku, melihat kondisi sekitar yang benar-benar menjadi patung menontoniku. Aku memeluk Firman erat.

“Kamu memang sahabatku, terima kasih. Besok aku akan bekerja..!”

Nb:

Undas : Kelereng yang menjadi andalan dalam permainan

Mengunting: Menggerakan kelereng dengan menggunakan jari tangan.

Sumber foto : Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s