Tempat Kita Dulu (Bagian 2)

Sambungan dari bagian 1

Kembali melanjutkan tulisan yang terpotong. Menghimpun kembali rekam jejak ingatan kita pada sebuah tempat yang dulu lama kita tinggali. Mengingat-ingat kembali waktu yang kita habiskan dengan suka dan duka di tempat tersebut. Memutar kembali masa lalu yang terkadang masih indah untuk kita kenang saat ini.

IMG_1482_1PTP masih memberikan semuanya. Tempat di masa kecil kita masih berdiri, walaupun sebagian darinya ada yang hancur dan telah berubah dari sebelumnya. Tapi dia masih mampu menghidupkan memori akan masa kecil kita dulu. Berkunjung ke sana seperti flashback pada masa saat kita masih polos, saat masih banyak hal yang kita tak ketahui tentang dunia ini, tentang penghianatan, tentang kebusukan, tentang kerasnya hidup yang nantinya harus dijalani.

Alhamdulillah, kita dibesarkan di tengah-tengah masyarakat yang memiliki kondisi ekonomi yang hampir seragam. Maka dari itu, kita tak banyak mengenal kemewahan. Kita tak terlalu banyak merengek kepada orang tua untuk minta ini dan itu. Aku merasa, kehidupanku dulu seperti tak ada beban. Aku tak iri dengan apa yang dimiliki teman-teman dan aku pun tak bisa memamerkan apa yang kumiliki kepada mereka. Karena memnag kita hanya hidup sederhana, bahkan mungkin bisa dibilang tertinggal dari segi kemodernan.

Gaya berpakaian kita dianggap kampungan. Tas sekolah kita sudah beberapa tahun tak diganti. Sepatu yang robek lalu dijahit kembali. Kaus kaki yang melar masih saja kita pakai lagi. Aku dulu, sepertinya tak memiliki keinginan untuk tampil di atas yang lainnya, kita semua hampir sama. Dan kita tak memperdulikan apapun tentang penampilan kita. Selama apa yang kita pakai dianggap wajar dan emenuhi aturan, itu sudah cukup.

Kesederhananan itulah yang sekarang aku impikan. Melihat kondisi saat ini, kita berlomba menjadi bangsa hedon, berpikir konsumerisme. Selalu saja ingin up date terhadap segala hal. Memikirkan terlalu banyak akan apa-apa yang kita tampilkan. Terlalu sibuk memoles tampilan luar dan melupakan betapa berharganya apa yang ada di dalam.

Mungkin kalian bisa menyanggah. Dulu kita masih anak-anak, kita tak memikirkan banyak tentang penampilan, gengsi dan kasta sosial. Ya, mungkin pikiran kita masih terlampau lugu untuk memikirkan itu semua. Tapi, di PTP, tempat itu membuat kita benar-benar terjaga dari kemodernan yang mencoba meruntuhkan kesederhanaan kita. Mungkin kita seperti terpenjara di PTP. Jauh dari pusat kota, pasar, dan hiruk pikuk lainnya, tapi aku jauh lebih suka seperti itu, terpenjara, terjaga dari keinginan berlebih dari hawa nafsu yang selalu ingin lebih.

Pintu Gerbang PTP yang masih berdiri tegak
Pintu Gerbang PTP yang masih berdiri tegak
Jalanan yang di kanan kiri ditumbuhi sawit
Jalanan yang di kanan kiri ditumbuhi sawit

Kembali mengingat tentang PTP. Gerbang masuknya masih saja sama. Besi-besi gerbang masih berdiri kokoh menyambut ketika masuk wilayah ini. Kondisi udara masih terasa sejuk. Tapi ada satu yang berbeda, ketika dulu di kanan-kiri jalan ditumbuhi oleh tanaman tebu yang tumbuh tak beraturan, berjejalan. Kini dihiasi oleh pohon sawit yang tertata rapi menciptakan lorong-lorong yang tak berujung.

Masih ingatkah kalian dengan Gunung Damarwulan? Sebuah bukit yang dengan lancang kita sebut gunung, dan beberapa kali kita naiki untuk melihat hamparan tebu yang berliuk-liuk ditiup angin. Tempat nomor satu untuk mengaggumi keindahan PTP. Ada dua jalur untuk sampai kesana, jalur memutar tapi lebih memakan waktu, atau jalur lurus yang sedikit berbahaya untuk tubuh anak-anak kita. Ada gubuk di atas bukit ini dan kita jadikan tempat untuk berteduh ketika kita telah puas menatap hijaunya alam. Masih ingatkah kalian dengan ini semua?

Gunung Damarwulan yang terlihat dari pinggir jalan
Gunung Damarwulan yang terlihat dari pinggir jalan

Ketika memasuki komplek perumahan, pepohonan yang besar dan teduh masih mendominasi tempat ini. Di jalanan komplek kini dihiasi oleh tanaman hias berwarna ungu yang dengan rutin dipangkas. Aspal jalanan masih saja sama, belum diperbaharui, sebagian memang ada yang berlubang. Hanya kondisi perumahan di wilayah ‘bawah’ yang banyak mengalami kerusakan dan tak berpenghuni.

Kondisi Balai Pertemuan masih berdiri tanpa berubah sejak dulu. Masih menjadi bangunan megah di antara bangunan yang lain. Berbeda dengan SD dan SMP, TK Tuntung Pandang masih terawat dengan baik. Karena memang TK ini masih difungsikan. Aku tak sempat melihat, bagaimana dan berapa jumlah murid TK saat ini. Masihkah imut-imut seperti kita dulu.

Balai Pertemuan
Balai Pertemuan
Lapangan Tenis
Lapangan Tenis
Lapangan Voly yang di pinggirnya ditumbuhi pohon akasia
Lapangan Voly yang di pinggirnya ditumbuhi pohon akasia

Rumah sakit yang membuat kita tak takut sakit—karena gratis. Kini tak difungsikan lagi. Aku tak tahu dimana karyawan harus berobat jika mereka sakit. Lapangan tenis, lapangan volly yang dipinggirnya di tumbuhi pohon akasia, masih tetap ada. Membuat aku rindu untuk bermain bola di siang hari, di bawah pohon-pohon yang menaungi kami dulu.

IMG_1430_1

Taman Kanak-Kanak
Taman Kanak-Kanak

Semua fasilitas umum memang masih berdiri seperti dulu. Tak ada yang rata dengan tanah. Tapi ada sebagian yang masih dimanfaatkan, sebagian yang lain dibiarkan begitu saja. Mungkin kalian perlu datang sendiri untuk melihat semuanya. Karena melihat keadaan di PTP, membuat perasaan kalian akan bercampur aduk. Apalagi ketika kita mengingat kembali masa-masa kecil kita. Ketika kita menjelajahi setiap inchi PTP dengan baik bersama teman-teman kita.

Mungkin sampai di sini saja nostalgiaku melalui tulisan. Semoga kita bisa bertemu kembali di lain kesempatan. Jika memang tak sempat, mungkin Tuhan menempatkan kalian di sisiku hanya sebatas masa lalu. Masa lalu yang terlampau indah untuk dilupakan.

Jalan menuju pabrik
Jalan menuju pabrik
Pasar yang kini banyak dihuni penduduk
Pasar yang kini banyak dihuni penduduk
Koperasi
Koperasi
Rumah yang atapnya hilang
Rumah yang atapnya hilang
Jalanan di perumahan 'atas'
Jalanan di perumahan ‘atas’
IMG_1469_1
Jalan utama perumahan

Pelahari, 4 Mei 2014

Iklan

10 thoughts on “Tempat Kita Dulu (Bagian 2)

  1. Imbah membaca post ke-2 nih rasanya lgsg melayang ke masa lalu… Minggu pagi rami tekumpulan di jalan utama, mulai atas sampai pasar…
    Siang imbah sekolah sampai sore pasti standby di sungai pak fadli atau di bendungan halus…

    Mun sdh muyak di sungai, lanjut main bola di lapangan ganal… Haduuuh ai, indah bnr bahari….

  2. Sipppp, mantap,, memory banget…
    Jadi ingat sesuatu yg dulu pernah terucap. Sebuah tempat yg berada jauh dari keramaian tapi hampir semua fasilitas tersedia.
    Ngomong ngomong kantor posnya mana, sd tuntung pandangnya mana😁😁👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s