Tempat Kita Dulu (Bagian 1)

Akhirnya bisa memulai tulisan ini, karena memulai memang bagian paling berat dari merubah kebiasaan. Terkadang apa yang kita ingin lakukan akan dihambat oleh sesuatu yang terkadang tak terlihat. Dia tak berwujud, tak bersuara, tapi kita semua merasakannya. Godaannya begitu manis, membuat aku kaku tak bergerak, seperti ditotok di 12 persendian.

bendungan pelaihariAku sudah lama ingin menuliskan ini. Sebuah secarik kisah di masa kecil. Menampilkan wujud-wujud tempat di masa kecil yang kini telah berubah melalui foto. Mungkin aku beruntung bisa mengunjungi tempat ini beberapa kali, bahkan sekehendak hatiku jika ingin, karena memang jarak tempat ini dengan tempat tinggalku tak begitu jauh. Hanya 20 menit bersepada motor. Tapi, sebagian temanku mungkin tak pernah lagi mengunjungi tempat ini, mereka mungkin saja sedang rindu dengan masa kecilnya, merindukan tempat-tempat yang dulu pernah mereka tinggali. Tetapi karena jarak dan kesempatan, mereka tak dapat bernostalgia dengan tempat ini. Aku tuliskan semua ini untuk kalian. Bagian dari masa kecilku yang kini terpisah tak tentu arah.

Tempat yang aku ceritakan kali ini adalah PTP, sebutan untuk PT Perkebunan XIII yang berada di Pelaihari, Kalimantan Selatan. Dulu tempat ini merupakan perkebunan tebu beserta pabrik pengolahan gulanya. Kini tempat ini berubah menjadi perkebunan kelapa sawit plus pabrik minyak sawit yang berdiri tak begitu besar dibandingkan dengan pabrik gula dulu.

Bendungan yang kini banyak ditumbuhi eceng gondog
Bendungan yang kini banyak ditumbuhi eceng gondog
Banyak rumah dari penambak yang ada di bendungan
Banyak rumah dari penambak yang ada di bendungan

Karena perubahan peruntukan ini lah. Tempat ini tak seramai dulu. Rumah-rumah dinas yang berjumlah ribuan kini hanya terisi beberapa ratusnya saja—karena karyawan pabrik sawit tak begitu banyak. Sedangkan rumah-rumah sisanya menjadi tak berpenghuni, sebagian hancur tak terawat, sebagian besar lainnya mungkin sudah menjadi rumah jin.

Pintu air bendungan
Pintu air bendungan

Bagian pertama yang aku kunjungi di PTP ini adalah Bendungan PTP. Bendungan yang luas ini dulu merupakan sumber air baku untuk perumahan dan operasional pabrik. Sekarang, hampir setengah dari tubuh bendungan dimanfaatkan untuk tambak ikan dan ditumbuhi eceng gondok yang tumbuh tak terkendali. Jujur, tempat ini tak seindah dulu, walaupun sekarang, sebagian keindahan itu masih tersisa.

Tempat ini dulunya terkenal angker. Setiap tahunnya meminta ‘tumbal’ pada saat musim giling tebu. Anak-anak kecil dulu selalu diwanti-wanti untuk tidak mendatangi tempat ini. Menjadi zona terlarang untuk petualang kecil kita dulu.

Sekarang hampir tak terdengar adanya korban dari bendungan ini. Mungkin karena tak ada lagi musim giling di setiap tahunnya. Sawit bisa dipanen sepanjang musim dan tempat ini terkesan lebih bersahabat dari sebelumnya. Rumah penduduk banyak sekali didirikan di pinggir bendungan, banyak orang setiap sorenya memancing atau sekedar foto-foto di tempat ini. Kesan angker sedikit demi sedikit menghilang akan tempat ini.

Jika suatu saat kalian ke tempat ini, sempatkanlah berkunjung ke bendungan ini. Kita bisa berteduh di bawah pohon sambil memandang bendungan, sejauh mata memandang kita juga akan melihat sisa-sisa bangunan pabrik dan cerobong asap yang masih berdiri sampai saat ini.

Dari jauh terlihat bekas bangunan pabrik gula.
Dari jauh terlihat bekas bangunan pabrik gula.

Memasuki area perumahan tempat yang pertama aku kunjungi adalah SD kita dulu. Dan itu sudah aku tuliskan sebelumnya di sini. Dan berhubung saat ini adalah bulan Ramadhan, mungkin ada baiknya kita mengingat kembali Mesjid Raudhatul Muttaqin beserta TPAnya. Tempat pertama kali kita berlajar membaca Al Quran. Teringat saat dulu, setiap sore kita bersemangat pergi ke TPA, membawa tas berisi buku ‘Iqra” yang sampai saat ini covernya masih belum berganti.

Mesjid Raudhatul Muttaqin kini
Mesjid Raudhatul Muttaqin kini

Di TPA kita belajar semuanya dari awal. Dari alif, ba, ta dan tajwid yang dulu aku tak suka. Masih ingatkah kalian dengan meja-meja panjang yang disusun berbaris. Dulu kita duduk manis di sana, belajar iqra sambil bermain, berteriak dan berlari-larian di dalam ruang TPA. Sempat berfikir, bertapa sabarnya guru-guru ngaji kita dulu mengajari puluhan anak-anak yang sulit dikendalikan ini.

Kondisi Bangunan TPA kini setelah kita tinggalkan
Kondisi Bangunan TPA kini setelah kita tinggalkan

Kini ruang TPA ini terlihat tak terurus, kaca-kacanya banyak yang pecah, plafon juga banyak yang berlubang di atasnya. Mungkin ruangan ini tak digunakan lagi sejak kita meninggalkan tempat ini. Mengenaskan nasib TPA ini, sama seperti nasib pohon besar yang berada di sisi kanannya yang kini telah kering di makan usia.

Berbeda dengan TPA. Mesjid yang berada di dekatnya masih terawat. Tak ada perubahan dari bentuk mesjid, semua sama seperti dulu. Lantai mesjid masih berwarna merah dan bersih. Di dalamnya pun kondisinya masih sama seperti dulu. Mimbar yang sama masih digunakan. Kaligrafi surat Al Ikhlas masih melekat di dinding tengah mesjid.

Melihat ini semua ingatanku kembali di masa lalu. Saat kita telah naik ‘kelas’ mengaji AL Quran. Di mesjid ini kita berlomba-lomba membaca Al Quran supaya cepat tamat dan diwisuda di Pelaihari. Perasaan itu tak ubahnya seperti saat kita berlomba ingin lulus kuliah dan cepat di pindahkan tali toganya oleh rektor. Saat itu aku ingat, tercipta sebuah kompetisi tak langsung untuk mengaji dengan cepat, tak perduli tajwid kita amburadul dan saat ini hal itu yang aku sesali.

Teringat pula suatu kali diadakan Pesantren Ramdhan selama tiga hari di tempat ini. Banyak kegiatan yang kita lakukan, dan ketika sholat zuhur tiba, kita mengambil wudhu di sungai kecil yang tak jauh dari mesjid—aku lupa nama sungainya—karena air ledeng di perumahan tak jalan ketika siang hari.

Selasar depan mesjid
Selasar depan mesjid
Selasar samping kiri mesjid
Selasar samping kiri mesjid

Teringat pula ketika malam harinya, kita berbondong-bondong menuju mesjid untuk sholat tarawih. Sebagian dari kita selalu memisahkan diri dari orang tua dan bergabung membentuk grup kecil lalu setelahnya berlarian dan berteriak-teriak di dalam mesjid saat jamaah sedang mencoba khsyuk dalam sholat. Sesekali kita menyalakan petasan di halaman mesjid. Merek petasannya harus ‘Cap Kodok’, dan jika kita memakai ‘petasan waktu’ kita akan di cap bencong, tak ada sensasinya, dan tak bisa dilipat. Obat nyamuk bakar seakan menjadi pin granat dan kita rela tak membeli jajan hanya untuk membeli petasan ini.

Tampak dalam mesjid
Tampak dalam mesjid

Betapa kurang ajarnya kita saat itu, tapi semuanya dipandang lumrah oleh para orang tua. Tak terbayang jika kita melakukan hal itu sekarang. Terkadang menjadi anak kecil menjadi jauh menyenangkan. Tugas kita hanyalah belajar dan bermain. Tak memikirkan betapa beratnya tanggung jawab dan rumitnya masa depan. But, life must go on. Kini kita telah dewasa, saat-saat masa kecil kita dulu biarlah menjadi kenangan indah yang kita bungkus rapi dan sesekali kita buka ketika kita menginginkannya.

Kita memiliki masa kecil indah itu. Semoga anak-anak kita juga memilikinya.

Bersambung

Karena cerita ini dirasa panjang, maka akan bersambung di bagian ke dua. (Klik)

Pelaihari, 3 Juli 2014.

Iklan

7 thoughts on “Tempat Kita Dulu (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s