Sekolahku Tak Seperti Dulu

Sekolah Kita Kini, SDS Tuntung Pandang
Sekolah Kita Kini

Hari yang sabtu lalu aku bersama sepupu berburu foto ke PTP, sebutan untuk PT Perkebunan Nusantara XIII Pelaihari. Sekarang ini dijadikan sebagai perkebunan kelapa sawit. Dulu sekali pernah dijadikan sebagai pabrik gula dan pada tahun 2002 harus tutup dan memberhentikan ratusan karyawannya karena mengalami kebangkrutan.

Orang tuaku sempat bekerja di pabrik gula ini. Dan momentum jalan-jalan ke PTP ini sekalian nostalgia dari kehidupan masa kecilku yang menyenangkan. Tempat pertama kali aku kunjungi adalah Bendungan PTP. Mungkin di postingan selanjutnya aku akan menjelaskan panjang lebar.

Sedangkan yang ingin aku ceritakan saat ini adalah kondisi sekolahku yang kini tak tersentuh setelah 12 tahun ditinggalkan. Setiap kali aku mengunjungi PTP, selalu saja aku sempatkan untuk mengunjungi sekolah dasarku ini. SDS Tuntung Pandang. Sekolah yang dulunya merupakan salah satu sekolah terbaik di Pelaihari. Sering kali murid-murid dari SDS Tuntung Pandang memenangi perlombaan-perlombaan di Kabupaten Tanah Laut dan keluaran alumni dari SD ini rata-rata memiliki kecerdasan yang membanggakan—terlintas memuji untuk diri sendiri :D.

Tampak dari Tera Depan
Tampak dari Tera Depan

Teringat ketika aku harus meninggalkan sekolah ini pada kelas enam semester satu. Bayangkan satu semester lagi aku bisa menamatkan sekolah dasar di sekolahan ini. Tapi sayang, seiring dengan bangkrutnya pabrik gula pada saat itu aku dan seluruh teman-teman harus pergi meninggalkan sekolah ini. Terpencar tak tentu arah. Jika kalian berpisah dengan teman-teman SD ketika hari terakhir kelulusan, kami dipisahkan secara paksa karena kondisi orang tua kami yang di PHK. Dulu aku sedih bukan karena mengetahui orang tuaku yang berhenti bekerja, tapi karena mendapati kenyataan bahwa aku meninggalkan tempat indah ini.

Sudah terlintas dari dulu, jika aku memiliki kamera, aku akan memfoto sekolah ini untuk kenang-kenangan dan juga bisa dibagikan untuk teman-teman yang masih belum sempat mengunjungi sekolah ini. Kini aku bisa membagikan gambaran sekolah kita lewat blog ini semoga kalian bisa bernostalgia walaupun hanya melalui foto.

Dulu sekolah ini sangatlah ramai. Sebagian besar murid berangkat sekolah berjalan kaki dan bersepeda. Jarang sekali diantarkan orang tua, karena memang kondisi sekolah yang berada di tengah-tengah perumahan karyawan. Sehingga jarak dari rumah ke sekolah tak terlalu jauh.

Dulu aku senang sekali berangkat sekolah lewat ‘hutan’. Ya, hutan disini adalah wilayah yang hanya ditumbuhi oleh ilalang dan pepohonan, hanya jalan setapak yang menjadi petunjuk jalan kami. Di tengah ‘hutan’ ini jika musim hujan akan dialiri sungai kecil jernih yang diisi oleh ikan-ikan kecil, sering kali juga ditemui kepiting kecil yang bersembunyi di bongkahan-bongkahan tanah. Saat itu jika pulang sekolah aku dan teman-teman suka sekali mencari kepiting di sana, lalu memeliharanya dan mati keesokan harinya.

Sekarang sayang sekali, sungai kecil itu telah tiada bahkan di saat musim hujan. Pembunuhnya adalah pohon kelapa sawit. Siapa yang menyangkal bahwa sawit adalah si rakus yang gemar menghisap air.

Di sekolahan ini dulu sangat rapi dan bersih. Setiap bulan akan dibersihi ilalang dan rerumputan liar dengan mesin pemotong rumput. Kami suka sekali bermain sepak bola di halaman depan sekolah kami. Halaman depan yang setiap senin dijadikan tempat upacara bendara. Di saat kita yang sedang lucu-lucunya berbaris rapi dengan baju kedodoran atau topi yang di pasang miring. Sekarang halaman depan hanya ditumbuhi rumput liar setinggi jendela sekolah, hampir menutupi seluruh tubuh sekolah ini.

Kondisi Sekolah yang Ditumbuhi Semak Belukar
Kondisi Sekolah yang Ditumbuhi Semak Belukar

Di halaman depan ini terdapat pohon mangga yang besar. Tempat kita menghabiskan waktu di saat istirahat dan jika musim buah, pohon ini berbuah dengan ganasnya. Saking banyaknya kita jadikan mangga itu sebagai permainan, saling lempar layaknya granat. Kita memakan mangga sampai kenyang, tak perlu membeli, mangga-mangga itu yang ratusan jumlahnya merelakan kita petik walaupun kita memakannya hanya satu dua gigitan lalu kita buang begitu saja.

Dulu kita tak mengenal kata mubazir untuk mangga, karena memang di setiap rumah selalu ada pohon mangga yang berbuah lebat. Di pinggir jalan ada pohon mangga, di sekolah ada pohon mangga, dimana-mana ada pohon mangga. Dan sering kita melihat mangga itu berjatuhan karena terlalu masak dan tak ada yang mengambilnya. PTP saat itu bukan hanya gudangnya gula, tetapi juga gudangnya mangga.

Pohon Mangga di Halaman Depan
Pohon Mangga di Halaman Depan

Sampai sekarang pohon ini masih tumbuh di halaman sekolah. Ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan saat kita tinggalkan. Aku tak tahu apakah dia masih berbuah, tapi menurut kabar burung. Hampir seluruh pohon mangga di PTP berhenti berbuah lebat saat seluruh karyawan meninggalkan perumahan ini. Mungkin Tuhan mengalihkan rahmatnya di tempat lain yang bisa dimanfaatkan manusia.

Memasuki dalam sekolah, hati ini semakin bertambah miris. Melihat kaca-kaca jendela pecah, plafon dari triplek yang kebanyakan telah berlubang. Dan sisa-sisa kertas dan buku yang berserakan saja di lantai kelas. Aku sedih melihatnya, melihat kelas yang setiap hari kita datangi dengan semangat. Kini hancur, tak tersentuh dan mungkin saja dijadikan rumah oleh hantu.

Banyak kenangan dari masa kecil kita yang masih terekam dalam ingatan tentang sekolah ini. WCnya, bangunan UKS, rumah penjaga sekolah yang merangkap sebagai kantin, ruang kelas, semuanya, semuanya masih berdiri tegak, tetapi dengan kondisi yang sangat menyedihkan.

Halaman belakang yang dulu kita jadikan tempat untuk senam pagi, kini nasibnya sama seperti halaman depan. Hanya ditumbuhi semak belukar bahkan mencapai atap.

Dulu sekolah ini sangatlah disegani. Tapi sekarang tempat ini telah terlupakan. Dibiarkan begitu saja hancur karena waktu. Diacuhkan dari jasa-jasanya yang telah menjadikan kami manusia-manusia besar. Aku masih mengingat semua lekuk dari sekolah ini, semua memori indah yang kuhabiskan bersama teman-teman masih tersusun rapi keluar di saat aku melihat kembali sekolah ini.

Tempat kita bermain kelereng, bermain logo, petak umpet dengan tempat persembunyian terluas yang pernah aku mainkan, sepak bola yang selalu kita tunggu di saat pelajaran olahraga, ruang kelas tempat kita belajar semuanya dari awal.

Halaman Belakang yang Biasanya Digunakan untuk Senam Pagi
Halaman Belakang yang Biasanya Digunakan untuk Senam Pagi

Kini tempat itu telah berubah total dibandingkan saat kita terakhir berpisah, semoga kita bisa berkumpul kembali untuk membersihkan sekolah ini. Menatap kembali jejak kaki kecil kita yang masih membekas di lantai sekolah ini. Mengingat kembali akan tawa keras kita yang kita keluarkan bersama-sama.

Aku sangat merindukan sekolah ini dan aku merindukan kalian semua.

WC Sekolah Kita
WC Sekolah Kita
IMG_1379_1
Sisa-Sisa Kertas dan Buku di Lantai Kelas. Adakah Milik Kalian di Dalamnya?
Kelas berhantu
Kondisi Ruangan Kelas
IMG_1394_1
Jendela Depan yang Pecah dan Kotor
IMG_1396_1
Kondisi Sekolah Tampak dari Depan
IMG_1398_1
Jalan di Depan Sekolah

Pelaihari, 23 Juni 2014

Iklan

29 thoughts on “Sekolahku Tak Seperti Dulu

  1. Sosok – sosok apakah yg berada di tempat ini ?? Jangan ke mana – mana… tetap di mister tukul jalan – jalan !! Aaaaaauuuuuuuuuuu…

      1. Bujuran lah ?? Kd ingat kah bhari bkemahan satu malam aja tewas brataan !! Dari puluhan siswa yg masuk cuma 6 orang…

    1. Ga juga mba. Tp dsni dganti ke kebun sawit yg ga membutuhkan karyawan banyak. Jd fasilitas seperti SD dan SMP tdk disediakan. Anak2 karyawan lbh memilih sekolah di luar .

    1. Laskar Pelangi kondisi SDnya memprihatinkan saat masih digunakan. Sedangkan SD ku berubah memperhatinkan saat sudah ditinggalkan. Tapi, ya terlihat memang sama-sama menyedihkan.

  2. Klo boleh tau, Tahun brp sds tuntung pandang dibubarkan?? Sedihnya smp menusuk ke dlm hati yg paling dalam Melihat kondisi sd ku tercinta. Salam kenal saya salah satu lulusan sd angkatan pertama klo ga salah dan lulus tahun 91. Sempat sekolah di smp 1 pelaihari kemudian pindah ke jawa timur. Andai ada yg menggerakkan saya jg mau berpartisipasi unt membuat sd kita menjadi sesuatu yg bisa punya manfaat lagi. Tdk dibiarkan begitu saja….hiks hiks hiks

    1. Wah alumni ptp jg ya mba.
      Kalo ga salah tahun 2002 mba, bertepatan dgn bangkrutnya pabrik gula.

      Alasan knp SD ini jd ga keurus, karena pegawai pabrik sawit ga terlalu banyak, sehingga td bnyk anak2 yg mengisi SD ini nantinya jika dibuka kembali.

      Untuk sekolahan TK masih berfungsi dan terawat baik, mba.

  3. Aq dulu tinggal di sana sedih sekali menangis baca blog ini. Siapapun anda terimakasih sdh membuat blog seindah ini. Salam kenal by.tata

  4. Menetes air mata ini melihat foto itu. 19 tahun sekolah itu telah kutinggal kan. Namun, aku tak akan lupa. aku tak akan bisa seperti saat ini tanpa jasa sekolah dan guru-gurunya. Banyak materi pelajaran yang aku peroleh dulu, dapat aku buktikan di saat ini. Banyak kenangan disitu yang mustahil lenyap dari memory otak.
    Ingin rasa nya menghidupkan kembali sekolah itu. Bila kita bersama, Mungkinkah ?

  5. saya alumni angkatan 99..sempet lulus dan sempet menimba ilmu di smp tuntung pandang 1 cawu..s.d skrg merantau ke tanah etam..kaltim..sering pulang ke pelaihari tapi ga sempet mampir melihat kondisi ptp sekarang..

  6. Saya adalah alumni pertama SD Tuntung Pandang, karena pada awal SD ini berdiri hanya sampai kelas 4 (kelas 1 s.d kelas 4) dan saya kelas 5 pindah ke Jawa Timur, sekitar th 1987 – 1988, dan saya hanya merasakan 1 tahun selama kelas 4 di SD ini, karena kelas 1 – kelas 3 bersekolah di SDN Pelaihari 2, namun kenangan di SD ini sangat membekas, saya angkatan pertama masuk SD ini dan alumni pertama di SD ini, dan rumah bapak saya di seberang BP, rumah pojok dekat gardu trafo listrik warna Orange,….terima kasih sudah membuat saya mengulang memori indah, tentang tulisan dan foto2 yang diterbitkan disini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s