Sebuah Kenangan Bermalam di Dolly (Bagian 3)

Sambungan dari bagian 2

Saatnya melanjutkan tulisanku tentang pengalaman bermalam di Lokalisasi Dolly tiga tahun yang lalu. Banyak mungkin dari kita masih belum tahu tentang sejarah berdirinya lokalisasi ini. Berbagai versi berdirinya Dolly, diantaranya yang paling terkenal adalah berawal dari Noni Belanda yang menyulap pemakaman tionghoa menjadi tempat prostitusi untuk para Tentara Belanda.

Pemilihan Pemimpin Warga

Salah Satu Sudut Jalan Dolly
Salah Satu Sudut Jalan Dolly

Lambat laun tempat prostitusi itu menjadi terkenal dan didatangi tidak hanya oleh Tentara Belanda, bahkan warga pribumi serta saudagar yang berkunjung ke Surabaya dibuat penasaran akan kabar wanita-wanita cantik yang disajikan oleh Dolly. Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang mengikuti jejak Dolly dan mulai mendirikan tempat prostitusi lain di sekitarnya. Hingga sekarang ini yang telah berubah menjadi lokalisasi yang konon pernah mendapat predikat terbesar di Asia Tenggara.

Kembali kepada kegiatanku di hari kedua di Dolly. Kami sekelompok memutuskan untuk mewawancarai penghuni serta warga yang berhubungan dekat dengan lokalisasi ini. Serta ingin meneliti dampak lokalisasi ini terhadap keadaan mental anak-anak. Tetapi rencana hanya rencana. Tak ada satu pun pekerja seks yang dapat kami wawancarai. Ternyata para PSK di tempat ini sangatlah tertutup dengan aktivitas seperti ini.

Berbeda dengan PSK di Pembatuan, Kalimantan Selatan—sebelum mengikuti Diklat ini, kami diminta membuat esay tentang kondisi lokalisasi di kota masing-masing. Di Pembatuan kami masih dengan mudah mewawancarai para PSK, menanyakan alasan memilih pekerjaan ini, berapa penghasilan yang didapat, suka duka, pandangan masyarakat, bahkan menanyakan pada usia berapa pertama kali melakukan hubungan seks. Semua pertanyaan itu dijawab tanpa canggung. Ya, seperti mengobrol dengan teman.

Bahkan dari seluruh kelompok Diklat yang ada, tak ada satu pun yang berhasil mewawancarai para PSK tersebut. Diantara kami hanya berhasil mewawancarai tetangga, tukang warung, anak-anak dari para PSK ataupun Ketua RT setempat. Tetapi ada satu hal yang cukup menarik ketika kami mewawancarai salah seorang warga di wilayah ini. Dia berujar bahwa jabatan RT atau RW di wilayah ini sangatlah prestisius. Bahkan untuk meraih jabatan ini diselenggarakan pemilu layaknya pemilihan kepala daerah disertai dengan embel-embel politik uang.

Jika di kampungku ketika pemilihan Ketua RW para warga saling melempar amanah. Di Dolly jabatan ini sangat diperebutkan. Hal ini dikarenakan para Ketua RW dalam perbulannya sanggup mendapatkan uang puluhan juta dari uang ‘keamanan’ yang diberikan oleh masing-masing wisma di Dolly. Maka tak heran jika pemimpin warga di wilayah ini mempertahankan Dolly agar tidak ditutup. Karena tidak hanya PSK dan mucikari yang mendapatkan uang dari lokalisasi ini. Dari Ketua RT, RW, tukang parkir, warung makan, preman bahkan tukan cuci baju pun mendapat penghidupan dari tempat ini.

Dolly layaknya menjadi hutan dengan aneka buah-buahan yang memberikan banyak penghidupan kepada siapa saja yang berada di dalamnya. Dan penutupan Dolly menjadi bencana bagi mereka, jadi wajarlah jika mereka semua menentang keras atas hal ini.

Ceramah Kiyai Kanjeng

Dan ada satu hal yang menarik ketika malam kedua kami menginap di tempat ini. Bahwa akan di adakan ceramah agama oleh Kiyai Kanjeng di Dolly, sehingga diwajibkan tak ada satupun dari PSK ataupun mucikari yang melakukan aktivitas pada malam hari tersebut. Mendengar kabar ini sebagian dari kami kecewa, karena sebelumnya kami merencanakan untuk ‘cuci mata’ lagi pada malam kedua ini.

 Aku pun merasa heran mendengar berita ini. Dalam pikiranku pekerjaan seperti ini menjauhkan segalanya dari Tuhan. Manusia-manusia tersebut aku angggap seperti tidak memiliki Tuhan saja. Tetapi, lagi-lagi penilaianku salah. Hasil dari mengobrol dengan warga setempat, aku menjadi sedikit mengenal bahwa PSK itu sebenarnya juga masih ingat dengan Tuhan, bahkan sebagian dari mereka masih mengerjakan sholat, mengaji dan meminta ampun atas pekerjaannya selama ini.

Mereka sadar akan dosa yang mereka perbuat selama ini,  tetapi mereka seperti tidak memiliki tenaga untuk berhenti melakukan pekerjaan ini. Itu yang dikatakan para warga. Dan penilaianku terhadap mereka, yang berpikir bahwa mereka adalah calon-calon penghuni neraka dan dibenci oleh Tuhan, setidaknya berubah saat itu jua. Aku sadar mungkin saja nantinya mereka akan berhenti menjadi PSK, lalu bertaubat dengan taubat yang sungguh-sungguh, kembali kekehidupan yang bersih, mungkin saja mereka nantinya akan masuk surga. Dan tak ada yang bisa meramalkan akhir hayat manusia lewat kehidupannya sekarang ini.

Dan siapa yang tahu, kita mungkin saja menjadi bejat di akhir hidup kita. Saat itulah aku tak memandang lagi sebelah mata para PSK tersebut, karena mungkin saja mereka lebih baik dariku nantinya.

Kembali ceramah agama yang diberikan ole Kiyai Kanjeng. Aku tak mengira bahwa seluruh wilayah Dolly memang menghentikan seluruh aktivitas mereka dengan sukarela. Banyak polisi yang berjaga-jaga di pinggir jalan. Pengeras-pengeras suara menyuarakan seruan untuk menghadiri acara tersebut. Memang tak ada satu pun wisma yang melanggar perintah ini, karena konon jika melanggar maka ‘ijin usaha’ mereka akan dicabut. Maka di malam itulah kami melihat semua PSK mengganti rok mini dan tanktop mereka dengan pakaian yang sopan bahkan sebagian memakai jilbab.

 Aku tak bisa melihat dari dekat sosok dari Kiyai Kanjeng tersebut, karena sudah banyak warga disana yang sudah berduduk rapi menyesaki jalan. Aku hanya bisa mendengarkan isi ceramah beliau, yang kalau tidak salah berisi ajakan untuk meninggalkan pekerjaan ini. Tetapi beliau pintar sekali mencari kalimat-kalimat yang tak menyinggung para PSK, alih-alih pergi meninggalkan ceramah, mereka malah tertawa renyah mendengar banyolan yang berisi nasihat.

Setidaknya berada di Dolly selama tiga hari ini memberikan banyak pengalaman untuk hidupku. Pengalaman untuk lebih menghargai orang lain. Mengajarkan aku untuk menghargai hidupku juga, karena di luar sana banyak orang yang tak seberuntung diriku saat ini. Bahkan mereka rela menjual tubuh mereka untuk bertahan hidup dan menghidupi keluarga-keluarga mereka.

Aku menuliskan semua ini bukan untuk menolak penutupan Dolly. Aku hanya mencoba memberikan sudut pandang dari kacamata berbeda. Selama ini kita hanya menilai bahwa PSK adalah sampah masyarakat yang harus diberantas. Benar adanya, tapi kita juga harus tahu bahwa lokalisasi merupakan bentuk kompleksitas dari kehidupan manusia. Di dalamnya tidak hanya melulu hitam pekat, masih ada yang menjadi abu-abu dan mungkin saja mereka dapat berubah menjadi putih dan suci nantinya.

Semua orang memiliki jalan hidupnya, janganlah kita hinakan mereka yang jatuh di dalam kubangan lumpur. Tapi bantulah mereka untuk bangkit dan membersihkan tubuh mereka.

Terima kasih Diklat Jurnalistik yang di selenggarakan Perhimpunan Pers Mahasiswa Dewan Kota Surabaya. Kalian telah memberikan pengalaman hidup yang tak dapat aku lupakan.

Pelaihari, 23 Juni 2014

Sumber foto: Klik

Iklan

One thought on “Sebuah Kenangan Bermalam di Dolly (Bagian 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s