Sebuah Kenangan Bermalam di Dolly (Bagian 2)

Sambungan dari bagian 1

Setelah berjalan-berjalan di Wilayah Jarak. Adzan sholat Ashar ternyata berkumandang di tempat ini. Kami semua sedikit heran mendengar. Tetapi dengan toleransi beragama yang rendah atau sikap antipati mereka dalam beragama, ketika adzan berkumandang bahkan ketika di dalam mushola tengah mengerjakan sholat. Di luar, hanya berada di seberang mushola suara sumbang dan musik karaoke tak kunjung mereka kecilkan barang sesaat. Mereka asyik saja bernyanyi dan tertawa lepas. Tetapi pada saat Magrib sebagian aktifitas itu memang dihentikan.

Berkunjung ke Pegiat LSM

Aquarium Dolly
Aquarium Dolly

Pada sore harinya kami bersama panitia memutuskan untuk berkunjung ke salah satu LSM di wilayah Dolly. Kami disambut hangat oleh penghuni LSM yang menempati rumah yang berjarak beberapa ratus meter dari wilayah Dolly. Para penggiat LSM itu menceritakan semuanya pada kami—walaupun detail cerita tak kuiingat secara menyeluruh.

Penggiat LSM yang banyak mendapatkan penghargaan pemerintah itu menceritakan awal dari para PSK itu terjerumus ke pekerjaan seperti ini. Kebanyakan dari mereka karena alasan ekonomi, ditinggalkan suami pergi, untuk membiayai hidup orang tua dan adik di kampung halaman, bekas korban pemerkosaan, bahkan ada yang dijual pacar/suami mereka kepada mucikari di Dolly.

Pepatah yang mengatakan ‘Bagai masuk ke dalam Kandang Singa’ itu mungkin benar bagi para wanita pekerja seks ini. Karena bila sudah masuk ke dalam ‘wisma-wisma’ di Dolly, maka akan sulit untuk keluar. Terlebih jika para mucikari  telah ‘membeli’ mereka, para PSK harus mengabdi beberapa tahun terlebih dahulu baru bisa melunasi biaya-biaya tersebut. Sedangkan, untuk biaya menginap dan makan terus ditarik oleh para mucikari.

Beberapa bulan lalu santer terdengar ketika ada Walikota Surabaya, Risma, bercerita tentang PSK yang berusia sangat tua. Bahkan, bisa dibilang nenek-nenek yang dipakai oleh anak SD dan dibayar hanya beberapa ribu rupiah saja. Mungkin beberapa dari kalian heran dengan keanehan ini. Aku pun dulu demikian ketika mendengar penjelasan pegiat LSM waktu itu. Dan baru kusadari bahwa Dunia Dolly bukanlah dunia yang berlemah lembut. Dolly merupakan tempat keras dibalik kemolekan tubuh-tubuh wanita di sana.

Pegiat LSM bilang, bahkan banyak para PSK yang menjadi tua bahkan meninggal di tempat lokalisasi tersebut. Para PSK yang tidak memiliki keahlian bekerja lain, lebih memutuskan bekerja sebagai pekerja seks, bahkan disaat usia telah merubah kecantikan dan keseksian tubuh mereka. Para wanita yang tak laku lagi di Dolly, akan berpindah ke wilayah Jarak. Di sana mereka melakukan perkerjaan yang sama, dan terus berulang. Setiap harinya para mucikari tetap menghitung biaya hidup para PSK, mereka menetapkan harga yang harus dibayar para PSK.

Apabila para PSK itu tak laku lagi karena faktor usia atau lainnya dan mereka tak memiliki ‘rumah’ untuk pulang. Para PSK akan terus berhutang kepada mucikari untuk membiayai hidup mereka, bahkan mereka tetap menjadi pekerja seks dengan harga yang sangat murah atau menjadi pembantu di wisma tersebut.

Semakin lama berada di wisma, para PSK akan semakin berhutang lebih banyak yang mustahil untuk terbayarkan. Maka tak mengherankan jika di usia tua mereka masih menjadi PSK atau meninggal dengan ditelantarkan keluarga mereka di sana. Dan beruntung jika para PSK itu memiliki anak yang terbilang sukses, anak-anak mereka dapat membayarkan hutang puluhan juta untuk menebus ibu mereka. Dan di saat itulah kami semua hampir menitikkan air mata, mendengar cerita bagaimana bakti seorang anak yang tak memperdulikan status sosial ibu mereka yang bahkan dinilai sebagian orang sebagai sampah.

Maka dari itulah para pegiat LSM dan tokoh masyarakat sangat berfokus pada perkembangan mental anak-anak PSK—Sebagian anak PSK dititipkan di rumah nenek mereka di Kampung, sebagian lagi dibawa mereka tinggal di Dolly. Karena jika mereka ditelantarkan maka mereka akan mengikuti jejak ibunya menjadi pekerja seks juga. Sebuah jaring kesesatan yang merenggut masa depan mereka—bahkan masa depan ibu mereka.

Setelah bercerita banyak tentang Dolly dan kehidupannya. Para pegiat LSM itu menceritakan salah satu fenomena baru di kalangan anak-anak. Kini—pada tahun 2011, banyak anak laki-laki menjadi ‘Kucing’ sebutan anak laki-laki yang menjadi pekerja seks. Pelanggan mereka merupakan Om-Om yang mungkin telah bosan dengan wanita.

Kami saat itu semua terperenjat, kaget, menggeleng kepala tak menyangka. Surabaya yang kami pandang sebagai kota modern dengan gedung bertingkat menjulang, ternyata sebagian penduduknya memiliki penyimpangan seks seperti Kaum Sodom. Pegiat LSM itu menunjuk salah satu dari anak laki-laki yang berusia sekitar 12-15 tahun yang berada di sana pada saat itu. “Dia salah satu kucing, sekarang sedang kita bina.” Kami semua ternganga, dia anak laki-laki yang cukup tampan.

Mendengar cerita-cerita tentang ‘Kucing’, Dolly sedikit teralihkan. Kucing sering kali ditemui di jembatan terkenal di Wilayah Surabaya—aku lupa namanya, biasanya para pelanggan malakukan aksi bejat itu langsung di tempat itu atau membawa mereka ke hotel. Di akhir pertemuan kami, pegiat LSM itu memberikan pandangan mereka jika Dolly ditutup—Isu penutupan Dolly sudah santer terdengar pada saat itu, bahkan ada spanduk yang telah terbentang di sudut jalan dan kami bahkan mendapat souvenir berupa kalender yang berisi ajakan untuk meolak penutupan Dolly.

Pegiat LSM itu berkata, jika Dolly ditutup secara instan maka Surabaya akan semakin hancur. Para PSK akan memenuhi jalan-jalan Surabaya untuk langsung mencari pelangggan. Bahkan banyak dari mereka akan hijrah ke tempat-tempat prostitusi lain yang masih sepi, bisa saja ke luar Pulau Jawa.

Hwaa, kami menggelengkan kepala menolak mereka keluar kandang. Pegiat LSM itu menambahkan, mereka semua pada dasarnya tidak memiliki keahlian apa-apa untuk bekerja, sedangkan mereka semua memiliki tanggungan biaya untuk keluarga mereka di kampung halaman. Setidaknya usaha penutupan lokalisasi ini harus dibarengi dengan peningkatan keahlian para PSK agar mereka tak kembali ke pekerjaan yang sama jika tempat itu ditutup.

Menikmati Indahnya Dolly

Pada malam hari, waktu yang kami tunggu-tunggu. Saatnya menikmati pertunjukan ‘Aquarium’. Ya, Aquarium di sini adalah semacam etalase toko yang diisi para wanita cantik yang duduk di sofa mewah menghadap ke jalan raya. Ya, memang seperti ikan di aquarium yang terang, kita dengan mudahnya melihat keindahan aquarium tersebut.

Isi Aquarium Dolly
Isi Aquarium Dolly

Mungkin itulah yang membedakan antara Jarak dan Dolly. Jika Jarak memiliki program unggulan berupa ‘Karaoke’ dan cafe minuman keras. Dolly menyuguhkan atraksi aquarium manusia. Kami semua melonjak kegirangan, menatap satu persatu isi aquariujm dengan khidmat tanpa berani untuk memasukinya. Di depan bangunan aquarium itu, berjejer pria berpakaian rapi, ada yang menggunakan batik, kemeja bahkan jas, menawarkan para wanita. Ya, seperti para pelayan di restoran, mereka menawari kami dengan ramah dengan wajah penuh senyum. “Murah, Mas 80 aja, tinggal pilih cantik-cantik.” Harga wanita Dolly memang jauh lebih mahal dibandingkan dengan Jarak. Dolly memberikan kualitas, bahkan ada wanita yang didatangkan dari luar negeri.

Tipe interior bangunan di Dolly pun layaknya loby hotel bintang lima, lampu yang terang, dihiasi perabotan mewah serta dengan isi yang ‘bening’, wajar Dolly dijadikan sebagai tempat wisata bagi para laki-laki jika berada di Surabaya, walaupun hanya sekeder untuk cuci mata saja.

Setelah lelah berjalan mengitari sepanjang ruas jalan Dolly. Kami memutuskan untuk pulang ke penginapan. Istirahat karena besok hari kami memutuskan untuk wawancara investigasi kepada penghuni Dolly.

Karena tulisan ini masih terasa panjang, maka di lanjutkan pada bagian 3

Bersambung ke bagian 3

Sumber Foto: foto 1 Klik

Foto 2 Klik

Iklan

4 thoughts on “Sebuah Kenangan Bermalam di Dolly (Bagian 2)

  1. Halo! Artikel ini menarik sekali karena saya juga berencana untuk menulis tentang Dolly. Berhubung saya ada di luar Indonesia, sulit sekali untuk menjalin kontak dengan LSM di Dolly via email. Kalau boleh, apa Mas penulis bisa sharing nomer kontak atau mungkin email dari LSM tersebut? terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s