Sebuah Kenangan Bermalam di Dolly (Bagian 1)

Saat ini aku semakin bingung dengan pergerakan media pers yang ada di televisi, media online bahkan media cetak di negeri ini. Bagaimana tidak, media yang seharusnya menjadi prantara informasi guna mengkaji figur yang tepat untuk memilih calon pemimpin kita, malah menjadi sarana untuk menjatuhkan masing-masing calon.

Bernarsis ria di kapal
Bernarsis ria di kapal

Sehingga media saat ini seperti benang kusut yang malah membuat rakyat semakin bingung. Melihat Stasiun TV A, figur ini tidak pantas karena memiliki dosa masa silam dan tak memiliki pengalaman sebagai pemimpin di pemerintahan. Sedangkan di Stasiun TV B, figur sebaliknya tidak pantas karena kemaruk akan jabatan dan selalu mengumbar pencitraan yang palsu. Lantas apa tidak dibuat bingung rakyat melihat berita seperti ini. Alih-alih mencerahkan malah membuat kabur.

Tapi setidaknya trend berita mengenai pemilu presiden sedikit tergeser dengan adanya Penutupan Lokalisasi Dolly oleh pemerintah Surabaya. Pro-Kontra terus mengalir di media. Beberapa kalangan menilai penutupan ini melalui berbagai sudut pandang, ekonomi, moral, agama, bahkan hak asasi manusia.

Dan sudah selayaknya penulis latah sepertiku ini juga sedikit berbagi pandangan tentang Dolly. Bukan karena aku merupakan pelanggan tetap di sana, bukan. Akan tetapi, setidaknya aku pernah tinggal di sana selama tiga hari dua malam dalam kegiatan Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut (DJTL) Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) pada Juli 2011 lalu.

Ya, walupun hanya berada disana sangat singkat, dan lagi, aku yang latah ini baru menuliskan pengalamanku tiga tahun lalu saat ini dengan segala kelupaan yang kualami. Aku mencoba sedikit demi sedikit membuka memori tiga tahun lalu di tulisan ini. Mohon maaf jika tulisan ini tidak akurat karena memang beberapa detail peristiwa dan data sedikit terlupakan di ingatan. Aku mohon koreksi kepada peserta DJTL maupun orang-orang yang mengenal Dolly lebih dalam yang kebetulan membaca tulisan ini.

Juli 2011 lalu aku, Herman, Dimas, Sidri, Lilis, Tiya dan Puspa perwakilan dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kinday Unlam terpilih menjadi peserta DJTL di Surabaya, bersama Mita Ndut yang sekarang telah menjadi wartawan—setidaknya dialah jebolan LPM Kinday yang berhasil menjadi wartawan seutuhnya—pada saat itu menjadi pendamping kami, para anak-anak ayam yang buta akan tujuan. Berangkat dengan menggunakan kapal laut karena alasan penghematan biaya, kami sampai di Surabaya keesokan harinya. Dan Ka Arsyad tiba beberapa hari setelahnya.

Sesampainya di Surabaya kami langsung menuju Kampus Universitas Airlangga (Unair) Fakultas Ilmu Budaya—kalau tidak salah—karena di sanalah tempat diklat diselenggarakan. Pada awal Diklat kami diberitahukan akan menjalani praktek di Dolly, mempraktekan dari teori-teori yang akan kami dapatkan. Mendengar berita ini kami semua terbangun dari kantuk dan khayal-khayalan yang dibuat karena tak menariknya acara formal. Semua dari kami bersorak, sebagian peserta laki-laki matanya berbinar, berteriak bahkan menghamburkan kursi. Sebagian peserta perempuan ada yang bergidik ngeri, bagaimana tidak, mungkin seumur hidupnya baru kali ini mereka akan tinggal seharian penuh di tempat lokalisasi.

Kami semua khidmat mendengarkan segala informasi yang berhubungan tentang Dolly ini. Mulai dari sejarah, jumlah PSK, tidak tolerannya penghuni Dolly dengan aktivitas yang mengungkit-ungkit informasi pribadi. Kami diwanti-wanti agar tidak ada para wartawan amatir seperti kami yang mengambil foto atau video di wilayah Dolly, karena di sana banyak sekali preman yang sangat tidak respek dengan wartawan, tindakan mengambil foto merupakan pelanggaran keras bagi mereka, kamera akan dihancuurkan dan manusianya akan dibuat ’jera’.

Kami tertunduk lesu, keinginan besar kami untuk mendokumentasikan wanita seksi tak terkabul. Selain itu kami diminta untuk bertindak senormal mungkin, tidak menimbulkan kecurigaan bagi penghuni di sana. Peserta laki-laki mengangguk paham, kita dapat berakting sebagai ‘pelanggan’ walaupun tidak ada pelanggan yang berjalan menggerombol. Sedangkan peserta perempuan yang sebagian besar mengenakan jilbab hanya bisa mengigit bibir, mereka akan berakting sebagai apa?

Lebih enak ngerumpi daripada mendengarkan materi.
Lebih enak ngerumpi daripada mendengarkan materi.

Selepas pemberian informasi mengenai Dolly. Panitia memberikan materi tentang jurnalistik tingkat lanjut, terutama di bidang investigasi beberapa sesi selama dua hari. Dan di di saat inilah kita kembali mengantuk.

Di hari ketiga, masing-masing dari kami sudah saling mengenal antar peserta LPM satu dengan yang lainnnya. Kami dibagi berkelompok, dipisahkan dengan peserta kelompok dari kota masing-masing. Dan di hari ketiga inilah semua dari kami menampilkan wajah ceria dan antusias. Kami semua saling mengobrol tentang ‘pikiran-pikiran kotor’ tentang wanita yang ada disana. Berangkat dengan menggunakan angkot, Dolly ternyata tidak jauh dengan pusat kota Surabaya. Hanya berberapa menit dengan menggunakan angkot.

Kami diturunkan di wilayah Jarak. Sebagai informasi, Dolly adalah sebuah wilayah kecil yang membentang sepanjang jalan, berdiri puluhan bangunan yang tampak depan seperti etalase kaca di pusat perbelanjaan. Dolly pada tahun-tahun sebelumnya mendapat predikat sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara mengalahkan prostituasi terbesar di wilayah Thailand yang juga terkenal. Dan penyumbang kata ‘terbesar’ dari lokalisasi Dolly adalah Jarak. Jika Dolly diisi oleh puluhan PSK, Jarak dipenuhi oleh ratusan bahkan ribuan PSK.

Salah satu narasumber yang berasal dari Dolly
Salah satu narasumber yang berasal dari Dolly

Akan tetapi, pusat dari lokalisasi ini adalah Dolly. Karena di tempat itu wanita-wanita cantik, muda dan seksi berada. Sedangkan jarak yang merupakan dominasi kuantitas terbesar dari lokailasasi ini, hanya diisi oleh PSK yang kurang cantik, bertubuh kurang menarik, Tua bahkan ‘pensiunan’ dari Dolly yang tak laku lagi.

Ketika diturunkan di wilayah Jarak, pandanganku tentang lokalisasi terbesar ini sedikit berubah. Di bayanganku pertama kali, tempat ini sangat tertutup, kumuh, bahkan dijaga oleh para preman-preman yang duduk di pinggir jalan dengan wajah garang. Ternyata penilaianku salah, Jarak bahkan Dolly tak berbeda dengan wilayah perkampungan pada umumnya, walaupun lebih mendekati sebagai perkampungan kumuh di kota-kota besar.

Kami dituntun oleh panitia memasuki gang-gang sempit yang bernama Jarak. Di kanan kiri banyak dijumpai karaoke plus-plus dan cafe-cafe minuman keras yang buka sejak siang hari. Anak-anak kecil bermain riang di jalan gang sempit seolah tak terganggu oleh suara sumbang dari pengeras suara yang berada di dalam rumah.

Penginapan kami di Jarak ini hanyalah sebuah Taman Baca Anak-Anak yang terletak di samping Kantor Kelurahan. Kami beristirahat sejenak sambil bercanda dengan anak-anak yang sedang membaca buku di sana. Selepas makan siang kami berkelompok memutuskan untuk berjalan-jalan di Wilayah Jarak—karena Dolly baru dibuka pada malam hari. Kami berjalan dengan santai sambil mencuci mata melihat para PSK yang duduk di teras rumah dengan pakaian menantang, sesekali melihat mereka yang sedang melayani pelanggan bernyanyi di ruang tamu dengan kaca transparan. Hampir semua dari kami ‘ditawari’ mereka untuk singgah. “Murah aja, Mas, 25.” “Ayo masuk, Mas, 50 aja.” Dan berbagai tawaran menarik seperti di stand pameran.

Aku menyerap semua yang kulihat, tempat ini kental sekali dengan bau minuman keras dan bau-bau aneh lainnya. Aku merasakan suasana kerasnya kehidupan di tempat ini. Para peserta wanita menghimpit kami untuk berada di tengah selama kami berjalan, mungkin mereka merasa aneh dari tatapan penghuni Jarak yang melihat kami berjalan bergerombol.

Setelah lelah mengitari gang-gang sempit Jarak. Panitia membawa kami ke salah satu Taman Baca di gang berbeda. Dan ternyata, hampir semua gang memiliki taman baca. Di sana kami berdiskusi tentang perkembangan mental anak-anak. Mencoba menarik perhatian anak-anak melalui buku, karena beberapa dari mereka bahkan tak mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka. Lalu bagaimana susahnya mengumpulkan buku di antara keterbatasan ekonomi dan ruang gerak. Para peserta semua menunduk takjim dengan usaha para pemilik Taman Baca untuk mengubah masa depan anak-anak melalui buku.

Karena tulisan ini akan sedikit lebih panjang dari biasanya, maka kali ini aku membagi ke dalam tiga sesi. Sesi ini telah berakhir. Silahkan membaca sesi berikutnya, tentang gemerlap malam di Dolly, Pergerakan LSM guna membantu para PSK, bahkan perebutan kekuasaan di wilayah ini.

Bersambung… ke bagian 2

 Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Iklan

One thought on “Sebuah Kenangan Bermalam di Dolly (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s