[Cerpen] Cawan Kebahagiaan

Acawan kebahagiaanlkisah di negeri antah berantah, hidup seorang ayah bernama Fandy dan anak laki-laki berusia sepuluh tahun bernama Tirta. Mereka sehari-hari hanya menggantungkan hidup dengan mengolah sepetak ladang di lahan kering.

Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggir ladang. Tak ada yang menarik di gubuk mereka, hanya terdapat perabotan sederhana, penerangan hanya dari lampu teplok yang menerangi seisi ruangan dengan cahaya remang. Ketika malam datang hanya obrolan kecil tentang mimpi-mimpi besar dan khayalan jika seandainya mereka menjadi orang kaya.

Sang ayah sangat menyayangi anaknya, karena hanya dialah harta berharga yang tersisa di sisinya. Sang istri meninggalkan mereka seminggu setelah kelahiran Tirta, pergi tanpa memberikan satu pun alasan kepada suaminya. Tetapi, semua tetangga tahu alasan utama sang istri pergi. Kemiskinan bisa merubah siapapun.

“Ayah, kapan aku bisa sekolah seperti teman-teman yang lain?” Tirta bertanya sambil memandang bintang di atap rumah yang berlubang.

Sang ayah hanya terdiam, tak menjawab. Pura-pura tak mendengar. Lalu mencoba tidur meninggalkan betapa sakitnya pertanyaan dari anaknya.

“Aku akan memberikan sesuatu yang sangat kamu inginkan saat ini. Kekayaan. Aku tahu kamu sudah sangat bosan hidup seperti ini,” ada suara yang menggema di sekitar gubuk yang membangunkan Fandy dari tidurnya.

“Siapa kamu? Dimana kamu?” tanya Fandy dengan ketakutan.

Suara itu terus berceloteh tanpa menjawab satu pun pertanyaan. “Aku akan memberikan kamu segalanya, asalkan kamu mau menukarnya dengan air mata kesedihan. Ingat! Hanya kesedihan yang dapat ditukar dengan kebahagiaan. Besok kamu akan menemukan cawan dan menangislah sepuas hatimu di sana dan temukan keajaiban dari air mata kesedihan. Akulah malaikat yang menggantikan duka dengan bahagia.”

“Siapa kamu!!!” Fandy berteriak dengan penuh ketakutan dan setelah itu dia terbangun dengan keringat yang mengucur di seluruh tubuh. Ternyata semua itu hanya mimpi.

*

Keesokan paginya, Fandy tak menangapi sama sekali ihwal mimpi yang dialaminya. Dia dan anaknya kembali pergi mengolah tanah untuk kembali menanam benih padi di awal musim penghujan. Tak lama mencangkul, tiba-tiba Fandy melihat ada sesuatu yang berkilau di sela-sela tanah yang baru saja dia cangkul.

Penasaran, dia lalu menggalinya dengan tangannya sendiri. Bertapa terkejutnya setelah itu, dia menemukan sebuah cawan kaca yang indah dengan ukiran berwujud anak manusia yang berdansa dengan penuh bahagia. Dia lalu teringat tentang mimpi yang dia alami malam tadi, lantas membawa cawan itu ke gubuk. Tirta mengiringi langkah Fandy dengan penuh keheranan.

“Mengapa tak bisa, mengapa tak bisa?” Fandy menggerutu.

“Ayah sedang apa?”

Tak dihiraukan pertanyaan anaknya. Fandy mencoba untuk menangis karena kesedihan yang selama ini menimpa dirinya. Kemiskinan yang selama ini dialami tak membuat dia merasakan duka hingga menitikkan air mata, dia masih bisa hidup bahagia dengan itu. Ketidak-mampuan untuk menyekolahkan Tirta hanya membuat matanya sembab. Tak ada memori kesedihan mendalam yang mampu mengeluarkan air matanya. Sampai dia teringat dengan istri yang meninggalkannya pergi, pergi dengan meninggalkan bayi yang membutuhkan kasih sayang dan susu bergizi dari ibunya.

Akhirnya air mata itu keluar juga, lewat penyeselan dari keputusannya menikahi wanita yang dia kira setia. Dua-tiga tetes menyentuh dasar cawan, dengan ajaibnya tetesan itu tiba-tiba menjadi butiran mutiara. Bahagianya Fandy saat itu. Dia berteriak kegirangan.

“Tirta, besok kamu bisa sekolah!” teriak sang ayah dengan mengangkat anaknya tinggi-tinggi. Perasaan Fandy diliputi kebahagiaan yang membuncah.

*

Seminggu setelah kejadian itu Fandy terus mencoba untuk terus menangis. Tetapi, hal itu tak bisa dilakukannya lagi. Seberapa keras Fandy mengingat segala kesedihan di masa lampau, sekeras itu pula mata itu menghalangi air matanya untuk keluar.

Fandy mulai frustasi, pikirannya kalut, uang hasil penjualan mutiara perlahan mulai menipis. Dia menunggu kedatangan anaknya dengan penuh harap. Dan sore itu Fandy menangis dengan air mata berlinangan menjatuhi cawan dengan derasnya. Di satu sisi dia bahagia melihat puluhan butir mutiara, di sisi lain dia terus menangis tanpa henti melihat tubuh Tirta yang tak bernyawa akibat ulahnya.

Jauh di luar gubuk ada sesosok yang tertawa dengan riangnya, dia adalah iblis. Dia berhasil menjermuskan lagi satu manusia. Fandy mungkin bisa melewati kemiskinan dengan ikhlas dan bahagia, tapi dia tak bisa melewati kemilau harta. Fandy menukar kebahagiaan sejatinya dengan kebahagiaan semu dari butiran mutiara. Dan itulah kebodohan terbesarnya.

Sumber Foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s