Bumi, Novel Fantasi Indonesia

bumiBumi, novel karya Darwis Tere Luiye ini sudah lama aku baca. Tapi baru sekarang aku mereview novel ini. Tulisan Darwis Tere Liye ini mulai berpijak ke arah fantasi. Mungkin dia ingin membuktikan untuk berhasil menulis diberbagai genre dan banyak orang punsudah tahu bahwa dia telah berhasil memikat pembaca melalui novel-novel sebelumnya. Bahkan ada yang telah di filmkan.

Kembali kepada Novel Bumi. Darwis Tere Liye sepertinya ingin mengikuti jejak J.K Rowling dan J.R.R Tolkien yang mampu mendunia dengan novel fantasinya. Bumi merupakan langkah awal dalam menyibak kedahsyatan imajinasi yang dimiliki penulis ini. Menceritakan tentang kehidupan di semesta ini yang memiliki empat kehidupan dari dunia yang berbeda-beda. Tere Liye menuliskannya sebagai empat klan, yaitu Klan Bumi, dianggap sebagai klan paling rendah dari segi ilmu pengetahuan dan pola kehidupan yang jauh tertinggal dari klan lainnya. Kedua, adalah Klan Bulan yang merupakan Klan yang berada tepat berada di atas Bumi, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat maju. Selanjutnya adalah Klan Matahari, yang memiliki kemajuan lebih baik lagi dibandingkan Klan Bulan. Dan terakhir, Klan Bintang, sangat sedikit informasi yang dituliskan mengenai klan ini. Mungkin karena letaknya yang sangat jauh dari klan-klan lainnya, sehingga Klan Bintang masih menjadi misteri diantara klan-klan lainnya.

Cerita tidak sampai disitu saja, adalah Raib yang merupakan tokoh utama dari cerita ini. Mengambil sudut pandang orang pertama, Raib adalah manusia yang lahir dengan kemampuan dapat menghilang. Semua cerita berawal dari pengejaran Tamus—salah satu pejuang Klan Bulan—untuk menjemput Raib. Tapi perlawanan dilakukan oleh Raib beserta kedua temannya, yaitu Seli dan Ali. Karena berusaha melepaskan diri dari jerat Tamus, Raib dan kawan-kawannya tanpa sengaja memasuki dunia Klan Bulan melalui Buku Matematika miliknya.

Mungkin di sinilah konflik dan klimaks dari novel ini berada. Petualangan Raib dan kawan-kawannya yang masih merasa canggung dengan kemajuan teknologi yang ada di dunia ini, serta menyibak misteri yang ada di antara diri mereka masing-masing. Maka di dunia klan Bulan inilah mereka berusaha mempelajari kemampuan dari klan mereka masing-masing. Di samping itu, kudeta yang dilakukan Tamus dan pasukannya beberapa hari setelah kedatangan Raib di Klan Bulan, membuat mereka harus menghindar dari sweeping yang dilakukan pasukan Tamus.

Seperti yang telah kita ketahui Darwis Tere Liye adalah jagonya dalam menuliskan cerita yang sederhana dan mudah dipahami. Kehebatannya dalam merangkai kata-kata membuat siapa saja dapat dengan mudah memahami jalan cerita dalam novel-novelnya. Tak terkecuali dalam novel ini, walaupun merupakan novel fantasi yang mencoba menyentil sisi Science Fiction tetaplahnovel ini jauh lebih ‘ringan’ dibandingkan Supernova-nya Dewi Lestari. Pembaca tak perlu mengulangi dua kali kalimat untuk memahami maksud cerita, itulah kekuatan yang dimiliki Darwis Tere Liye.

Tetapi menurutku kekurangan dari novel ini adalah kelebihan yang dimiliki penulis. Dalam novel fantasi terlebih yang bersinggungan dengan Science Fiction, kita biasanya disuguhi oleh teori-teori yang sebelumnya tak kita ketahui, kita dihadapkan oleh penjabaran dari teknologi-teknologi maju yang memuaskan imajinasi kita dalam membayangkan jalan cerita. Logika-logika berfikir diangkat sehingga membuat kita benar-benar tercengang dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituliskan dalam cerita.

Seperti contoh dalam novel ini, yang mana para pejuang Klan Bulan memiliki kemampuan untuk menghilang, berpindah, dan melakukan pukulan yang keras. Tak ada penjelasan secara science tentang kemampuan luar biasa ini. Begitupula ketika penduduk Klan Bulan melakukan transportasi melalui lorong berpidah maupun sarana transportasi masal seperti kereta yang cepat. Masih miskin sekali teori-teori maupun alasan yang menjawab akan perbedaaan kehidupan yang ada di Bumi dengan klan Bulan.

Tetapi itulah Darwis Tere Liye. Mungkin dia tidak ingin membuat pembacanya terlalu berpikir, dia hanya ingin pembacanya menikmati tulisannnya, mengikuti segala alur yang dibuatnya tanpa ingin membuat pembacanya kebingungan. Dibandingkan jika kita membaca Supernova yang harus membaca dengan perlahan dan hati-hati untuk memahami alur cerita.

Setiap penulis memiliki ciri khasnya sendiri, dan Darwis Tere Liye tidak beranjak pergi dari ciri khasnya. Dia tak beronani untuk mencoba menjadi orang lain. Dia tetap menulis dengan sederhana membuat siapa saja yang membaca novelnya seperti memakan snack kesukaan, tiba-tiba sudah habis dan ingin memakan lagi.

Pelaihari, 13 Juni 2014

Sumber Foto: Klik

Iklan

One thought on “Bumi, Novel Fantasi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s