[Cerpen] Menunggu dan Mencari

Burung dalam sangkarBanyak cerpen yang telah aku buat tetapi tak aku posting ke dalam blog ini. Biasanya ketika aku telah menyelesaikan sebuah cerpen, lalu aku kirimkan melalui email ke surat kabar harian. Dan setelah menunggu beberapa waktu, cerpenku tak dimuat, maka saat itu aku enggan untuk mempostingnya. Mungkin saat itu ada perasaan malu jika kualitas cerpen-cerpenku tak baik atau malah membosankan untuk dibaca.
Maka kuurungkanlah untuk memposting cerpen itu. Ada beberapa cerpen yang gagal dimuat kedalam surat kabar harian dan kini aku beranikan untuk diposting. Semoga menghibur kalian semua. Ini salah satu cerpen yang kubuat di bulan April 2013. 

***

 “Sudah berapa tahun kita bersahabat?”

Kamu bertanya kepadaku, aku menggeleng kepala. Mulutku menghisap sedotan di gelas yang telah kosong.

“Mulai kita SMP, sekarang kita sudah seperempat abad hidup,” aku menjawab dan di akhir tertawa terbahak.

“Dan sampai sekarang kamu tak pernah kulihat sekalipun jalan dengan wanita.”

Tertawaku langsung lenyap, seperti sisa jus jeruk yang telah kuisap. Aku hanya terdiam.

“Kok diam, kamu homo ya Bon?”

“Waduh pertanyaan kamu sesat Ren. Sudah selama ini kita bersahabat, kamu masih tidak bisa membedakan antara yang sedang memilih terbaik dengan kelainan seks.”

“Bila kamu sedang memilih yang terbaik, seharusnya kamu mempunyai pilihan untuk dipilih. Mana pilihanmu? Ngga ada? Bagaimana mau memilih yang terbaik, jika satu pilihan saja kamu tidak punya.”

“Bukannya tidak punya, tapi belum,” aku menjawab pelan, pertanyaan Reny membuat telingaku panas

Wake up my bro, sudah sepuluh tahun lebih dan masih belum ada?”

“Iyaa,”

Aku menjawab enteng, suasana café ini mulai penuh dengan suara tawa pengunjung. Dan cuma kami yang berbincang serius seolah sedang rapat akhir tahun. Perdebetan ini akan panjang dan jika kami beruntung, pelayan tidak sempat mengusir kami karena café akan tutup.

“Putri kerajaan mana sih yang kamu tunggu, dari Mars atau Pluto?” Reny bertanya seperti jaksa saja.

“Kamu sudah mulai mabuk sepertinya, Steak juga bisa bikin mabuk ya?”

“Aku bukan sedang mabuk, aku sedang berempati dengan kamu. Mau sampai kapan kamu hidup sendiri?”

Reny yang kali ini menghisap gelas kosong. Aku hanya berdiam, melihat langit-langit ruangan ini yan putih bersih. Inginku sekarang berada di sana, terhindar dari tatapan tajam Reny.

“Ngga bosan, kontrakan kamu yang selalu berantakan? Makanan instan yang memenuhi perut buncitmu tiap hari?”

“Kan ada kamu, sesekali kamu datang ke kontrakan. Sesekali pula kamu masak enak untuk aku.”

“Kamu merasa cukup dengan sesekali?”

“Aku merasa cukup dengan menunggu seseorang yang akan datang. Seseorang yang sudah digariskan tuhan.”

“Sebatas menunggu? Bukankah menunggu pekerjaan yang paling membosankan bagi kebanyakan orang?”

“Bagaimana dengan selalu mencari?”

Kini kubalikkan keadaan sepenuhnya. Kita memiliki banyak perbedaan dan perbedaan yang paling mencolok adalah aku yang selalu menunggu dan dia yang selalu mencari. Lama juga kamu diam, memikirkan jawaban yang tepat.

“Tuhanku mengajarkanku untuk berusaha. Mencari adalah bentuk usahaku.”

“Kamu hanya mencari kesia-siaan.”

“Bagaimana kamu bisa menilai seperti itu, apa bentuk usahamu mencari pasangan? Menunggu, just wait? Itu bukan usaha, itu putus asa. Aku lebih baik dari kamu.”

Selalu ada jeda panjang ketika kalimat seperti ini selesai diucapkan. Aku terpojok dan hanya mampu diam. Biasanya kamu akan menambahkan lagi kalimat penutup yang lebih pamungkas. Setelah itu aku akan masuk ke dalam pesakitan dan kamu menang. Tapi kali ini kamu ikut diam. Tatapanmu kosong menatap pengunjung yang sedang tertawa renyah.

Aku mulai berbicara setelah seratus dua puluh detik kita hanya diam.

“Apa yang kamu dapat setelah mencari?” aku menatapnya tajam. “Ketika menemukannya kamu bilang itu bukan yang tepat, lalu mencari lagi. dan seperti itu saja berulang-ulang.”

“Memang pada kenyataannya aku belum menemukan yang tepat. Memangnya aku harus memaksakan hati?”

Air matamu kini mengalir, kamu mengambil tisu, menyapu matamu dan kamu masih sesenggukan.

“Sudah puluhan pria yang kamu taklukan. Lalu kamu putuskan di tengah jalan. Setengah dari mereka merengek-rengek datang agar bisa kembali lagi. Pangeran kerajaan mana yang kamu cari, dari Mars atau Pluto?”

Tak ada yang menang dan tak ada yang kalah ketika kita sudah mulai berdebat. Masing-masing dari kita dapat membalikkan keadaan.

“Aku melakukan itu karena aku tidak nyaman, seperti di antara aku dan dia ada dinding penghalang. Jika aku paksakan berarti aku akan hidup bersama dinding bukan dengan manusia.”

Tensi bicara Reny meninggi, air matanya terus mengalir, isaknya terdengar jelas. Sebagian pengunjung melihat kami dengan tatapan aneh. Aku tak memperdulikan.

“Mohon maaf Ren, aku mengerti.”

“Aku selama ini ibarat burung yang terbang bebas. Banyak jantan yang datang, tapi tak satupun aku bawa ke sarang.”

“Dan aku ibarat burung yang terkurung dalam sangkar. Seberapa keras usahaku menarik perhatian betina, itu hanya sia-sia, karena sangkarku berada dalam rumah.”

Aku tertawa, Reny pun ikut tertawa. Pengunjung kembali keheranan. Kembali tak kuperdulikan keheranan mereka.

“Ha ha haa. Kasihan sekali kita ya Bon. Kita mungkin burung yang paling menderita di dunia.”

“Ngga kok, ada burung yang paling menderita lebih dari kita.”

“Hah? Burung apa itu Bon?”

“Burung yang ngga bisa terbang.”

Kita tertawa kembali, kali ini lebih keras. Pengunjung dari ujung ke ujung café mendengar tawa kita. Mereka keheranan, satu dua menatap kita sinis. Kita lagi-lagi tak memperdulikannya. Anggap saja tadi kita sedang mengumpulkan tawa dan baru sekarang bisa meledekannya.

“Ha ha ha, kamu bisa saja. Kita pulang yuk, aku sudah capek.”

“Okee Ren, memang sebaiknya kita sadar diri untuk tidak menunggu pelayang mengusir kita.”

Aku tertawa ringan, tangan kulambaikan, isyarat memanggil pelayan, meminta bill yang harus kami bayar.

“Ada yang bisa kami bantu pa?”

“Tolong bill makanan kita ya.”

“Oke, mohon tunggu sebentar pak, saya ambilkan ke meja ini.”

“Ini pak, semuanya seratus dua puluh empat ribu. Bayarnya mau pakai cash atau credit card pak”

Cash saja, ini uangnya,” aku menyerahkan sambil tersenyum.

“Terimakasih pak. Kebetulan malam ini adalah malam minggu, café kami memberikan souvenir berupa post card yang berisi kalimat bijak untuk para pengunjungnya. Silahkan dipilih acak pak, kali aja isi kalimatnya sesuai dengan suasan hati bapak dan pasangannya.”

“Ambil aja Bony, kali aja ada nomor handphone jodoh kamu di post card itu. ha ha haa.”

Reny kembali meledekku, aku mengambil post card itu dengan acak, memilih di antara puluhan tumpukan post card yang di genggam pelayan. Lalu aku buka lipatannya dan membaca.

‘Seberapa Lelahnya Kita Mencari atau Menunggu, Cinta Terkadang Ditadirkan pada Seseorang yang Dekat.’

Aku terdiam setelah membaca itu.

“Kenapa sih Bon serius amat bacanya?”

Reny mengambil post card itu, penasaran. Dan setelah selesai membaca, dia juga terdiam. Pelayan yang sedari tadi berdiri di samping kami ikut kebingungan.

“Pak, bapak. Ada yang salah pak? Bisa saya bantu?” Tanya pelayan itu khawatir dan aku bangun dari diamku.

“Ngga, ngga ada apa-apa. Terimakasih atas post cardnya ya.”

Aku tersenyum kepada pelayan. Setelah itu senyum dan tatapanku hanya bersarang kepada Reny. Reny pun ikut tersenyum kepadaku.

Burung betina yang terbang bebas itu tak sengaja masuk ke dalam rumah dan menemukan burung jantan dalam sangkar.

Oleh    : Ferry Irawan K

Ilustrasi gambar: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s