Berjalan Kaki

Perlu berjalan kaki agar tahu dimana angin terakhir kali menghantam dinding gang kecil.
Berpadu dengan udara lembab yang telah lama tinggal disana.
Bercampur dengan decitan tikus got yang hampir terlelap mati karena rumahnya dipenuhi air bekas cucian piring.
Apa ada yang perduli dengan semut yang bersiul saling menyapa sesamanya?
Atau kepada burung gereja yang hinggap di kabel listrik tanpa takut tersengat listrik.
 
Berapa banyak hal yang tak diketahui manusia di dunia ini.
Seberapa tinggi ilmu yang telah diraih, hingga bersusah mencari di pelosok dunia.
Tapi tetap saja, manusia tak akan pernah tahu semua.
Segalanya masih saja menjadi rahasia.
Dan dengan sombongnya manusia berujar, kita akan bangun negeri ini.
Dengan pembangunan gedung tinggi menjulang dan perut bumi habis dikeruk.
Tapi siapa yang mengetahui betul apa yang terbaik untuk bumi ini?
 
Angin pun hanya berani berdesir tanpa bisa berbisik menyampaikan berita.
Kita semua hanyalah menerka-nerka, tak ada ilmu pasti.
Semua hanyalah manipulasi dan bersumber kepada coba-coba.
Lantas mengapa kita mendewakan ilmu dan teori
Jika selama ini yang kita tahu, hanyalah hasil eksperimen tak sengaja di masa lalu.
 
Dunia masih berputar dan tak ada yang pasti selain Tuhan telah menentukan
Apa yang kita miliki hanyalah sekecil semut di balik dinding gang kecil
Dibandingkan oleh rimba kota yang telah megah oleh gedung yang hampir menjangkau langit.
 

Bandung, 18 April 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s