Toefl dan Segala Kegilaannya.

Sudah lama sekali aku tak menulis di blog. Hampir sebulan lamanya. Walaupun hanya sebait paragraf, ataupun saru rima pantun, tak ada yang kubuat. Kemarin-kemarin ingin sekali mulai kembali menulis, sudah mendapatkan ide dan segala perwujudannya. Ketika sudah connect dengan internet, eh ternyata malah keasyikan menjadi silent reader Kaskus. Sampai berjam-jam lamanya, sampai mata ini perih dan kepala ini pening. Tak jadilah tulisan dibuat, hanya sebatas niat. Dan niat tak menghasilkan apa-apa selain hampa.

Sebenarnya banyak sekali alasan yang kubuat sendiri untuk berhenti menulis. Aku harus belajar TOEFL, meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dari yang levelnya cuma ngerti arti no smoking, i love you, dan toilet yang selama ini aku bangga-banggakan. Harus menjadi level Manusia Indonesia yang mengerti orang bule yang ngomong di sesi listening. Sungguh ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Disamping penyakit malas yang senantiasa menghiasi indahnya hidupku. Sungguh penyakit ini mengganggu, memutuskan untuk belajar TOEFL saja sudah berat, eh setelah lima belas menit belajar, terbuangkan itu buku karena aku sama sekali tak paham dengan isinya.

Sekali lagi, Bahasa Inggris sepertnya ribet sekali bagaimana tidak. Kita harus mengikuti aturan sebelum berbicara, atas nama kebesaran tenses—oh shit, siapakah yang menciptakan tenses dalam Bahasa Inggris dan yang paling parah, siapa yang menetapkan Bahasa Inggris menjadi bahasa internasional?

Kembali kepada Bahasa Inggris yang menetapkan banyak aturan, berbicara masa depan, sekarang dan masa lalu harus dibedakan. Apalagi setiap sesinya dibagi lagi menjadi empat tenses yang berbeda sesuai dengan kondisi yang terjadi. Apalagi ada beberapa pengecualian yangada dari aturan yang telah dibuat. Mengapa bahasa harus dibuat rumit, ketika inti dari sebuah bahasa adalah untuk mempermudah komunikasi. Sepertinya penetapan Bahasa Inggris menjadi Bahasa Internasional harus dikaji ulang.

Dan ada pula alasan berikutnya mengapa aku menjadi vakum menulis beberapa minggu ke belakang. Aku harus belajar TPA (Tes Potensi Akademik). Itu adalah salah satu penghalang utama setelah TOEFL, walaupun aku merasa menikmati belajar TPA. Mencari probabilitas jawaban yang kemungkinan tepat, merangkai imajinasi untuk mendapatkan pola pada sesi numeric, tapi masalah utamanya adalah aku harus berhadapan waktu yang disediakan sangat minim untuk setiap soalnya.

Semua harus kujalani, semua harus kulalui untuk meraih mimpi yang telah kurangkai jauh-jauh hari. Aku percaya, kesulitan-kesulitan ini akan meningkatkan kemampuanku untuk menghadpi hidup yang terkadang ramah, terkadang pula kurangg ajar.

Selamat malam, akan kusambung tulisan ini. Tangan kini mulai ringan kembali untuk mengayunkan tuts keyboard. Semoga imajinasiku tak membeku pula.

Pelaihari, 4 April 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s