Monolog Diri

Haruskah kita percaya dengan dunia ini kini. Ketika semua manusia mengenakan topengnya. Tak bisa membedakan, hampir semua terperdaya. Pernah suatu kali aku melihat wanita cantik yang anggun dengan eloknya berbicara, segala sesuatu rasanya penuh dengan ketenangan, segala tindakannya membuat orang lain di dekatnya ikut hanyut dalam syahdu yang menenangkan hati. Perkataaanya, senyumannya, bahkan lentik jarinya merupakan bentuk perwujudan manusia yang mematuhi peraturan etika. Tapi, setelah aku menyelesaikan urusan dan menengok kembali ke belakang. Raut wajahnya berubah seketika menjadi jutek, dengan gerakan bibir seolah melecehkan. Aku hanya bisa menunduk setelahnya dan hanya bisa mengehla napas panjang. Baru saja aku berbicara dengan topneg, bukan manusia.

Beberapa waktu lalu aku melihat siaran berita di televisi, melihat seorang pria yang digelandang KPK. Pria itu terlihat sangat berwibawa, wajahnya penuh dengan keteduhan, gerak tubuhnya penuh dengan ketenangan pula. Penilaian seperti ini aku sandingkan dengan para manusia yang taat beribadah dan tak terlalu memikirkan prihal dunia. Persis para alim maupun bikhsu yang tak memperdulikan lagi kenikmatan dunia yang ditawarkan. Tapi, kini dia ditahan, kasus korupsi. Apakah wajah teduh itu hanyalah topeng? Berapa lama dia membuatnya?

Kini aku seakan tak percaya dengan manusia. Banyak dari mereka masih memakai belang dan tak menampakkan wujud aslinya. Tapi, untuk apa? Untuk apa menyembunyikan diri dengan wujud manis jika yang sebenarnya hanyalah buruk yang dipunya.

Ahh, aku mungkin aku yang terlalu naïf. Yang selalu berpikir positif bahwa dunia ini masih dipenuhi oleh para manusia yang baik dan mungkin saja kini aku hanyalah memakai topeng. Dan sebenarnya aku hanyalah manusia buruk yang menginginkan kebaikan melalui perantara manusia lain. Aku pusing memikirkannya, sifat manusia layaknya labirin tak ada yang mampu menerkanya. Dalamnya palung terdalam mapu diukur, sifat manusia siapa yang tahu? Mungkin saja aku sedang memakai topeng, bahkan diriku sendiri pun tak ada yang mengetahuinya.

Siapa yang tahu?

Pelaihari, 22 Februari 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s