Menjadi Apa?

Menjadi apaSudah lama sekali aku tak menulis, kemarin bisa saja aku beralasan karena fokus untuk tugas akhir. Tetapi selepasnya hanya perasaan berat untuk memulai. Terkadang manusia memang sangat pandai dalam membuat alasan. Mencari kambing hitam dari kesalahan yang diperbuat, mencari pembenaran karena sejatinya manusia tak mau mengakui salahnya. Mungkin itu kenapa ketika di akhirat kelak yang berbicara bukanlah lisan, melainkan tangan dan berbagai organ tubuh, mungkin saja di antara mereka telah muak, akan segala kesalahan yang selama ini diselubungi dengan cantik dan menarik.

Hampir enam tahun sejak aku mulai menyukai menulis, saat dimana aku memulainya dengan puisi lalu beranjak menjadi artikel islami. Sekarang jenis tulisanku tak memiliki genre, tak memiliki khas yang sedap untuk dibaca pembaca setia. Sudah cukup lama aku menulis, tapi rasanya hanya segelintir orang saja yang membacanya. Itu pun mungkin karena tak segaja mengunjungi blogku. Mungkin inilah nasib sesuatu yang tak digarap secara serius, dia hanya akan meruap seketika, seperti bau parfum yang menghilang ketika keringat mulai keluar.

Sebentar lagi aku akan di wisuda. Prosesi yang mengakhiri statusku menjadi mahasiwa. Status yang selama ini menjadi tameng untuk bersenang-senang tanpa memperdulikan masa depan. Beberapa waktu lagi mungkin saja aku tak bisa lagi bersembunyi, menarik selimut atau masuk ke lemari baju agar tak terlihat. Beberapa waktu lagi masa depan akan mendakwaku dan menanyaiku bak jaksa yang selalu berapi-api berbicara.

Akan menjadi apakah diriku ini? Itu pertanyaan yang sekarang ini sulit untuk dijawab. Menjadi penulis sepertinya hal itu akan susah untuk dijadikan mata pencaharian utama, apalagi untuk ukuran diriku yang tak mempunyai nama. Banyak orang bilang, bekerjalah sesuai passion terbesarmu, sedangkan keinginan utamaku malah menjadi ketakutan terbesarku.

Ahh, aku bingung memikirkannya. Manusia, manusia, akan selalu melalui berbagai misteri di hidupnya dan apa yang terjadi besok, sehebat apa pun kita telah merencanakanya, dia tetap menjadi misteri yang tak mungkin kita ramalkan saat ini.

Entah menjadi apa aku ke depannya, biarlah tulisan ini akan kubaca kembali nanti, ketika aku telah menjadi seseorang. Dan saat itu pastilah aku sedang tersenyum ataupun meringis sedih, karena Tuhan benar-benar memberikan misteri penuh warna dan tak akan mampu ditebak manusia.

Sepuluh tahun nanti aku menjadi apa? Biarlah aku menjawabnya nanti dan akan kutulis di kolom bawah ini—semoga aku mengingatnya.

(. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .)

Pelaihari, 1 Februari 2014

Sumber foto : Klik

Iklan

One thought on “Menjadi Apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s