Mimpi yang Melambung Tinggi

LPGUntuk ini aku tak berbicara masalah teknis. Aku pun tak mempunyai data pasti akan berbagai kecurangan yang dilakukan oleh para pemimpin kita. Aku hanya melihat fakta di lapangan, ketika negara kaya sumber daya alam masih saja menjadi miskin. Bak anak ayam yang mati di lumbung padi. Aku hanya bisa menonton tv tentang kelakuan para pemimpin kita, tanpa bisa menganalisa berapa kerugian negara hasil ulahnya.

Aku pun tak bisa menyalahkan siapa-siapa, menuding hidung mana yang harus bertanggung jawab akan masa depan bangsa ini. Presiden kah? Menteri kah? Atau para pembuat undang-undang yang tidak pro rakyat miskin? Aku tak tahu siapa yang harus kusalahkan, mencari kambing hitam atas segala masalah ini.

Aku bingung, salah siapa kah ini? Manusia-manusia yang terdahulu yang mewariskan segenap masalah, ataukah manusia kini yang hobi membuat masalah. Aku sama sekali tak mengerti, semua ini bagaikan pertanyaan yang tak pernah terjawab.

Beberapa tahun yang pemerintah berkoar-koar untuk melakukan konversi dari minyak tanah menjadi LPG, karena selama ini pemerintah mengalami kerugian jika selalu melakukan subsidi terhadap minyak tanah. Untuk kebijakan ini aku sependapat, apalagi penggunaan LPG jauh lebih praktis dan ekonomis. Apalagi hal itu ditambah, bahwa Indonesia memiliki kandungan gas alam terbesar di dunia. Konversi ini merupakan bentuk pemanfaatan sumber daya alam untuk rakyat kecik, pikirku waktu itu.

Sekarang, semua ini membentuk teka-teki, bagaimana bisa Indonesia yang memiliki cadangan gas alam yang besar malah mengalami kerugian. Apakah kita membeli gas untuk alam yang kita miliki sendiri? Semua masih menjadi misteri dan aku tak ingin larut akan semua teka-teki ini. Aku yakin di atas sana, banyak sekali terdapat orang pintar yang mampu mengatasi masalah ini. Rakyat kecil sepertiku ini, lagi-lagi tak mengerti akan manajemen di perusahaan besar, berapa biaya produksi, berapa subsidi yang harus dialirkan, dan berapa besar biaya distribusi. Aku hanya bisa mengamini segala alasan yang mereka ucapkan, karena aku yakin mereka yang berada di sana adalah para manusia cerdas yang dilebihkan otaknya untuk berfikir keras. Aku tak menyangsikan kecerdasan mereka, yang kusangsikan hanyalah kejujuran mereka.

Selayaknya aku tak pantas menghujat mereka, seandainya aku berada di sana pun belum tentu aku melakukan hal yang terbaik. Belum tentu aku tetap menjadi putih ketika dihadapkan segala materi yang membuat matamu gelap gulita. Hanya saja, aku yang berada di sudut negeri ini kini sedang berfikir menggunakan sedikit logika. Bagaimana bisa kita yang kaya sumber daya alam masih menjadi miskin karenanya. Adakah yang salah? Salah manajemen, salah orang-orang yang mengurusnya, ataukah selama ini Indonesia sebagai negara yang kaya sumber daya alam hanyalah sebuah anekdot belaka. Dibuat untuk membesarkan hati para rakyat kecil agar mereka bisa tidur nyenyak di atas mimpi-mimpi yang melambung tinggi.

Banjarbaru, 5 Januari 2014

Sumber foto: Klik

Iklan

4 thoughts on “Mimpi yang Melambung Tinggi

  1. Karena bangsa Indonesia itu pemalas. Malas untuk berpikir, malas untuk bertindak, dan terlalu malas untuk mengelola kekayaan yg terlalu banyak ini. Lebih milih cara praktis, langsung jual aja ke luar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s