Makan Seperti Tidak Makan

zenAku kadang heran dengan diriku yang ingin sekali makan. Tetapi, setelah  aku menyuap beberapa sendok nasi, pikirannya sudah melayang kemana-mana. Belum sempat perut terkenyangkan oleh makanan yang dimakan, tangan kiriku sibuk memainkan HP, mataku beralih fokus pada layar bercahaya. Sepiring nasi telah teralihkan dari pikiran, teralihkan dari gairah yang sebelumnya menggebu-gebu ingin diwujudkan. Bahkan sebelum makanan di piring itu habis, aku tak memperdulikan lagi apa itu yang aku makan, pikiranku berkelana kemana saja, memikirkan apa saja.

Saat aku ingin sekali untuk mandi, gerah karena cuaca yang mengeluarkan banyak keringat. Membutuhkan kesegaran dari air yang dengan rela untuk diguyur membersihkan badan. Setelah beberapa gayung yang telah aku guyur, pikiranku tak berfokus lagi tentang mandi. Bagiku, hasrat mandi telah dituntaskan, padahal prosesinya saja baru setengah jalan—belum ada sabun yang menyentuh badan, belum ada wangi yang meresap ke badan. Pikiranku kembali melayang kemana saja, merencanakan apa yang harus kulakukan setelah mandi, memikirkan apa yang harus kukerjakan satu hari penuh ini.

Ketika aku menginginkan untuk tidur, karena mata telah mengantuk, badan telah letih menjalani hari yang berat. Setelah merebahkan diri sejenak, badan yang letih ternyamankan oleh empuknya kasur dan hangatnya selimut. Diriku tak beranjak jua untuk tidur, pikiranku kembali melayang memikirkan kegiatan yang kulakukan hari ini, menyesalkan beberapa peristiwa yang kulalui dan tak sesuai rencana. Memikirkan tentang hari esok, rencana, kegiatan, obsesi dan pengharapan. Dan baru bisa benar-benar tertidur ketika bosan untuk memikirkan yang tidak-tidak.

Aku terkadang heran dengan diriku sendiri, ketika aku menginginkan sesuatu dengan sangat. Seperti makan, setelah aku baru makan beberapa suap, pikiranku malah keluar berlarian. Sebelumnya aku mati-matian mewujudkan inginku, setelah kudapat dan sedikit merasakannya, aku seolah menghiraukannya. Walaupun hanya sebatas pikiran, tetapi itu tetaplah bentuk penghianatan.

Wajar saja jika aku terkadang tak merasakan nikmatnya melakukan segala sesuatu, karena ketika aku melakukan beberapa hal, pikiranku keluar melayang. Bukankah nikmatnya makan adalah ketika memusatkan kesadaran kita kepada makanan itu sendiri, tak memikirkan hal-hal remah lain dan hanya berfokus pada makanan yang sedang dihadapi. Begitupula ketika tidur, mandi, berganti baju, berenang, berbincang-bincang, berolahraga, membaca dan lain sebagainya.

Mungkin inilah alasan mengapa aku lupa akan bersyukur akan segala nikmat. Iya, karena aku memang tak sadar akan nikmat yang sedang kuhadapi ini. Aku terkadang hidup di zaman lalu, kini, dan masa depan sekaligus. Wajar saja jika aku tak bisa membedakan nikmatnya makan, jika pikiranku dipenuhi oleh hal-hal lain yang membuatku tak sadar bahwa makanan itu benar-benar nikmat.

Ini mungkin inti dari Konsep Zen. Bagiku Zen bukan unsur dalam sebuah agama, dia hanyalah sebuah pandangan hidup yang menganggap sadar setiap saat dan setiap saat sadar. Sederhana saja, aku hanya perlu sadar apa yang sedang  aku lakukan dan dengan memusatkan kesadaran itu aku mendapatkan kenikmatan dari apa yang kulakukan.

Akan tetapi, hal ini tak semudah apa yang dikatakan. Untuk selalu ‘sadar’ itu sulit, karena pikiran kita senantiasa melompat-lompat, belum lagi pengaruh lingkungan sekitar yang membuat kita tak mampu berkonsentrasi menikmati apa yang kita lakukan. Tapi, Zen tetaplah konsep sederhana untuk mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, aku hanya perlu melakukan kegiatan sehari-hari dengan sadar.

Pelaihari, 23 November 2013

Sumber foto: Klik

Iklan

4 thoughts on “Makan Seperti Tidak Makan

  1. Ping-balik: santriponorogoblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s