Aku terpenjara

Segarnya air Indonesia
Segarnya air Indonesia

Ada rasa iri yang mencuat ketika melihat blog tentang mereka yang telah merangkum perjalanannya melalui tulisan. Baru saja aku membuka blog tentang backpacker, lagi-lagi muncul rasa iri itu, apalagi ketika aku mengetahui umur penulisnya jauh lebih muda tiga tahun dibandingkan diriku. Aku yang setua ini, tak pernah ke mana-mana, sedangkan dia telah melihat ragam Indonesia dengan matanya sendiri, melangkahkan kaki ke tempat yang baru dengan kakinya sendiri.

Jujur aku iri kepada mereka yang telah menjelajahi Indonesia, tak memanjakan tubuh hanya dengan bersemedi di dalam kamar, melakukan kegiatan yang itu-itu saja setiap harinya. Akan tetapi, muncul kembali pembelaan yang sebenarnya kurang beralasan, seperti: “Aku kan tinggal di Kalimantan, di sini sepi, jarang ada tempat wisata, jikalau ada kodisinya tak terawat, tak aman karena memang sepi dan mungkin juga banyak premannya. Akses jalannya pun susah, tak terurus, kadang kala rusak dan jaraknya jauh dari pusat kota. Para pengunjung pun cuma bisa dihitung jari, berwisata di tempat yang sepi kadang-kadang malah membuat kita was-was. Niat liburan malah bikin hati tak tenang.”

Dan masih banyak hal-hal yang aku buat sendiri sebagai pembelaanku untuk tetap berada di rumah dan hanya mematut iri ketika melihat orang lain lebih mempunyai pengalaman dibandingkan diri sendiri.

Aku mempunyai impian untuk menjelajahi ragam Indonesia yang luas ini. berjalan ke tempat yang baru dan merasakan kedamaian di dalamnya. Tetapi, sampai usiaku yang beranjak dewasa ini, hal itu masih tak terwujud jua. Seharusnya di usia muda ini aku lebih berani dalam mengambil keputusan, aku lebih penasaran, lebih nekat dan tak perlu memikirkan hal macam-macam terlebih dahulu. Bukankah usia muda layaknya sebuah api yang berkobar. Menjumput berbagai pengalaman baru untuk kita kenang nantinya.

Aku terkenang dengan kata-kata Bapak Palang Merah tentang arti petualang, menemui hal-hal baru, dan selalu intim dengan alam: Sebuah negara tidak akan pernah kekurangan seorang pemimpin apabila anak mudanya sering berpetualang di hutan, di gunung dan lautan. (Sir Hendry Dunant )

Eloknya laut Indonesia
Eloknya laut Indonesia

Mengingat quote itu, memunculkan rasa penyesalan, mengapa awal kuliah tak ikut organisasi pecinta alam, mengapa hanya sekedar menjadi mahasiswa biasa-biasa saja, yang menghabiskan sepenuh hidupnya di dalam kos tanpa mengahasilkan apa-apa.

Aku iri terhadap mereka-mereka yang bercumbu lekat dengan alam, keluar masuk hutan, walaupun letih tetap mengeluarkan senyum mengembang. Aku pun iri terhadap mereka yang telah ‘menaklukan’ berbagai macam gunung, menghirup oksigen tipis di sana dan menggeliatkan tubuhnya untuk membunuh dingin. Aku pun iri dengan orang-orang yang telah berenang di berbagai macam sungai, laut, danau, menghirup kesegaran air dan kejernihan di dalamnya.

Dan, selalu saja aku iri terhadap mereka yang memiliki pengalaman hidup berbagai macam rasa, sedangkan aku di sini hanya terpenjara di balik bilik kamar. Dan lagi-lagi aku hanya bisa iri ketika mereka mengabadikan pengalaman hidupnya lewat tulisan dan foto yang mereka pajang di blog mereka.

http://mjprastyo11.files.wordpress.com/2012/10/2.jpg?w=950&h=425&crop=1
Keindahan gunung Indonesia

Bukan kah kita baru mencintai sesuatu, ketika kita mengenalnya dengan baik. Mungkin ini yang membuatku ‘sedikit’ membenci Indonesia, karena kekurangan di atas kelebihan yang dimilikinya. Aku selalu saja malu melihat keterpurukan negara ini, padahal memiliki modal untuk menjadi kaya raya. Aku senantiasa geram melihat kebobrokan birokrasi dan jalannya pemerintahan, tanpa berfikir bagaimana menemukan jalan keluar.

Mungkin ini memang karena aku belum mengenal Indonesia dengan baik. Aku hanya terpenjara di satu sisi, di mana banyak sisi yang mengajarkan banyak hal tentang hidup. Aku masih terlampau bodoh untuk menyimpulkan berbagai macam keterbelakangan kondisi negara ini.

Mungkin memang benar perkataan Hendry Dunant, aku masih belum bisa menjadi pemimpin, sebelum aku berpetualang menemui hutan, gunung, laut dan berbagai macam sisi di Indonesia. Seharusnya aku lebih dahulu berjalan sebelum memutuskan untuk mengkritik dan mencaci.

Pelaihari, 23 November 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s