Menulis adalah Jalan Keabadian

Pramoedya Aku mengaggumi Pramoedya lebih dalam dibandingkan dengan penulis besar lainnya di Indonesia. Bagiku, Pramoedya bukanlah sekedar penulis, dia adalah sosok yang mampu menghidupkan tulisannya, menjadi makanan yang lezat dimakan, menjadi musik untuk khidmat didengar, menjadi tubuh wanita untuk elok dipandang.

Mungkin saja aku belum mengenal penulis besar lain di Indonesia maupun dunia. Aku masih minim membaca karya sastra besar dari para penulis ternama. Tapi, bagiku, Pramoedya adalah penulis terhebat yang pernah kubaca karyanya, karena dia lah sosok yang membuka gerbang pemikiranku, bahwa tulisan mampu abadi bahkan setelah penulisnya tiada.

Tulisan mampu menjadi batu yang tak terkikis selama masih ada yang menjaganya, dia semakin subur layaknya pohon beringin yang makin tua makin kokoh menjulang. Karya Pramoedya membuatku berdecak kagum, dia telah menuliskan pesona, dia telah mengukir keindahan lewat karyanya. Baru kusadari, tulisan mampu sejajar dengan keindahan lukisan, pahatan, musik, film, dan karya seni lainnya.

Pramoedya menuliskan dalam tetralogi Bumi Manusia-nya: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Dia telah menuliskannya dan dia telah menjawab kebenaran tulisannya. Menulis adalah jalan keabadian. Pramoedya telah membuktikan dan sampai sekarang karya-karyanya masih menjadi rujukan karya sastra di berbagai diskusi maupun kelas di sekolah bahkan perguruan tinggi. Dia telah membuktikan, menulis bukan menjadi perkara penting, suka, atau butuh, tapi lebih dari itu, menulis membawa kita kepada keabadian. Karena saat kita telah tiada, mungkin saja tulisan kita masih menyebar, membelah diri, dibaca oleh beraneka ragam manusia, bentuk ras, dan usia.

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Nyai Ontosoroh, 84)  dikutip dalam buku “Anak Semua Bangsa.”

Pelaihari, 22 November 2013

Sumber foto: Klik

Iklan

2 thoughts on “Menulis adalah Jalan Keabadian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s