[Cerpen] Hujan di Akhir Kemarau

Hujan di Akhir Kemarau*Cerpen ini pernah diterbitkan dalam harian Banjarmasin Post. Edisi Minggu, 10 November  2013

Di luar sana mendung sedari tadi, meneduhkan suasana. Malasku semakin meraja. Sesuatu yang kemarin telah terbang tinggi, kini akan kembali lagi. Mengisi sungai, mengisi danau, mengisi sumur-sumur yang telah kering dan mengisi kembali senyuman warga agar mereka bisa kembali mandi sesuka hati.

Sudah saatnya kamu turun, wahai uap-uap air yang selama ini betah menggelayut pada tubuh awan, sudah saatnya kamu menghidupkan kembali kehidupan—atas kehendak Tuhan—menumbuhkan kembali tunas dedaunan, menyegarkan kembali rerumputan dan setelah itu menggemukan badan kambing dan sapi yang hidup di lapangan. Betapa besar jasamu, hujan. Betapa besar karunia-Mu, Tuhan.

Kini tetasan air itu datang juga, sesuatu yang lama dinanti akhirnya mau kembali. Di luar rumah gerimis menjatuhkan diri di berbagai tempat, sesuka hati. Di atas kepalaku, gerimis menghasilkan bunyi asing yang telah lama tak kudengar, atap rumah berteriak—entah kesakitan, entah kegirangan—di hujami rintik air. Anak-anak tetangga berteriak pula, untuk yang ini aku tahu pasti—mereka kegirangan, karena sudah jarang mandi dengan air yang berlebih-lebihan. Mereka lari dari rumah mereka, keluar dan menari-nari tak takut disambar petir, menentang hujan dengan bertelanjang dada. Mengajak anak tetangga lain untuk menjalankan ritual yang sama. Hmm, aku teringat masa kecilku dulu, sekarang aku tak mungkin berjoget-joget seperti mereka.

Aku memutuskan untuk membuat kopi dan meminumnya di teras rumah. Sebuah kenikmatan yang tiada tandingannya untuk saat ini. Aroma kopi yang lembut dan menggoda,. Minyak atsiri yang keluar dari dalam tanah, tak kalah menebarkan aroma sedap, menyeruak seiring kedatangan rintik hujan, membuat suasana hari ini sungguh menentramkan. Kopi dan kenikmatan di lidah, hujan dan aroma minyak atsirinya, sungguh perpaduan menarik menyambut hujan di awal November. Setelah kemarau telah meraja berbulan-bulan bersama teriknya.

Anak-anak tetangga masih berlarian di depan rumahku. Mereka seperti ayam yang lepas dari kandang, berlarian ke sana kemari. Kemanakah ibunya, membiarkan mereka lepas tanpa tali kekang. Oh iya, aku lupa, ibunya pasti sedang bersuka cita pula, menampung hujan yang jatuh dari atap rumah dengan ember-ember beraneka macam warna.

“Mengapa melamun aja, Pah?” istriku mengagetkanku dengan pertanyaan.

Aku hirup kopi, baru aku jawab pertanyaannya. “Ngga papa, Ma, lagi adem aja ngelihat hujan turun.”

“Lagi ngadem atau lagi mengingat-ingat masa lalu?”

Dia menyindirku, ingatannya sangat tajam untuk mengulik masa lalu. Membuka kembali lembaran yang telah kututup.

“Sudah, hal itu sudah lama berlalu,” aku meninggalkannya, masuk ke dalam rumah.

Dia mengikutiku dari belakang, “tapi kenapa kamu masih meratapinya?”

Aku gusar mendengar dakwaannya. “Siapa yang meratapi? Aku hanya duduk di teras menikmati hujan,” jelasku dengan nada tinggi.

Raut wajahku istriku berubah, selama ini aku jarang sekali membentaknya, tapi karena masalah ini, entah mengapa aku mudah sekali terpancing emosi. Kini dia merajuk meninggalkanku dan membanting pintu kamar.

“Besok-besok aku akan bongkar pintu kamar, jika gunanya hanya untuk dibanting melampiaskan amarah,” sungutku dan tak ada balasan dari dirinya.

Gara-gara istriku, aku kembali teringat masa itu. Ketika seseorang yang kucintai meninggalkanku tanpa pernah kembali lagi. Aku yang tak tahu di mana kini wujudnya.  Dia yang selalu hadir dalam ingatan di setiap awal penghujan.

***

‘Evan, kita jalan-jalan, yuk’

Itulah ajakannya melalui sms dan dengan segera kujawab dengan menelponnya.

Tanpa salam pembuka aku bicara dengannya. “Sebentar lagi hujan, sayang, kamu ngga lihat di luar mendung banget?”

“Memang sengaja, sayang, kan enak hujan-hujanan di atas motor.”

Aku berfikir sejenak, kayanya memang menarik menikmati hujan bersama sang kekasih. Apalagi ini akan menjadi hujan perdana di akhir musim kemarau. Ini pasti indah, bau tanah yang disapu hujan pasti akan nyaman untuk dihirup, menyegarkan paru-paru yang selama ini bosan menghirup debu. Aku jawab keinginannya cepat:

“Baik, sayang, aku jemput kamu. Sepuluh menit lagi aku sampai.”

“Oke, pokoknya jangan pakai jas hujan, ya. Jangan pakai jaket juga. Hari ini kita harus basah-basahan,” dia menutup telpon sebelum aku menjawab. Kebiasaan yang tak sopan, tapi aku suka.

Aku datang di depan pintu kosnya ketika rintik hujan telah berjatuhan. Dia telah menunggu di depan pagar. Hanya memakai baju lengan pendek dan celana jeans.

“Benaran nih hujan-hujanan? Nanti kamu sakit, lo?”

“Kalau Tuhan berkehendak, semua orang bisa sakit sekarang ini juga,” dia selalu saja menjawab seperti itu. Dia pernah bilang, sakit itu karena Tuhan berkehendak. Sebagaimana pun manusia menghindarinya, jika sakit datang maka dia akan sakit. Jika mati datang, maka dia akan mati. Manusia terlampau lemah untuk melawan takdir Tuhan.

“Kamu kok ngga pakai helm, sayang?”

Dia lekas menaiki motorku, “Ngga ada polisi yang mau nilang kita hujan-hujan.”

Hmm, aku tersenyum. Dia suka sekali melanggar aturan. Jika dia menjadi presiden wanita kedua, Negara ini pasti hancur sebelum masa jabatannya habis.

Benar saja, hujan turun dengan lebatnya. Dia tertawa dengan riang. Mengangakan mulutnya untuk menampung hujan yang turun, sekalian minum. Tangannya direntangan berayun seperti sayap elang yang sedang menjelajah langit. Tak ada motor yang sudi mengiringi kami, kebanyakan mereka memutuskan untuk berteduh di ruko-ruko pinggir jalan. Hanya mobil-mobil yang menyalip kencang dan mencipratkan kami.

“Sial..! Bawa mobil ngga kira-kira. Seolah-olah mereka sedang kehujanan saja,” umpatku

Dia tertawa keras mendengar umpatanku, “Haha, kenapa harus marah, sih. Kan kita juga sengaja basah-basahan.”

Aku tak menjawab apa-apa, kuteruskan perjalanan menglilingi kota. Hujan makin lebat turunnya, kali ini jalanan benar-benar terlihat lengang. Hanya anak-anak kecil yang berlarian di pinggir jalan, menceburkan diri di atas selokan dan membendungnya dan di situlah letak kesenangan mereka. Kami tersenyum bahagia melihatnya. Anak-anak mudah sekali untuk bahagia, kataku dalam hati.

Setelah puas kami menikmati turunnya hujan di atas motor. Kami lalu bercanda menceritakan apa saja. Aku suka sekali mengejeknya dan dia membalasnya denga gelitikan di pinggangku. Seperti sekarang ini, dan aku oleng akan kendali motorku. Dan tiba-tiba pula, aku mendengar suara klakson keras, dengan panik aku menghindar, tapi itu sudah terlambat. Motorku dihantam sebuah truk dari belakang. Aku terjatuh ke arah samping motor, tak terlalu jauh karena badanku sempat terhalang oleh stang motor. Sedangkan, nasib pacarku tak beruntung. Dia terpelanting jauh ke depan, aku sempat melihat wajahnya terseret oleh aspal.

Tak aku perdulikan darah segar yang keluar dari bagian mana. Aku bergegas untuk menolongnya, tapi kondisi tak mewujudkan inginku. Ketika berdiri, aku merasakan bumi ini sedang berputar hebat, sehingga aku tak mampu seimbang berdiri di atasnya. Dan setelah itu aku terjatuh dan tak sadarkan diri.

Setelah aku siuman, aku melihat orang tuaku meringis sedih, panik, menghawatirkan kondisiku. Pikiranku hanya terpikirkan Dia.

“Dia di mana sekarang, Ma,” aku bertanya tanpa melihat anggota tubuhku apa masih utuh atau tidak.

“Sudah, jangan khawatirkan Dia. Dia baik-baik saja.”

Aku tak percaya dan tak bisa berbuat banyak. Sampai saat aku sehat kembali dan keluar dari rumah sakit, satu kabar pun tak kuterima. Katanya Dia dilarikan ke rumah sakit di Pulau Jawa. Handphone-nya kuhubungi tak pernah aktif, orang tuanya tak mau mengangkat telponku. Aku bertanya dengan teman-teman dekatnya, katanya, Dia sudah siuman dan akan menjalani operasi. Aku bertanya operasi apa, mereka hanya menggelengkan kepala.

Dan akhirnya aku benar-benar tak bertemunya kembali. Hubungan kami benar-benar terputus, teman-temannya bersekongkol tak memberikan informasi untukku. Tiap minggu kudatangi rumahnya di luar kota, setiap kali pula aku tak mendapatkan jawaban dari dalam rumah itu.

***

Tujuh tahun setelah kejadian itu dan merupakan tiga tahun usia pernikahan kami. Aku mendapatkan telpon dari teman kuliahku dulu.

“Fren, aku tadi ketemu Dia, loh?” dia langsung berbicara tanpa mengucapkan salam pembuka, semacam kondisi tergesa karena mengabarkan berita sangat penting.

”Yang benar kamu, Man,” aku menjawab dengan penuh antuasias, istriku mendengarkan dengan nada penuh curiga.

“Sebenarnya aku juga ngga yakin, sih, pada awalnya. Aku dan keluargaku sedang santai-santai di taman kota di Bandung, sambil makan gorengan gitu. Tiba-tiba hujan turun, ya, kami bergegas berteduh di gazebo taman itu. Ketika hujan turun dengan lebatnya, aku heran ada seorang wanita berhujan-hujan merentangkan tangannya, seperti menentang hujan. Istriku bilang dia orang gila. Aku tak percaya, fren, aku punya firasat yang aneh waktu itu. Aku dekati saja dia, istriku mencegah, bukan karena dia takut aku naksir dia, tapi dia takut aku nanti diterkamnya.”

“Terus bagaimana, Van,” aku semakin tak sabar mendengarkan penjelasannya. Kini aku telah berada di luar rumah, istriku mengintip dari jendela.

“Aku kini berada di sampingnya, aku lihat wajahnya. Cacat, Fren. Banyak codet di wajah, pokoknya buruk rupa banget. Tapi, dia terkejut sekali melihatku, seakan-akan dia mengenalku dengan baik. Ya, seperti teman lama yang tak sengaja berjumpa. Dia langsung berdiri dan meninggalkanku, Fren, tapi aku punya firasat aku mengenal dia. Aku tanyakan saja namanya, dia menjawab dengan nama lain dan bergegas untuk pergi. Tapi, yang tak pernah dia bisa sembunyikan adalah suaranya, Fren. Hampir tiap hari kan dulu kita bertemu dan kamu sering mengajaknya. Aku tak pernah lupa suaranya, Fren. Dia itu Dia, Sepdia Ratna. Aku yakin itu.”

“Sumpah kamu, Man?”

“Berani disambar gledek, Fren. Dia lantas pergi, tak sempat aku kejar, tak sempat aku bertanya banyak, alamat, nomor handphone, atau bahkan kondisi sekalipun. Dia seperti ingin menghindar dariku, seperti perasaan malu yang sangat amat mendalam, Fren.”

Dan akhirnya teman kuliahku itu pun menutup telponnya. Sebelumnya aku mengingatkan, jika bertemunya kembali tolong tanyakan alamatnya. Jika dia tak mau, buntuti dia diam-diam.

***

Begitulah, sampai saat ini aku tak pernah tahu bagaimana kini rupanya, kondisinya, perasaannya. Tapi, yang aku tahu dia masih menyukai hujan, dia masih menyambutnya dengan tangan yang direntangkan.

Mengapa kamu meninggalkanku, Dia? Apakah kamu malu karena wajahmu tak secantik dulu? Apa kamu marah denganku, karena kejadian kecelakaan itu? Sungguh, bagaiamana pun kondisimu, aku masih saja menyimpan perasaan itu.

Jika kebanyakan manusia menyambut hujan dengan suka cita, karena air sumur terisi kembali, kesejukan datang lagi, kebun di pekarangan rumah segar kembali. Aku menyambut hujan dengan ratapan kehilangan, karena sepuluh tahun yang lalu, kami dipisahkan oleh hujan perdana di akhir musim kemarau. Aku tak pernah lupa hujan itu, aku tak pernah lupa senyuman terakhirmu yang mengalahkan pelangi manapun,  jika bicara tentang keindahannya.

Pelaihari, 19 Oktober 2013

Iklan

2 thoughts on “[Cerpen] Hujan di Akhir Kemarau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s