Ketika Orang Utan Menjadi Santapan

Orang utanBeberapa hari yang lalu santer terdengar kabar yang mengejutkan dari Pontianak, Kalimantan Barat, bahwa orang utan dijadikan santapan oleh manusia. Media lokal bahkan Nasional ikut menyoroti tajam atas prilaku yang tak lazim ini. Berbagai kecaman dan keheranan mengalir langsung dari dunia maya dan barang tentu bagi siapa saja yang mendengarnya.

Seperti yang diwartakan oleh Banjarmasin Post pada hari Rabu, 6 November 2013 menyebutkan: Orang utan yang pada awalnya merupakan korban salah tembak pemburu dibagi-bagikan kepada warga untuk dijadikan santapan, ada yang membuat sup sampai menjadikannya daging rica-rica. Dan menurut penuturan para warga yang memakannya, daging orang utan rasanya enak dibanding daging sapi.

Terlepas dari segi rasa yang lezat maupun sisi mubazir jika tidak dimanfaatkan seperti apa yang menjadi dalih warga. Penulis sedikit mengemukakan beberapa pemikiran mengenai hal ini:

Pertama, Terlepas dari unsur kesengajaan atau tidak, seharusnya perburuan terhadap hewan dilindungi baik itu untuk dipelihara, diperjual belikan apalagi dijadikan sebagai santapan dilarang secara keras. Pemerintah telah memagari tindakan ini lewat undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pada pasal 21 ayat 2 menyebutkan, Setiap orang dilarang untuk : a) menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup

Regulasi peraturan telah jelas ditulis, kesadaran dari masyarakat sudah dari dulu coba dibangkitkan, peran pemerintah beserta perangkat hukumnya tidak tinggal diam. Tetapi, apa yang telah terjadi di Pontianak seharusnya membuka mata kita semua. Hewan langka masih tidak aman hidup di lingkungan yang telah dia diami bertahun-tahun.

Kedua, Kita tidak bisa menyalahkan orang utan yang memasuki kawasan perkebunan maupun permukiman, walaupun kadang kala tingkah polanya mencari makan di sana merugikan pihak perkebunan maupun warga yang berladang.  

Orang utan tetaplah hewan yang mengikuti insting binatangnya. Ketika hutan, rumah mereka mencari penghidupan digarap untuk perluasan lahan perkebunan maupun pembukaan pertambangan, maka dia akan berpindah mencari tempat yang bisa memberikannya bahan makanan. Kurang beruntung memang jika perpindahan mereka malah memasuki kawasan perkebunan dan permukiman, para manusia akan mengusir bahkan membunuh  karena dianggap sebagai hama bagi usaha manusia.

Akan tetapi, yang harus kita pahami bersama. Masuknya mereka di kawasan aktifitas manusia merupakan indikasi kuat bahwa mereka telah diusik kenyamanannya, mereka telah diusir dari rumahnya sendiri. Orang utan tidak bisa disalahkan, seharusnya manusia lah yang sadar.

Ketiga, Kasus daging Orang utan yang menjadi santap makan manusia harus segera ditindak tegas, takutnya para warga yang memakan itu bercerita banyak tentang kelezatan daging orang utan, membuat rasa penasaran bagi warga lainnya untuk ikut mencoba. Hal ini akan berdampak sangat besar nantinya bagi populasi Orang utan yang telah mengalami degradasi jumlah dari tahun ke tahun. Berikan sebuah hukuman yang jelas, bahwa apa yang dilakukan warga merupakan kesalahan yang melanggar hukum bahkan sisi manusiawi manusia.

Keempat, Penulis sampai saat ini masih tidak habis pikir akan kejadian ini. Apakah manusia tidak cukup puas dengan aneka makanan yang di zaman ini telah beraneka macam. Masih banyak pilihan makanan sehat, halal, dan lezat. Masih banyak pilihan bahan makanan dari hewan-hewan yang sengaja di ternakkan untuk diambil dagingnya. Mengapa manusia masih saja tidak puas? Sehingga mencari variasi pada tubuh hewan yang dilindungi Negara ini.

Orang utan diciptakan Tuhan tentunya mengambil peran penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan di Kalimantan. Di samping itu, sebagai penambah keanekaragaman hayati, memberikan keindahan dengan perbedaan yang dimiliki.

Akhir kata, ada quote menarik dari pepatah Indian kuno: “Jika pohon terakhir telah ditebang, jika sungai terakhir telah tercemar, jika ikan terakhir telah ditangkap, baru manusia akan sadar bahwa mereka tidak akan bisa makan uang.” Mungkin nanti manusia akan sadar, bahwa nafsu yang dimiliki adalah peluru yang membunuh tanpa perlu senjata.

 Banjarbaru, 6 November 2013

Sumber foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s