Kepada Napas, Aku Ingin Bertanya Banyak

hembusan napasKepada napas yang tak sempat keluar kembali ke permukaan. Masihkah kamu mengendap di paru-paruku itu. Apa yang kamu lakukan di sana? Tak bosankah kamu mengendap sampai-sampai kamu tak mau keluar lagi melihat dunia. Ataukah kamu bahagia di dalam sana, menghidupi tubuhku dengan oksigen yang kamu miliki, memintaku untuk bangun pagi dan menemui sahabat-sahabatmu yang berlebih-lebihan jumlahnya. Tapi, tak pernah aku temui mereka. Dan kamu tak pernah berjumpa dengannya di dalam sana.

Kepada .napas yang masih mendekam di dalam dada. Kapankah kamu keluar? Aku menunggumu untuk bertanya banyak. Apakah tubuhku meronta di dalam sana? Berteriak kesakitan. Ataukah mereka malah menjadi tua padahal sejatinya mereka masih muda. Ceritakan wahai napas, jangan pernah kamu sembunyikan apa yang kamu lihat dan rasakan. Ceritakan saja padaku, walaupun itu sungguh menyakitkan. Ceritakan padaku, apakah tubuhku di dalam sana, benar-benar menjadi pesakitan atas ulah empunya yang bodoh tak belajar.

Kepada napas yang masih tak berani untuk keluar. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Tak inginkah kamu melihat hijaunya daun-daun dan moleknya rerumputan bergoyang? Mengapa kamu tak keluar dan merasuk kembali ke dalam daun untuk menemani mereka memasak makanan. Apakah kamu takut dirimu nantinya berubah-rubah kembali, menjadi oksigen, kuhirup, menjadi karbonmonoksida, ditarik oleh daun, dan menjadi oksigen kembali. Bosankah kamu rupanya berganti-ganti rupa untuk menghidupi bumi ini?

Kepada napas yang masih bersembunyi di balik rongga paru-paruku. Lagi-lagi, aku ingin bertanya banyak jika engkau keluar dari tempat persembunyianmu. Lebih menyenangkan hidup di luar sana atau di dalam tubuhku?  Aku penasaran, sungguh, tak pernah kurasakan hidup di dua dunia yang berbeda seperti yang kamu alami sekarang.

Kepada napas yang kini diam-diam keluar melalui hembusan. Bagaimana perjalananmu? Semoga menyenangkan. Baru kusadari, kamu tak pernah bisa menjawab segala pertanyaanku. Kamu tak miliki telinga, tak punya mulut, apalagi otak untuk berfikir. Karena kamu hanyalah hembusan yang tak berwujud, bahkan tak pernah diperdulikan oleh siapa-siapa yang menarik dirimu untuk mengisi paru-paru mereka.

Napas, tak pernah kulihat raga yang menyelimutimu. Tak pernah kutahu keberadaan sesungguhnya dirimu. Tapi, yang aku tahu, kamu selalu ada dan mengisi segala kekosongan yang ada. Kamu menjadi saksi, betapa kejamnya manusia bumi tak pernah menghargai pengorbanan sekecil dan seberharganya dirimu. Bersabarlah, karena suatu saat kamu akan dinilai mahal oleh para manusia. Mereka akan mencarimu ke segala penjuru di mana kamu bersembunyi. Saat itu mungkin tak lama lagi, karena sekarang pohon-pohon telah banyak ditebang, rumput-rumput menguning layu. Di saat itu kamu boleh bersombong ria, dan menampar satu persatu wajah mereka untuk menyadarkan, bahwa kamu mengetahui apa-apa yang manusia pintar tak ketahui

Napas, kamu mengetahui perkara di luar dan di dalam tubuhku. Sayang kamu tak bisa bercerita, seandainya mampu, mungkin kamu akan jauh lebih dihargai sekarang ini.

Oleh manusia yang menarik napas sesuka hati tanpa terima kasih.

Banjarbaru, 5 November 2013

Sumber foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s