Ingin yang Tak Berwujud

kebutuhan-manusiaTak pernah habis aku meminta. Inginku ternyata banyak, beranak pinak sesaat setelah keinginan terdahulunya diwujudkan. Mengapa manusia bisa hidup dengan jutaan keinginannya yang belum terwujud. Dapatkah hidup tenang dengan membawa mereka dalam angan-angan, dalam keinginan yang senantiasa kita coba wujudkan dengan mati-matian.

Tak habis pikir aku mengenai hidup ini. Mengapa mata senantiasa bersinergi untuk menjadi balita yang merengek meminta mainan. Apakah selain melihat, mata juga berfungsi untuk lapar akan segala yang belum dimiliki.

Tak kuasa aku mewujudkan, segala keinginan yang terkadang malah tak masuk akal. Semakin modern dunia ini, semakin banyak keinginan yang berjejalan untuk diraih. Seakan nafsu itu seperti semesta, yang senantiasa mengembang ke arah yang lebih luas lagi. Tak terkejar, bahkan oleh pandangan mata sekalipun.

Tak bisakah aku terus hidup hanya dengan menghidupi beberapa keinginan saja, makan, minum, tidur, bersosialisasi dan saling berbagi. Cukup itu saja, sesederhana itu tanpa embel-embel kemewahan yang terkadang sangat sulit diraih. Mampukah segala keinginan mulukku, kubunuh dengan membiarkannya letih tak berdaya untuk merengek manja.

Sepertinya hidupku hanya seperti manekin di etalase Mall. Seberapa seringnya mereka berganti baju, assesoris dan perhiasan, di bawah kemilau cahaya. Mereka akan tetap sama, dipandang hanya lewat cover-nya saja. Tak pernah dihargai selain harga baju, assesoris dan perhiasan yang dia kenakan saja. Bahkan dia telanjang sekalipun, nilainya sama—tak bernilai—karena tak ada manusia yang nafsu dengan manekin.

Diriku mungkin tak bernilai apa-apa. Apa yang kukenakan hanyalah seonggok benda yang ke depannya tak tahu akan masih kumiliki apa tidak. Karena sejatinya, nilai manusia bukan tentang apa-apa yang mereka kenakan. Tapi, apa yang mereka miliki di dalam jiwa mereka. Lantas, untuk apa kita berlomba-lomba mewujudkan segala keinginan untuk memiliki ini dan itu. Jika yang dihargai dalam diri manusia adalah apa yang di dalam dirinya.

Hidupi hidup dengan keinginan yang sekedarnya, karena semakin aku memanjakannya, semakin besar dia menarik jerat untuk mengikutinya, dan sampai mati pun tak pernah sanggup aku memuaskan inginku. Karena mereka senantiasa mengembang dan terus meluas tak terkendali.

Banjarbaru, 5 November 2013

Sumber foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s